NEGERI ELOK MEMPERSEMBAHKAN JEJAK RASA
Published by Sugar & Cream, Thursday 08 January 2026
Images courtesy of Negeri Elok dan Adhvan Media
Menyusuri Identitas Indonesia Lewat Soto, Sambal, dan Nasi
Ada rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di ingatan, hadir lewat aroma soto yang mengepul, pedas sambal yang menggetarkan lidah, atau sepiring nasi hangat yang menenangkan—rasa-rasa sederhana yang menemani keseharian dan membentuk cara kita mengingat rumah.

Rasa-rasa inilah yang dirangkum dalam Jejak Rasa, persembahan Negeri Elok, yang resmi dibuka untuk publik pada 19 Desember 2025 di Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah. Lebih dari sebuah festival kuliner, Jejak Rasa menghadirkan perjalanan budaya yang mengajak kita memahami makanan sebagai identitas—akrab, hidup, dan terus relevan dalam kehidupan hari ini.

Presented by Coulisse | INK
Sebagai sebuah perayaan budaya, Jejak Rasa berangkat dari keinginan untuk kembali mendekatkan masyarakat pada tradisi kuliner yang hidup di keseharian. “Jejak Rasa adalah cara kami merayakan tradisi kuliner Indonesia yang berakar kuat, sekaligus kisah-kisah di baliknya,” ujar Didit Hediprasetyo, pendiri Negeri Elok, tentang festival yang mengajak publik menemukan kembali rasa, tradisi, dan ekspresi budaya yang membentuk keberagaman Indonesia.

Rasa yang Membentuk Kita
Soto, sambal, dan nasi adalah elemen yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hadir dalam berbagai bentuk dan cita rasa, ketiganya berubah mengikuti wilayah, bahan, dan kebiasaan, namun tetap menyimpan satu benang merah: kebersamaan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan cerita tentang alam, perjalanan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Melalui Jejak Rasa, Negeri Elok menghadirkan peluncuran trilogi buku “Discover Our Streets through SOTO”, “Discover Our Kitchens through SAMBAL”, dan “Discover Our Fields through NASI”. Ketiga buku ini memosisikan kuliner sebagai medium bercerita—membuka pemahaman tentang bagaimana makanan menjadi penanda identitas sekaligus pengikat sosial.
Diterbitkan oleh Adhvan Media, trilogi ini tidak hanya menyajikan resep, tetapi juga riset dan kisah budaya yang memperkaya cara kita memandang kuliner Nusantara. Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang, buku-buku ini lahir dari riset mendalam serta konsultasi erat dengan para pakar kuliner Indonesia seperti William Wongso, Prof. Murdijati Gardjito, dan Hardian Eko Nurseto, dengan kontribusi wawasan dari Ade Putri Paramadita, menjadikannya arsip rasa yang merekam hubungan manusia Indonesia dengan makanan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi dalam Gaya Hidup Modern
Di tengah budaya kuliner yang semakin menjadi bagian dari gaya hidup urban, Jejak Rasa memposisikan tradisi sebagai sesuatu yang terus bergerak. Pendekatan kuratorial yang dihadirkan Negeri Elok memperlihatkan bagaimana warisan kuliner dapat hidup berdampingan dengan inovasi, industri kreatif, dan teknologi, tanpa kehilangan akar budayanya. Kolaborasi lintas sektor yang terlibat mencerminkan upaya menjaga keberlanjutan—bahwa pelestarian kuliner bukan sekadar soal mengenang, tetapi juga membuka ruang agar tradisi terus berkembang dan menjangkau generasi berikutnya.

Ketika Rasa Menjadi Emosi
Dimensi emosional Jejak Rasa hadir melalui pemutaran film pendek Jejak Rasa Yogyakarta karya Garin Nugroho, yang membawa penonton menyelami denyut Yogyakarta—kota yang lekat dengan tradisi, kehangatan, dan kreativitas—melalui pendekatan visual yang puitis dan kontemporer. Dibintangi Maudy Ayunda, diiringi oleh alunan lagu KLA Project yang diinterpretasi menjadi orkestra oleh Tohpati, film ini menempatkan kuliner sebagai memori dan emosi, menghadirkan makanan sebagai bahasa yang menghubungkan manusia dengan ruang, waktu, dan pengalaman kolektif.

Cerita yang Terus Berjalan
Lebih dari sebuah perayaan, Jejak Rasa yang dibuka untuk umum pada 20 – 21 Desember 2025, merupakan refleksi dari visi Negeri Elok dalam merawat tradisi melalui cara yang relevan dengan hari ini. Di balik soto, sambal, dan nasi, tersimpan kisah tentang kebersamaan, ketekunan, dan keberagaman—cerita yang terus hidup karena dijalani, dibagikan, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
LIVING DIVANI PRESENTS ECHOES OF SNOWLIGHT
In Echoes of Snowlight, Living Divani distills winter into a quiet dialogue of light and material, where festive accents meet timeless design.
read moreDESIGNS IN THE PANTONE 2026 COLOUR OF THE YEAR: CLOUD DANCER
Chosen as the PANTONE 2026 Colour of the Year, Cloud Dancer frames design through subtlety, sculptural form, and an effortless sense of timeless grace.
read moreA HIDDEN CULINARY ESCAPE IN KEBAGUSAN: NEBBRS COFFEE & EATERY
Located in Kebagusan, South Jakarta, Nebbrs Coffee & Eatery is a hidden culinary destination offering all-day dining, signature coffee, and a relaxed...
read moreDEWI FASHION KNIGHTS 2025 PRESENTS “NUSANTARA” FEATURING TULOLA, SAPTO DJOJOKARTIKO, AND SEBASTIAN GUNAWAN SIGNATURE
Dewi Fashion Knights (DFK) hari kedua kembali hadir di panggung Jakarta Fashion Week 2026 dengan gelaran eksklusif bertema “Nusantara” yang melibatkan...
read moreSÉANCE, A REFLECTION ON ADRIAN GAN COUTURE’S 40 YEARS IN FASHION
Step into SÉANCE, a reflection on Adrian Gan Couture’s 40 years in fashion—where each gesture is deliberate and every detail refined with impeccable...
read moreCIERRE1972 PRESENTS BELT AND MAC: TWO ARMCHAIRS DEFINED BY CONTEMPORARY ELEGANCE
Cierre1972’s Dynamic Duo, Defined by Contemporary Elegance
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read morePELUNCURAN PERDANA LEGANO HOME MENGGANDENG AGAM RIADI DI ST REGIS RESIDENCE JAKARTA
Peluncuran perdana LEGANO HOME menggandeng Agam Riadi di St. Regis Residence Jakarta: menyatukan kemewahan dan jiwa dalam sebuah ruang.
read more

