presented by

HOUSE OF TUGU OLD TOWN JAKARTA NAMED AMONG TIME MAGAZINE’S WORLD’S GREATEST PLACES 2026

SHARE THIS
96

Published by Sugar & Cream, Tuesday 07 April 2026

Images courtesy of House of Tugu Jakarta

Indonesia’s Cultural Legacy on the Global Stage

Tersembunyi di antara jalan-jalan bersejarah Kota Tua Jakarta, House of Tugu Old Town Jakarta menghadirkan sebuah ruang di mana sejarah, seni, dan cerita budaya Indonesia berpadu dalam pengalaman yang kaya karakter. Dikenal melalui koleksi artefak bersejarah serta interior yang sarat narasi, tempat ini mengajak pengunjung menelusuri berbagai lapisan sejarah Nusantara.

Kini, House of Tugu Old Town Jakarta resmi masuk dalam daftar TIME Magazine’s World’s Greatest Places 2026, menjadikannya satu-satunya destinasi dari Indonesia yang termasuk dalam kurasi global bergengsi tersebut tahun ini. Pengakuan ini menempatkan House of Tugu di antara berbagai destinasi dunia yang dinilai menghadirkan pengalaman luar biasa sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat.

Didirikan pada tahun 1923, TIME Magazine telah lama dikenal sebagai salah satu publikasi paling berpengaruh di dunia. Berbagai pengakuannya—seperti Person of the Year, TIME100 Most Influential People, serta World’s Greatest Places—sering menjadi rujukan global dalam menyoroti tokoh, gagasan, dan destinasi yang membentuk percakapan internasional.

Bagi keluarga Tugu, pengakuan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar pencapaian dalam industri perhotelan. Penghargaan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan panjang untuk menjaga warisan budaya Indonesia yang semakin jarang ditemukan.

Kisah ini bermula pada tahun 1960-an ketika pendiri Tugu, Anhar Setjadibrata, melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Nusantara. Dalam perjalanannya, ia menyaksikan banyak artefak bersejarah yang terabaikan serta tradisi yang perlahan menghilang. Ia kemudian mulai mengumpulkan benda-benda tersebut sebagai upaya menyelamatkan jejak sejarah. Bersama istrinya, Wedya Julianti, langkah tersebut berkembang menjadi fondasi lahirnya Tugu—sebuah inisiatif yang berkomitmen menjaga identitas budaya Indonesia melalui sejarah yang tetap hidup.

Presented by Coulisse | INK

Semangat tersebut kini diteruskan oleh Lucienne Anhar, co-owner Tugu Hotels & Restaurants Group, “Kami tidak pernah memulai dengan tujuan membangun jaringan hotel dan restoran. Yang ingin kami lakukan adalah menjaga kisah tentang masyarakat Indonesia agar tetap dikenang melalui ruang, artefak, dan pengalaman yang dapat dirasakan oleh para pengunjung.”

Dalam ulasannya, TIME Magazine juga menyoroti House of Tugu Jakarta sebagai ruang yang memperkenalkan kembali warisan budaya Peranakan kepada publik luas. Melalui koleksi seni, arsitektur, serta narasi sejarah yang hadir di setiap sudutnya, tempat ini menghadirkan pengalaman yang menghubungkan pengunjung dengan lapisan sejarah Jakarta dan Nusantara.

Selain menghadirkan ruang yang sarat sejarah, House of Tugu Jakarta juga menawarkan pengalaman kuliner yang menjadi bagian dari perjalanan budaya tersebut. Di dalamnya terdapat Jajaghu, destinasi kuliner Nusantara yang mengangkat resep-resep leluhur dalam sajian yang elegan. Sementara itu, Babah Koffie by Kawisari menghadirkan suasana kafe bernuansa nostalgia yang merayakan warisan salah satu perkebunan kopi tertua dari era kolonial di Jawa.

Ke depan, House of Tugu Jakarta akan terus memperkaya pengalaman budaya yang ditawarkan. Pada Mei 2026, properti ini akan memperkenalkan De Tiger, sebuah speakeasy poolside dengan live music yang terinspirasi dari kehidupan malam Batavia pada masa lampau. Selanjutnya pada Juni 2026, The Huang Museum akan dibuka untuk publik, menampilkan ribuan artefak dari arsip koleksi keluarga Tugu, termasuk berbagai koleksi yang belum pernah dipamerkan sebelumnya.

Pengakuan dari TIME Magazine ini juga mencerminkan meningkatnya perhatian wisatawan global terhadap destinasi yang menawarkan makna, sejarah, dan keaslian pengalaman. House of Tugu Old Town Jakarta menunjukkan bagaimana sebuah ruang hospitality dapat menjadi tempat di mana warisan budaya Indonesia terus hidup—melalui cerita, seni, kuliner, dan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK