CITA TENUN INDONESIA PRESENTS ”DIALEKTIKA” AT JFW 2025
Published by Sugar & Cream, Friday 15 November 2024
Images courtesy of CITA TENUN INDONESIA (CTI) dan JFW
Oscar Lawalata Culture, fbudi, and Era Soekamto
Euforia dan gemerlapnya perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2025 yang berlangsung beberapa waktu lalu masih terasa hype-nya. Dan peranan Wastra Nusantara di ajang fashion ini sangat kentara terlihat pada koleksi beberapa desainer yang turut andil memeriahkan runway.

Oscar Lawalata Culture

Presented by Som Santoso
Dan itulah yang terlihat pada pagelaran persembahan Cita Tenun Indonesia (CTI) meluncurkan pertunjukan busana bertajuk ”DIALEKTIKA” bersama berkolaborasi dengan tiga desainer ternama, Asha Samara Darra untuk rumah mode Oscar Lawalata Culture, Felicia Budi dengan fbudi, serta Era Sukamto, dan setiap koleksi dihadirkan dalam 10 looks yang menawan.

Oscar Lawalata Culture
Nama presentasi ini menandakan adanya perbedaan konsep atau filosofi yang signifikan, sehingga menghasilkan ide baru dalam proses pengadaan kain Tenun. Dialektika sendiri adalah metodologi yang menggabungkan tesis, antitesis, dan sintesis untuk menyimpulkan. Perancang busana menerapkannya untuk menafsirkan tekstil Tenun sebagai media, yang bertujuan untuk membuat warisan budaya Indonesia relevan dalam kehidupan kontemporer dan dengan demikian meningkatkan relevansi karya mereka.

fbudi
Dialektika pertama menyuguhkan kain Tenun Songket Halaban yang diubah menjadi koleksi busana siap pakai oleh Asha Samara Darra (Oscar Lawalata Culture). Karya ini terinspirasi dari tekstur, motif, dan sisi substansial kain Tenun, yaitu Tenun Songket Halaban khas Sumatera Barat. Jenis ini memiliki ciri ‘fisik’ yang menonjol atau berdimensi, dicapai dengan menambahkan benang di atas bidang benang, berlawanan dengan cara disungkit dan diselipkan. Koleksinya menampilkan setelan atasan yang panjangnya bervariasi, didominasi kerah tinggi, dan keseragaman dengan detail rumbai di bagian bawah. Atasan tersebut dipadukan dengan celana panjang lebar yang polos untuk menonjolkan keindahan atasan Tenun Songket Halaban, sehingga membuatnya dinamis dan kontemporer.
Dialektika kedua menampilkan interpretasi Felicia Budi pada kain Tenun Sobi Muna dari Sulawesi Tenggara untuk label besutannya, fbudi. Tenun Sobi merupakan jenis Tenun khas Suku Bugis yang motifnya hanya terlihat di bagian depan kain sedangkan bagian belakang polos tanpa motif. Karakteristik ini ini tercipta dari proses Teknik Pakan Mengambang. Felicia memamerkan karakteristik Tenun Sobi yang khas, menampilkan motif hanya di bagian depan dan polos di bagian belakang, ditujukan untuk menarik minat generasi muda dengan tampilan urban. fbudi memadukan pakaian kerja vintage dengan siluet tahun 1950-an untuk menciptakan koleksi pakaian urban kontemporer yang menampilkan kain Tenun Sobi. Warna-warna cerah dan aksen lengkung membangkitkan kenangan seperti permainan Tetris, sementara serat katun yang bersahaja menciptakan pakaian jalanan. Koleksi ini bertujuan untuk menyediakan aksesibilitas ke warisan budaya yang lebih inklusif.

fbudi
Dialektika ketiga dibawakan oleh Era Soekamto yang menggabungkan Tenun Cual Sambas dengan Batik Tulis Jawa lewat sebuah presentasi bertajuk Pakerti. Era Soekamto menyoroti kehormatan, nilai-nilai tradisional, dan martabat dalam tekstil Indonesia, khususnya tenun Cual Sambas, yang merupakan hasil akulturasi budaya Melayu dan Dayak menggunakan teknik Ikat Lungsi dan Songket. Pakerti terinspirasi dari busana megah bangsawan Melayu dan Jawa ini memadukan keindahan dan kekuatan, menampilkan busana feminin dengan unsur maskulin seperti struktur tegas, siluet kotak, dan kerah tinggi. Dan, dengan menampilkan pola berwarna emas dan perhiasan besar yang menyerupai putri-putri masa lalu, termasuk tiara, jepit rambut, anting-anting, kalung, bros, liontin, kipas, dan sepatu dengan manik-manik, sehingga menambah sentuhan keanggunan dan kemewahan.

Era Soekamto
Seluruh ketiga koleksi ”DIALEKTIKA” ini limited – edition, dan dapat diperoleh melalui Galeri Cita Tenun Indonesia, Grand Wijaya Center, Jl. Wijaya II No.47, Jakarta Selatan.

Era Soekamto
DIOR AND NOÉ DUCHAUFOUR-LAWRANCE: COROLLE LAMPS (AT MILAN DESIGN WEEK 2026)
Dior Maison and Noé Duchaufour-Lawrance elevate lighting into an act of couture—where glass, bamboo, and light are shaped with the same discipline as...
read moreKOLABORASI FIO DAN MASSHIRO&CO. PERKENALKAN KOLEKSI KARPET EKSKLUSIF
Kolaborasi Fio dan MASSHIRO&Co. melahirkan karpet edisi eksklusif bertajuk Montreal KURO, yang memadukan desain modern yang estetik dan material kualitas...
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read moreTALENTI HOME – PACO BY LUDOVICA SERAFINI AND ROBERTO PALOMBA
A sneak preview of Paco, a new modular sofa system by Ludovica Serafini and Roberto Palomba for Talenti Home. It will be unveiled at Salone del...
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read more

