presented by

SAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO

SHARE THIS
88

Published by Sugar & Cream, Friday 01 May 2026

Images courtesy of SAL Project

Scanning Memory in Bloom: Angki Purbandono’s Poetic Meditation on Time, Loss, and Light

Pameran tunggal“Berbunga-Bunga” menandai kembalinya Angki Purbandono dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia. Diselenggarakan oleh SAL Project, pameran ini berlangsung mulai 7 Februari hingga 5 April 2026 di Jakarta Art Hub Ranuza, Menteng, Jakarta Pusat. Final private viewing berlangsung pada 11 April 2026.

Selama lebih dari dua dekade, Angki dikenal lewat eksplorasinya menggunakan mesin pemindai (flatbed scanner) sebagai medium artistik—sebuah pendekatan dikenal teknik scanografi. Melalui teknik ini, ia “memindai” kehidupan secara harfiah sekaligus metaforis, menangkap cahaya, waktu, dan kesementaraan dalam citra digital yang puitis.

Dalam “Berbunga-Bunga”, bunga hadir sebagai medium refleksi personal dan spiritual. Berangkat dari pengalaman mendoakan orang tua yang telah tiada, Angki memaknai bunga sebagai jembatan antara kenangan dan kehadiran. Setiap hasil pindaian tidak hanya merekam bentuk visual, tetapi juga memuat lapisan emosi—tentang kehilangan, doa, dan cinta—yang terasa intim dan kontemplatif.

Presented by Coulisse | INK

Secara visual, bunga-bunga tersebut tampak melayang dalam ruang gelap yang hening, memancarkan cahaya seolah dari dalam dirinya. Estetika ini mempertegas gagasan tentang waktu yang “dibekukan”, menjadikan proses pemindaian sebagai semacam ritual kecil untuk mengabadikan sesuatu yang fana.

Kurator pameran Mikke Susanto, mengajak audiens melihat bunga bukan sekadar objek estetis, melainkan sebagai subjek yang hidup—memiliki daya, empati, bahkan “ingatan”. Melalui pendekatan yang menggabungkan sains, emosi, dan spiritualitas, karya-karya Angki dapat dimaknai sebagai arsip visual dan sebagai meditasi tentang relasi manusia dengan alam.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK