presented by

JF3 FASHION FESTIVAL 2026 — RE-SEE FRENCH DESIGNERS × PINTU RESIDENCY

SHARE THIS
94

Published by Sugar & Cream, Tuesday 08 September 2026

Images Courtesy of JF3 Fashion Festival

A Closer Look

Ada hal yang berbeda ketika sebuah koleksi bisa dilihat dari jarak dekat. Pada Senin sore, 27 Juli, JF3 Fashion Tent di Summarecon Mall Kelapa Gading terasa sedikit berbeda dari suasana runway biasanya. Dalam sesi Re-See French Designers × PINTU Residency, koleksi-koleksi yang sebelumnya hadir di runway kini bisa dilihat lebih dekat—memberi kesempatan untuk memperhatikan detail material, permainan siluet, hingga konstruksi yang mungkin luput ketika busana bergerak di atas catwalk.

Bukan lagi sekadar melihat satu look melintas, media bisa mengambil waktu untuk mengamati kain, tekstur, dan detailnya dari dekat, sekaligus berbincang langsung dengan para desainer dan PINTU Residents mengenai proses kreatif di baliknya. Enam koleksi hadir dengan karakter yang berbeda, membawa cerita tentang pertemuan budaya, craftsmanship, memori, hingga cara melihat fashion kontemporer dari perspektif yang lebih personal.

Presented by Interni Cipta Selaras

GARUDA — Mickaël Nana × Beatrice Angelica
GARUDA
mempertemukan desainer Prancis Mickaël “Marlon” Nana dan desainer Indonesia Beatrice Angelica dalam dialog antara tailoring Barat dan warisan tekstil Indonesia. Dikembangkan melalui PINTU Residency Program, koleksi ini berangkat dari semangat Bhinneka Tunggal Ika serta foto-foto arsip Indonesia yang memperlihatkan bagaimana tradisi busana lokal dan pengaruh Eropa pernah berdampingan.

Sepuluh tampilan menghadirkan bahu lebar, jaket berstruktur, dan celana berpotongan lebar yang diseimbangkan dengan siluet longgar terinspirasi busana Indonesia. Denim, beludru, tailoring, dan outerwear teknis bertemu dengan tekstil tenun tangan yang dikembangkan bersama perajin perempuan Lombok, menggunakan teknik tradisional dan pewarna alami. Hasilnya terasa seperti wardrobe yang mempertemukan dua pendekatan tanpa harus menghilangkan karakter masing-masing.

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

AU LARGE — Lisa Rayar × Gabriel Marcella
Jika GARUDA menemukan titik temu melalui tekstil dan tailoring, AU LARGE karya Lisa Rayar dan Gabriel Marcella menemukannya melalui laut. Berarti “di lepas pantai” dalam bahasa Prancis, koleksi ini mempertemukan tradisi maritim Prancis dengan kehidupan masyarakat pesisir Jawa Utara, termasuk penelitian Gabriel mengenai Sedekah Laut.

Dua belas tampilan menerjemahkan hubungan tersebut melalui tailoring terstruktur, siluet oversized, draperi, tali, dan konstruksi berlapis yang mengingatkan pada layar serta jaring ikan. Batik handmade, denim, katun, rajutan, dan tekstil transparan melengkapi eksplorasi, termasuk motif batik khusus yang mempertemukan inspirasi sarung Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis.

“Laut sering dipandang sebagai batas. Melalui AU LARGE, kami ingin menunjukkan bahwa laut juga bisa menjadi tempat pertemuan, di mana keahlian kerajinan, tradisi, dan gestur yang sama menghubungkan orang-orang lintas budaya.” — Lisa Rayar & Gabriel Marcella —

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

FAS DELMAN — TAREET × DENIMITUP
Pertemuan budaya mengambil bentuk yang lebih playful dalam FAS DELMAN dari TAREET × DENIMITUP. Koleksi ini mempertemukan elemen wardrobe Indonesia dan Senegal untuk membentuk lemari pakaian hibrida. Namanya sendiri membawa simbol dari kedua budaya: Fas, kata Wolof untuk kuda, dan delman, kereta kuda tradisional Indonesia.

Dari sana, volume menjadi salah satu permainan utama. “The twist” mengambil inspirasi dari cara djellaba membentuk volume ketika tubuh bergerak, lalu menerjemahkannya ke dalam streetwear sehari-hari yang lebih kontemporer. Siluet divisualisasikan melalui maket tiga dimensi dan dipertemukan dengan craftsmanship para pengrajin berbasis Indonesia, menghasilkan pakaian yang mengutamakan kenyamanan tanpa kehilangan karakter.

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

STONEHAVEN — Rohan Mirza
Dunia yang berbeda hadir lewat STONEHAVEN dari Rohan Mirza. Koleksi ini bergerak di antara budaya internet, memori, dan fantasi, dengan reruntuhan kastil dari game Call of Duty dibayangkan kembali sebagai sebuah taman publik tempat berlangsungnya upacara yang berada di antara fashion show, teater sosial, dan ritual.

Di dalam dunia yang bernuansa vampir dan hyperreal ini, referensi yang biasanya terasa gelap justru mendapat makna yang lebih lembut. Senjata tidak lagi menjadi simbol kehancuran, melainkan perlindungan terhadap cinta dan ikatan. Siluet yang menyerupai mainan, bentuk bulat dari katun fleece, dan eksplorasi teknologi 3D membuat StoneHaven terasa playful, sedikit absurd, sekaligus dekat dengan nostalgia budaya populer.

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

LOUISEGUARD PAP — Louise Marcaud
Bagi LOUISEGUARD PAP, titik berangkatnya justru datang dari kenangan Louise Marcaud selama kunjungannya ke Indonesia. Lurik, batik, kartu pos vintage, suvenir hotel, kemasan produk, hingga pengalaman menyaksikan Sendratari Ramayana menjadi fragmen visual yang diterjemahkan ke dalam warna, grafis, dan detail koleksi.

Kenangan tersebut kemudian bertemu dengan dunia kolam renang dan lifeguard yang merupakan profesi Louise sebelumnya, kemudian dituangkab dalam sebuah kisah musim panas imajiner. Tailoring bergaris mengingatkan pada kursi santai dan payung di tepi kolam, sementara knitwear, bikini, celana bermuda, celana capri, dan gaun ringan melengkapi koleksi.Beberapa kain yang digunakan bahkan dibawa Louise dari kunjungan sebelumnya ke Indonesia, menciptakan pertemuan yang terasa personal antara tailoring Prancis dan craftsmanship Indonesia. Produksi terbatas dan penggunaan deadstock turut menjadi bagian dari pendekatannya.

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

READY TO WEAR — 30%70
Sementara itu, READY TO WEAR dari Fengyuan DAI melalui label Paris-nya, 30%70, menawarkan pendekatan yang lebih understated. Nama 30%70 sendiri berangkat dari gagasan bahwa keseimbangan tidak selalu harus simetris—sebuah prinsip yang kemudian diterjemahkan ke dalam dialog antara Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, serta elegansi dan kenyamanan. Lahir dari latar belakang Tionghoa dan tumbuh besar di Prancis, Fengyuan membawa dua perspektif budaya tersebut ke dalam cara pandangnya terhadap fashion.

Siluet timeless, material alami, tekstil daur ulang, teknik artisan, dan volume yang nyaman membentuk karakter genderless label ini. Palet warna lembut serta tekstur yang khas memberikan kualitas puitis pada busana. Sebelum mendirikan 30%70 pada 2024, Fengyuan DAI mengembangkan pengalaman di sejumlah rumah mode ternama dunia.

Untuk katalog lengkapnya bisa diunduh di sini

Dari tekstil, siluet, hingga konstruksi, enam koleksi ini memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat mengambil bentuk yang begitu beragam. Dilihat lebih dekat, detail-detail kecilnya pun membuka cerita lain—tentang proses, pertemuan budaya, dan cara masing-masing desainer menerjemahkan dunia ke dalam busana.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK