presented by

GALERI INDONESIA KAYA MEMBAWA BOROBUDUR MENEMBUS RUANG DAN WAKTU

SHARE THIS
74

Published by Sugar & Cream, Tuesday 15 September 2026

Images Courtesy of Galeri Indonesia Kaya

Ketika Warisan Masa Lalu Bertemu Ethical AI

Sejarah tidak selalu harus tinggal di balik halaman buku atau artefak yang tersimpan di ruang pamer. Melalui teknologi, kisah masa lalu dapat menemukan cara baru untuk kembali didekati, dipahami, bahkan dialami.

Gagasan tersebut hadir melalui Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, pengalaman imersif terbaru Galeri Indonesia Kaya yang memadukan sejarah, budaya, dan teknologi melalui delapan pengalaman berbasis Ethical AI. Gratis mulai 1 September 2026, program ini mengajak publik menelusuri relief, tokoh, lanskap, dan kisah di balik Borobudur melalui medium interaktif yang tetap berpijak pada riset dan validasi sejarah.

“Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan dan kekinian. Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis Ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin. Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Bagi kami, melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan cerita, nilai, dan identitas di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

Azhar Muhammad Fuad | Lia Marliana | Dr. Sri Margana, S.S., M.Hum. | Renitasari Adrian

Nama Purwacarita merujuk pada kisah tentang awal mula atau masa lampau. Sesuai namanya, pengalaman ini mengajak pengunjung menelusuri jejak Borobudur, dari tokoh-tokoh di balik pembangunannya hingga kisah dan pesan dalam reliefnya.

Presented by Coulisse | INK

Berkolaborasi dengan Bening Digital Indonesia sebagai business consultant dan Curaweda sebagai pengembang pengalaman berbasis AI, program ini berpijak pada riset dan fakta sejarah yang tervalidasi, termasuk asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra serta kosmologi Borobudur yang diterjemahkan melalui proyeksi visual, teater imersif, dan interaksi.

Kisah hukum sebab-akibat atau karma hadir melalui relief Karmawibhangga, sementara relief Avadana membawa cerita cinta dan kesetiaan Pangeran Sudhana dan Putri Manohara. Raja Samaratungga dan Putri Pramodhawardhani dari Wangsa Sailendra turut dihadirkan untuk mengenalkan keseharian dan visi di balik pembangunan hingga peresmian Borobudur.

Cerita-cerita tersebut kemudian diwujudkan melalui delapan fitur interaktif. Sapa Borobudur menjadi pengantar lanskap dan latar zaman berdirinya candi, Karmawibhangga dan Avadana menghadirkan kisah kedua relief melalui teater imersif, sementara Batu Carita mempertemukan pengunjung dengan Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara. Mandala mengajak pengunjung mengitari Borobudur melalui gawai sekaligus mengikuti rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk.

Perjalanan berlanjut melalui Jelajah Borobudur, Buku Carita, dan Harmoni Borobudur, yang membawa pengunjung menjelajahi candi dan kawasan sekitarnya, mengikuti perjalanan Putri Pramodhawardhani, serta melihat gambaran alam Borobudur di masa lalu bersama burung merak, rusa Jawa, dan gajah yang merespons gerak melalui sensor. Sebagai sajian utama, Asal Mula Borobudur The Movie hadir di Auditorium Galeri Indonesia Kaya untuk membawa pengunjung lebih dekat pada kisah penciptaan Borobudur dan relief-reliefnya.

Di balik keseluruhan pengalaman tersebut, Ethical AI digunakan sebagai alat bantu visualisasi, sementara akurasi sejarah tetap menjadi landasan utama. Data dan narasi yang bersumber dari prasasti, termasuk Prasasti Karangtengah (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M), hingga penggambaran busana, artefak, dan arsitektur, telah melalui kurasi serta validasi akademik oleh Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, dan validasi profesional oleh Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif juga melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai rujukan visual.

“Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli. Melalui Purwacarita Borobudur, kami ingin menunjukkan bahwa AI dapat digunakan secara etis untuk memperkuat riset sekaligus menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dalam cara yang lebih dekat dengan generasi muda. Berkolaborasi dengan Galeri Indonesia Kaya, kami menghadirkan sejarah Borobudur bukan lagi semata sebagai cerita di buku, tetapi sebagai pengalaman visual yang memungkinkan pengunjung menelusuri lorong waktu, berinteraksi, dan menggali nilai serta pesan moral yang terkandung di dalamnya,” ujar Azhar Muhammad Fuad, Founder dan CEO Curaweda.

Pendekatan inilah yang membuat proses kurasi menjadi bagian penting dalam pengembangan karya. “Sebagai kurator sejarah, tantangan terbesar bukan sekadar membuat sejarah terlihat menarik secara digital, tetapi menerjemahkan kompleksitas sejarah Borobudur ke dalam medium baru tanpa kehilangan konteks dan nuansanya. Karena itu, setiap narasi, karakter, busana, artefak, dan elemen visual yang ditampilkan perlu ditelusuri dan divalidasi berdasarkan sumber sejarah yang relevan. Bagi kami, teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah kepada publik, selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi,” ujar Dr. Sri Margana, M.Phil., kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

“Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa AI tidak harus berjarak dengan fakta. Dengan proses kreatif yang teliti, konsep yang matang, riset lapangan, serta validasi dari para ahli dan kurator, teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan sejarah dan budaya Indonesia dalam bentuk yang lebih relevan bagi generasi masa kini. Kami berharap Purwacarita Borobudur menjadi awal dari lebih banyak cerita sejarah dan kekayaan budaya Indonesia yang dapat dituturkan kembali melalui pengalaman imersif berbasis AI,” ujar Lia Marliana, President Director Bening Digital Indonesia.

Melalui Purwacarita Borobudur, sejarah tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi pengalaman yang dapat dijelajahi dengan cara yang lebih dekat dan interaktif. Informasi lebih lanjut mengenai program dan kunjungan dapat ditemukan melalui kanal Instagram resmi Galeri Indonesia Kaya.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK