PARADE BUDAYA ASIA TENGGARA OLEH AFDS DI JF3 2025
Published by Sugar & Cream, Friday 08 August 2025
Images courtesy of JF3
Myths, Majesty & Midsummer
JF3 Fashion Festival 2025 kembali menjadi ruang penting bagi mode dan budaya Asia Tenggara. Tahun ini, ASEAN Fashion Designers Showcase (AFDS) menghadirkan pertunjukan bertajuk Myths, Majesty & Midsummer: A Southeast Asian Couture Odyssey—sebuah eksplorasi visual yang memadukan warisan budaya dengan sentuhan couture yang modern.

Di atas panggung, elemen tradisi dari berbagai negara ASEAN diterjemahkan ke dalam busana elegan dan penuh detail. Siluet tegas, tekstur kaya, dan hiasan yang dramatis membentuk koleksi yang tak hanya indah, tapi juga bercerita. Sebuah perjalanan gaya yang merayakan akar, identitas, dan imajinasi kawasan.
Tiga desainer dari Asia Tenggara tampil dalam parade busana yang memukau, masing-masing membawa cerita khas dari negara asal mereka. Lewat karya mereka, penonton diajak menyelami dunia di mana tradisi, kebanggaan budaya, dan imajinasi berpadu dalam tampilan yang memikat.

Pertunjukan ini mengalir seperti sebuah cerita bergaya, dimulai dari kehalusan sutra Laos, simbol gajah megah dari Thailand, hingga nuansa dongeng hutan dari Vietnam. Setiap koleksi berdiri kuat dengan karakter sendiri, namun tetap menyatu dalam satu perayaan akan jati diri, keindahan, dan semangat baru dari Asia Tenggara.
Semua dimulai dari keheningan—yang anggun, yang bermakna. Langkah demi langkah, siluet bergaya old money melintas di atas catwalk. Mereka tak berteriak, tapi menyampaikan sesuatu: cerita yang dibalut sutra Laos, ditenun tangan dengan kesabaran dan cinta. Inilah The Whisper of Silk, karya Bandid Lasavong. Warna-warnanya lembut tapi punya wibawa, seperti ivory, champagne, antique gold, dan soft jade. Di tiap potongan ada detail kecil—bordir emas, mutiara mungil, struktur yang presisi. Semuanya bicara tentang kemewahan yang tenang, yang tak butuh sorotan berlebihan.

Presented by Coulisse | INK
Ini adalah quiet luxury ala Asia Tenggara—elegan, percaya diri, dan punya akar. Sebagai pendiri label MEN Folder, Bandid tak hanya merancang pakaian, tapi menjahit ulang hubungan kita dengan warisan. Ia menyatukan tradisi dan modernitas dalam busana pria yang terasa dekat, namun tetap relevan di panggung dunia.
Kemudian, di atas panggung, Thailand—bukan dengan bisikan halus, tapi dengan langkah yang mantap dan suara yang menggema. Koleksi The Pulse of Pride dari Pitnapat Yotinratanachai terasa seperti pernyataan dari hati: tentang siapa kita, dan dari mana kita berasal.

Gajah, simbol kebanggaan nasional, tidak hanya muncul sebagai motif. Ia hidup dalam pahatan di permukaan kain, emboss pada kulit, hingga detail logam menyerupai gading yang dibentuk ulang. Ada jubah panjang yang mengalir, mengingatkan pada gerakan seekor gajah yang tenang namun penuh wibawa. Warna-warnanya memikat, seperti biru safir, hitam onyx, dan perunggu keemasan. Tiga nada yang menyatu seperti cahaya matahari sore yang menari di permukaan kuil tua. Setiap potongan terasa seperti karya arsitektur kecil: tajam, terstruktur, tapi penuh kejutan.
Koleksi ini tak hanya bicara soal busana, tapi juga tentang rasa memiliki. Tentang suara yang tak perlu ditinggikan untuk terdengar lantang. Pitnapat, yang dikenal lewat rancangan kostum teatrikalnya dan dedikasinya mempromosikan budaya Thailand, membawa kita pulang—dengan kepala tegak dan dada lapang.

Sementara itu, Nicky Vu dari Vietnam menghadirkan The Dream Enchanted—koleksi yang terasa seperti mimpi. Terinspirasi dari A Midsummer Night’s Dream, ia merangkai fantasi ala Shakespeare dengan keanggunan feminin Vietnam. Brokat, tulle, dan detail halus bermekaran seperti bunga liar. Siluetnya mengalir lembut—ada yang membentuk tubuh, ada yang melayang seperti kabut. Tweed dan denim memberi sentuhan tak terduga, menyeimbangkan lembut dan kuat.
Warna pistachio, kuning mentega, dan putih porselen berpadu dengan biru senja dan hitam obsidian. Lembut tapi tegas, romantis tapi penuh kendali. Sebuah dongeng yang tak sepenuhnya manis—dan justru karena itu, terasa nyata. Gaya feminin yang tenang dipadukan dengan eksplorasi tekstur menciptakan drama yang tetap anggun—menunjukkan kepekaan artistik Nicky sebagai pendiri DeTHEIA sekaligus pengajar fashion di Hanoi.

Finale… A Unified Tapestry. Penutup pertunjukan menjalin ketiga cerita menjadi satu harmoni visual yang memesona. Tiga visi, satu panggung. Siluet Laos yang anggun, simbolisme kuat dari Thailand, dan imaji magis Vietnam berpadu dalam satu rangkaian akhir yang utuh. Bukan sekadar parade busana, tapi pertemuan gaya, budaya, dan cerita—mewakili wajah Asia Tenggara yang berani, berakar, dan terus berkembang.
TACO HADIRKAN PROSES PRODUKSI BERKELANJUTAN MELALUI ZERO WASTE MANUFACTURING
TACO memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan melalui penerapan zero waste manufacturing, dengan menghadirkan proses produksi yang lebih efisien,...
read moreTHE LANGHAM, JAKARTA: THE LAUNCH OF “THE LANGHAM AFTERNOON TEA BOOK”
Discover an elegant Afternoon Tea journey inspired by The Langham Afternoon Tea Book, now presented at ALICE by Tom Aikens
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read moreXIAOMI INDONESIA UNVEILS THE XIAOMI ELECTRIC SCOOTER 6 SERIES
An effortless approach to urban commuting, the Xiaomi Electric Scooter 6 Series brings together performance, portability, and connected living in one...
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read more

