presented by

PINTU INCUBATOR DI TAHUN KELIMA, MEMPERLUAS EKOSISTEM MODE INDONESIA–PRANCIS

SHARE THIS
106

Published by Sugar & Cream, Thursday 23 July 2026

Images courtesy of PINTU Incubator and JF3

Merayakan Kolaborasi Lintas Batas

Lima tahun perjalanan PINTU Incubator membawa mode Indonesia dan Prancis ke dalam ruang yang semakin luas—tempat talenta bertemu mentor, desainer bertukar perspektif, dan ide berkembang menjadi kolaborasi nyata. Memasuki 2026, perjalanan tersebut hadir melalui kolaborasi antara jenama Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli, serta dua koleksi hasil PINTU Residency yang lahir dari riset dan pertemuan langsung dengan komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.

Tahun ini, PINTU juga melangkah ke fase baru dengan dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia. Sebuah fondasi yang diharapkan dapat menjaga perjalanan program tetap berkelanjutan, sekaligus memperluas ruang geraknya dalam mendukung ekosistem mode Indonesia.

Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026, di JF3 Media Room, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, PINTU memperkenalkan perkembangan program tahun ini, berbagai kolaborasi yang telah berlangsung, serta para peserta dan koleksi yang akan hadir di JF3 Fashion Festival 2026 pada 22–29 Juli mendatang.

PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie (IFI). Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 brand dan desainer.

Tahun ini, 39 pendaftar mengikuti proses seleksi. Sepuluh peserta kemudian terpilih menjalani program inkubasi, dengan lima di antaranya dikurasi untuk membawa koleksi mereka ke JF3 Fashion Festival 2026. Di balik proses tersebut, PINTU percaya bahwa perjalanan seorang talenta tidak berhenti pada kreativitas. Ada proses belajar, eksplorasi, percakapan, dan kesempatan untuk melihat karya dari sudut pandang yang lebih luas.

Soegianto Nagaria, Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, menekankan pentingnya ekosistem yang dapat mendampingi talenta secara konsisten.

“Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang,” ujar Soegianto Nagaria.

Bagi Carol Meyer, Cultural Attaché at the French Embassy in Indonesia and Representative of Institut français d’Indonésie (IFI), perjalanan PINTU juga berangkat dari sebuah gagasan untuk membuka pintu di antara dua negara: membantu profesional Indonesia mengenal dan mengakses pasar Prancis, sekaligus memberi kesempatan bagi profesional Prancis untuk menemukan kekayaan gaya hidup, tradisi, dan craftsmanship Indonesia.

Dalam lima tahun, program ini telah melibatkan lebih dari 160 profesional dari berbagai negara. Koneksi yang terbangun pun semakin kuat, mempertemukan dua ekosistem mode melalui program inkubasi, akselerasi, residensi, pertukaran jejaring, serta berbagai kolaborasi.

“Gagasan awalnya adalah menciptakan jembatan jangka panjang antara dua ekosistem mode kita. Jembatan ini mulai menjadi semakin kuat antara dua benua dan komunitas mode kita,” ujar Carol.

Fondasi tersebut dibangun melalui program inkubasi selama tujuh bulan yang mempertemukan talenta muda dengan mentor dan profesional industri dari Indonesia dan Prancis melalui sesi pengembangan, pertukaran pengetahuan, serta jejaring daring dan luring. Seiring waktu, PINTU berkembang dari inkubasi menuju akselerasi, menghadirkan mentoring jangka panjang dan membuka hubungan yang lebih berkelanjutan dengan jenama serta mitra industri.

Berbagai delegasi, pertukaran jejaring, pertemuan profesional, seminar, dan kolaborasi dengan institusi di kedua negara turut memperluas percakapan. Bagi Carol, perjalanan ini bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga pertukaran budaya dan kolaborasi yang mempertemukan para profesional untuk saling belajar, berbagi perspektif, dan menemukan kemungkinan baru bersama.

Dampaknya mulai terlihat dari semakin terbukanya kesempatan bagi desainer Indonesia untuk hadir di panggung internasional, termasuk mempresentasikan karya di Paris bersamaan dengan rangkaian Fashion Week. Di saat yang sama, koneksi baru terus terbentuk di antara desainer dan profesional dari kedua negara.

Presented by Magran Living

“Yang bisa saya katakan adalah sudah ada beberapa hasil yang terlihat. Salah satunya adalah berkembangnya kolaborasi dan berbagai proyek antara talenta Indonesia dan internasional melalui program inkubasi. Hasil lainnya adalah kesempatan bagi desainer mode Indonesia untuk mempresentasikan karya mereka di Paris bersamaan dengan Fashion Week. Dan mungkin ini belum banyak disebutkan sebelumnya, tetapi kami juga melihat bagaimana para desainer dan profesional mode kini mulai saling terhubung melalui berbagai kesempatan tersebut,” lanjut Carol.

Kini, PINTU tidak lagi sekadar menjadi jembatan. Akses yang terbuka semakin lebar, membawa kemungkinan baru bukan hanya bagi mode, tetapi juga bagi sektor kreatif lainnya. Di saat yang sama, PINTU mulai membangun sebuah platform kolaboratif jangka panjang yang memungkinkan lebih banyak koneksi tumbuh secara mandiri, terutama di antara talenta-talenta muda Indonesia dan Prancis.

Demikian halnya dengan Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia, proses tersebut bukan tentang memberikan jawaban yang sama kepada setiap peserta. Justru, yang penting adalah memberi mereka ruang untuk menemukan arah sendiri.

“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat. PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu—mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri,” ujar Thresia Mareta.

Karena itu, program PINTU tidak hanya berbicara tentang kreativitas, tetapi juga tentang bagaimana sebuah jenama dapat tumbuh dan memahami industrinya. Pada 2026, peserta mengikuti 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, hingga styling, bersama 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.

Setelah melalui kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk membawa karya mereka ke JF3 Fashion Festival 2026: dua brand, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Masing-masing hadir dengan pendekatan yang berbeda, dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, aksesori yang dikembangkan bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menempatkan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab produksi sebagai bagian dari proses kreatif.

Di jalur Accelerator, DENIMITUP mempertemukan pendekatan kreatifnya dengan label Prancis TAREET dalam sebuah kolaborasi pengembangan koleksi. Sementara itu, Lil Public membawa langkahnya lebih jauh ke Paris melalui partisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré pada awal Juli 2026—sebuah pengalaman yang mempertemukan jenama Indonesia dengan lingkungan pendidikan mode internasional.

Sementara itu, PINTU Residency kembali menghadirkan ruang pertemuan yang lebih intim. Memasuki penyelenggaraan keduanya, dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis menjalani residensi selama empat bulan, dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.

Berlangsung dari April hingga Juli 2026, program ini mengajak para peserta melakukan riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, dan mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan serta budaya.

Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan GARUDA. Koleksi ini mempertemukan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, sekaligus membawa simbol Garuda ke dalam interpretasi kontemporer tentang kekuatan, kebebasan, dan identitas.

Di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan AU LARGE, terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa. Batik, struktur tailoring, dan referensi seragam bertemu dalam siluet kontemporer yang menjadi hasil dari proses riset dan pertukaran lintas budaya.

Kedua koleksi tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026. Lebih dari sekadar hasil akhir, proses di baliknya menjadi bagian penting dari perjalanan—mempertemukan desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda dalam satu ruang kreatif.

Di tengah perjalanan tersebut, PINTU juga mulai menyiapkan fondasi untuk langkah berikutnya. Dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan program sekaligus memperluas dampaknya bagi ekosistem mode.

Pembentukan yayasan ini akan mengukuhkan PINTU sebagai entitas hukum yang mandiri, profesional, dan akuntabel, sekaligus memperkuat tata kelola program agar dapat berjalan secara lebih transparan dan berkelanjutan. Fondasi tersebut juga diharapkan membuka ruang kemitraan yang lebih luas dengan berbagai institusi di dalam maupun luar negeri, sekaligus memperkuat jejaring yang mendukung perkembangan program dan para pesertanya.

Bagi para peserta, langkah ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap pasar, peluang ekspor, pameran internasional, serta jejaring mentor dan profesional yang dapat mendukung perkembangan mereka dalam jangka panjang. Dengan struktur yang lebih kuat, PINTU juga memiliki ruang untuk mengembangkan program secara lebih rutin dan konsisten, sekaligus memperluas ekosistem mode Indonesia ke kancah global.

Lima tahun setelah membuka pintu pertamanya, PINTU kini melangkah lebih jauh—dari ruang belajar dan inkubasi hingga runway, Paris, studio artisan, dan kolaborasi lintas negara. Sebuah perjalanan yang terus mempertemukan talenta, gagasan, dan kemungkinan baru bagi masa depan mode Indonesia.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK