presented by

DARI SKETSA KE RUNWAY, JF3 MEMBENTUK GENERASI BARU DESAINER INDONESIA MELALUI FUTURE FASHION DESIGNER 2026

SHARE THIS
98

Published by Sugar & Cream, Thursday 25 June 2026

Images Courtesy of JF3

Mempersiapkan Masa Depan Fashion

Menjadi desainer hari ini berarti lebih dari sekadar menciptakan busana yang menarik secara visual. Di tengah lanskap mode yang terus berkembang, para desainer dituntut untuk mampu berpikir konseptual, memahami proses produksi, beradaptasi dengan perubahan, serta menerjemahkan ide menjadi karya yang memiliki kualitas dan relevansi. Kebutuhan akan talenta yang siap menghadapi realitas industri inilah yang mendorong lahirnya berbagai inisiatif pengembangan desainer muda di Indonesia.

Juri, Peserta dan Partner Future Fashion Designer (FFD)

Berangkat dari semangat tersebut, JF3 menghadirkan Future Fashion Designer (FFD) 2026, sebuah program yang dirancang untuk mempersiapkan generasi baru desainer Indonesia melalui pengalaman yang mendekati dunia profesional. Sebagai evolusi dari Future Fashion Award (FFA), FFD mengembangkan format kompetisi menjadi sebuah perjalanan pembelajaran yang lebih komprehensif, menggabungkan kreativitas, keterampilan teknis, pemecahan masalah, hingga kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan dunia profesional yang sesungguhnya.

Melalui media gathering yang berlangsung dalam format intimate talkshow di GAFOY, Summarecon Mall Kelapa Gading, pada Kamis, 18 Juni 2026, JF3 mempertemukan Thresia Mareta, Co-Founder dan Advisor JF3, bersama Susan Budihardjo, Hian Tjen, serta Rinaldy A. Yunardi dalam diskusi mengenai regenerasi talenta, pendidikan fashion, serta tantangan yang dihadapi generasi desainer muda Indonesia saat ini.

Arron Bryan dengan hasil karyanya di tema 4 yaitu Multifunction

Dikenal melalui rancangan couture dengan siluet feminin dan detail yang elegan, Hian Tjen turut membagikan pandangannya mengenai pentingnya membangun identitas kreatif. Sementara itu, aksesori desainer Rinaldy A. Yunardi yang dikenal lewat karya-karya statement dan craftsmanship yang kuat menyoroti pentingnya regenerasi talenta dalam dunia mode Indonesia.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa industri fashion saat ini membutuhkan lebih dari sekadar ide-ide kreatif. Seorang desainer dituntut mampu menerjemahkan gagasan menjadi karya yang matang, memahami proses produksi, membangun identitas yang kuat, serta memiliki kemampuan beradaptasi terhadap dinamika industri yang terus berkembang. Melalui Future Fashion Designer 2026, JF3 berupaya menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan para peserta mengalami proses tersebut secara langsung.

Koleksi Arron Bryan dari tema 2 –  The Curve dan tema 3  Re-Heritage

Bagi Thresia Mareta, seorang desainer tidak cukup hanya mampu menghasilkan konsep yang menarik. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk mewujudkan ide tersebut menjadi karya yang memiliki kualitas. Pemahaman terhadap material, warna, konstruksi, hingga proses produksi menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari profesi seorang desainer.

“Bukan cuma asal bisa, tapi harus bagus,” ujar Thresia. Menurutnya, industri fashion membutuhkan desainer yang mampu menerjemahkan ide menjadi karya dengan kualitas yang baik, mulai dari konsep hingga eksekusinya.

Karya milik Levia, Nabila Karimah, Arron Bryan bertajuk Multifuction

Kolaborasi dengan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute (SB FFI) berangkat dari visi yang sama dalam mempersiapkan talenta muda menghadapi ekosistem fashion Indonesia yang terus berkembang. Bagi JF3, institusi pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk desainer yang siap memasuki dunia profesional. Pemilihan SB FFI sebagai partner didasarkan pada kesamaan komitmen dalam mendukung perkembangan industri fashion Indonesia sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh bagi para peserta. Program ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas, tetapi juga menghadirkan pengetahuan, pengalaman, dan proses yang dapat menjadi bekal jangka panjang bagi perjalanan karier mereka.

Presenetd by Interni Cipta Selaras

Untuk memperkaya proses tersebut, FFD 2026 melibatkan 12 juri profesional dari berbagai disiplin. Kehadiran para juri dengan latar belakang yang beragam memungkinkan peserta mendapatkan masukan yang lebih luas dan memahami bahwa sebuah karya fashion tidak hanya dinilai dari sisi estetika, tetapi juga dari konsep, presentasi, relevansi, hingga kemampuannya menjawab kebutuhan konsumen dan dinamika industri kreatif. Setiap juri membawa pengalaman dan sudut pandang yang berbeda, menghadirkan proses evaluasi yang lebih kaya sekaligus menantang para peserta untuk melihat karya mereka dari berbagai perspektif.

Perjalanan para peserta dimulai melalui Prototype, tantangan pertama yang menjadi titik awal untuk melihat identitas kreatif masing-masing finalis. Dengan material yang telah ditentukan, mereka diminta menerjemahkan ide menjadi sebuah karya yang mampu merepresentasikan karakter desain mereka. Tahap ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana para peserta membangun konsep, mengembangkan gagasan, dan menyelesaikan persoalan desain sejak awal proses kreatif.

Koleksi dari Tashannie Abigail Loekman di tema 5  Opposite

Tantangan berikutnya, The Curve, membawa para peserta keluar dari ruang studio untuk mencari inspirasi dari lingkungan sekitar. Melalui observasi terhadap bentuk, garis, dan siluet arsitektur modern, mereka ditantang mengolah pengalaman visual menjadi karya fashion yang memiliki karakter kuat. Tantangan ini mengajarkan bahwa inspirasi dapat ditemukan di berbagai tempat dan sering kali hadir dari hal-hal yang tidak terduga.

Melalui Re’Heritage (Reborn Heritage), para finalis kemudian diajak mengeksplorasi kembali kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang lebih kontemporer. Dengan memanfaatkan teknik digital print, mereka diminta menciptakan interpretasi baru terhadap warisan budaya yang dimiliki Indonesia. Tantangan ini menjadi pengingat bahwa tradisi dan budaya lokal tetap memiliki relevansi yang kuat dalam perkembangan fashion masa kini, sekaligus membuka ruang untuk menghadirkan perspektif baru terhadap identitas Indonesia.

Koleksi Arron Bryan dan Azzahra Najmanisa di tema 5  Opposite

Tema berikutnya, Multifunction, menguji kemampuan peserta dalam merancang busana yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki fungsi yang lebih luas. Selain mempertimbangkan aspek estetika, mereka dituntut menghadirkan solusi desain yang fleksibel dan relevan dengan kebutuhan gaya hidup modern. Tantangan ini mencerminkan bagaimana fashion saat ini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan, efisiensi, dan nilai guna sebuah produk.

Sebagai tantangan terakhir, para finalis menghadapi Opposite, sebuah proyek yang mendorong mereka berpikir lebih konseptual. Berangkat dari sebuah aksesori sebagai sumber inspirasi, peserta diminta menciptakan karya yang berlawanan dari objek tersebut, baik dari segi bentuk, tekstur, siluet, maupun makna, namun tetap memiliki keterkaitan yang kuat. Tantangan ini menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam membangun narasi desain sekaligus menerjemahkan gagasan abstrak menjadi karya yang matang dan utuh.

Koleksi Lievia dan Tashannie dari tema 1  Prototype

Bagi Susan Budihardjo, keseluruhan proses tersebut merupakan bagian penting dari pembentukan seorang desainer. Selama program berlangsung, para peserta tidak hanya menerima masukan dari mentor, juri, dan praktisi industri, tetapi juga belajar untuk mengambil keputusan kreatif mereka sendiri.

“Masukan boleh datang dari banyak orang, tetapi pada akhirnya keputusan tetap ada di tangan desainer itu sendiri,” ujar Susan. Menurutnya, kemampuan untuk menyaring kritik, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan tetap percaya pada visi kreatif yang dibangun merupakan bekal penting ketika memasuki dunia profesional.

Koleksi dari Nabila Karimah dan Agatha Lievia di tema 5 Opposite

Susan juga menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan global. Menurutnya, generasi desainer saat ini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap informasi dibandingkan generasi sebelumnya. Namun di tengah kemudahan tersebut, para desainer muda tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi salah satu kekuatan terbesar Indonesia. Justru melalui eksplorasi budaya, tradisi, dan identitas lokal, mereka memiliki peluang untuk menghadirkan karya yang tidak hanya relevan secara global, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan autentik.

Pandangan serupa disampaikan oleh Hian Tjen yang menekankan pentingnya eksplorasi dan pencarian identitas dalam perjalanan seorang desainer.

“Tren akan terus berubah, tetapi yang membedakan seorang desainer adalah identitas dan sudut pandang yang dimilikinya,” kata Hian Tjen. Karena itu, para peserta didorong untuk terus menggali gagasan, memahami konsep yang mereka bangun, dan berani menemukan suara kreatif mereka sendiri.

Sementara itu, Rinaldy A. Yunardi melihat Future Fashion Designer sebagai bagian penting dari proses regenerasi fashion Indonesia. Menurutnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi pemenang, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya dalam membuka ruang belajar, membangun kepercayaan diri, dan memberikan pengalaman nyata bagi para peserta. Program seperti ini dinilai memiliki peran penting dalam melahirkan generasi baru yang akan membawa industri fashion Indonesia berkembang di masa depan.

Setelah melalui lima tahapan tantangan dan proses penjurian yang intensif, Arron Bryan Fernaldy Wongso, desainer muda asal Jayapura, Papua, berhasil meraih gelar Future Fashion Designer 2026. Karyanya dinilai mampu menunjukkan konsistensi konsep, kemampuan teknis, serta kualitas eksekusi sepanjang rangkaian kompetisi. Namun lebih dari sekadar pencapaian individu, keberhasilan program ini terletak pada bagaimana setiap peserta memperoleh pengalaman yang memperkaya perjalanan kreatif mereka dan memperluas pemahaman terhadap dunia fashion profesional.

Melalui kombinasi antara pendidikan, pendampingan, eksplorasi kreatif, dan pengalaman yang mendekati realitas industri, Future Fashion Designer 2026 menunjukkan bahwa proses menjadi desainer tidak hanya dimulai dari sebuah sketsa, tetapi juga dari keberanian untuk belajar, bereksperimen, menerima masukan, dan terus berkembang seiring perjalanan kreatif yang dijalani. Dari ide awal hingga karya akhir, setiap tahap menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk generasi baru desainer Indonesia sekaligus mempersiapkan masa depan fashion yang lebih kuat, relevan, dan berkelanjutan.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK