presented by

JABU BONANG, TOBATENUN, DAN DJUITA MEMBAWA WASTRA BATAK KE PANGGUNG INDONESIA FASHION WEEK 2026

SHARE THIS
82

Published by Sugar & Cream, Friday 21 August 2026

Images courtesy of Jabu Bonang, Tobatenun, Djuita

Tradisi Dalam Tafsir Modern

Ketika wastra tradisional bertemu fashion kontemporer, yang menarik bukan sekadar bagaimana kain diterjemahkan ke dalam busana, tetapi bagaimana cerita di baliknya menemukan cara baru untuk terus dikenali. Di Indonesia Fashion Week 2026, Jabu Bonang membawa Tenun Songket Batak berdampingan dengan Tobatenun dan Djuita, mempertemukan craftsmanship, karakter wastra, dan sensibilitas desain masa kini.

Dalam agenda BTN Prioritas: The Grand Gala yang mengusung tema “Ulos Simetria,” pertemuan ini membuka perspektif baru terhadap kekayaan wastra Batak—membawanya lebih dekat dengan bahasa fashion kontemporer tanpa kehilangan akar tradisinya.

Di runway, deretan Tenun Songket Batak kreasi Jabu Bonang dipadankan dengan koleksi ready-to-wear Tobatenun serta rancangan Djuita yang kaya aplikasi dan detail artistik. Siluet modern, dekonstruksi bentuk, dan sentuhan kemewahan membuat karakter Songket terasa lebih dekat dengan bahasa fashion masa kini, tanpa menghilangkan kekuatan craftsmanship yang menjadi fondasinya.

Presented by Interni Cipta Selaras

Dari sisi teknik, Songket sendiri memiliki karakter yang khas. Penambahan benang pakan digunakan untuk membentuk motif dengan tekstur, detail, dan dimensi, sementara beberapa karya mempertemukan teknik Songket dengan Tenun Ikat. Ragam visualnya pun berakar pada kekayaan tradisi Batak, mulai dari Ulos Batak Toba, Uis Batak Karo, Oles Batak Pakpak-Dairi, Hiou Batak Simalungun, hingga Abit dari Mandailing dan Angkola.

Dalam pertemuan ini, rancangan Djuita memberi ruang bagi tekstur dan karakter Tenun Songket untuk berdialog dengan aplikasi serta detail artistik pada busana. Di sisi lain, koleksi ready-to-wear Tobatenun menunjukkan bagaimana wastra Batak dapat bergerak lebih luwes ke dalam fashion kontemporer. Bersama karya Jabu Bonang, ketiganya menciptakan percakapan yang terasa natural antara warisan tekstil dan desain masa kini.

Namun, cerita di balik kain-kain tersebut tetap berakar pada tangan para perajin. Berbasis di Pematang Siantar, Sumatra Utara, Jabu Bonang membina lebih dari 300 perajin di berbagai wilayah Tanah Batak, sembari mempertahankan teknik Alat Tenun Gedogan dan mengembangkan ATBM agar kain lebih adaptif untuk berbagai kebutuhan. Eksplorasi berlanjut melalui Jabu Borna, pusat pewarnaan alam yang memanfaatkan kekayaan botani lokal dan mengembangkan formulasi warna mengacu pada standar Pantone, mempertemukan tradisi, inovasi, dan keberlanjutan.

Di panggung Indonesia Fashion Week 2026, Jabu Bonang, Tobatenun, dan Djuita memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus diam di tempat untuk tetap memiliki makna. Ketika craftsmanship, eksplorasi teknik, dan sensibilitas desain masa kini bertemu, Tenun Batak menemukan ruang baru untuk bergerak—lebih kontemporer, namun tetap berakar pada budaya yang melahirkannya.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK