presented by

JF3 FASHION FESTIVAL 2026 — DAY 1 (PART 1)

SHARE THIS
106

Published by Sugar & Cream, Friday 14 August 2026

Images courtesy of JF3 Fashion Festival 2026

Quiet Defiance

Keteguhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang lantang. Terkadang, ia diwujudkan melalui proses berkarya, keberanian menjaga identitas, hingga konsistensi merawat craftsmanship di tengah lanskap mode yang terus berubah. Gagasan inilah yang menjadi benang merah Quiet Defiance, presentasi kolaboratif dari Indonesian Fashion Chamber (IFC) yang membuka rangkaian runway JF3 Fashion Festival 2026.

Bertempat di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Quiet Defiance mempertemukan tiga desainer dari tiga kota di Indonesia—Opie Ovie, Weda Githa melalui XANDER.G, dan Rengganis. Masing-masing menghadirkan perspektif yang berbeda, mulai dari reinterpretasi warisan budaya, eksplorasi siluet kontemporer, hingga pelestarian teknik bordir tangan dan wastra tradisional, namun berpijak pada semangat yang sama: menghadirkan karya yang terus bergerak maju tanpa melepaskan akar yang membentuknya.

Noblelitique — Opie Ovie
Membuka presentasi, Opie Ovie memperkenalkan Noblelitique, koleksi yang mengolah kembali kekayaan batik nitik melalui pendekatan glocal dengan memadukan akar tradisi dan estetika kontemporer. Berangkat dari filosofi batik nitik, koleksi ini menerjemahkan presisi dan ketelitian ke dalam busana yang relevan dengan gaya hidup masa kini tanpa meninggalkan akar budayanya.

Eksplorasi teknik laser cut, 3D printing, serta bordir menggunakan paillettes dan sequins berpadu dengan siluet oversized, potongan asimetris, dan palet monokrom yang diperkuat sentuhan denim blue serta ivory. Melalui Noblelitique, Opie Ovie menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga terus berevolusi seiring perkembangan zaman.

Aeris Solenne Vol.2 — XANDER.G
Melalui label XANDER.G, Creative Director Weda Githa menghadirkan Aeris Solenne Vol.2, koleksi Spring/Summer 2027 yang mengeksplorasi pertemuan antara kelembutan dan struktur melalui estetika kontemporer yang edgy dan androgini. Terinspirasi dari perpaduan budaya oriental dan gaya hidup urban, koleksi ini memadukan detail draperi yang lembut dengan tailoring yang tegas untuk menghadirkan siluet yang fluid, minimalis, dan melampaui batas gender konvensional.


Presented by Coulisse | INK

Sebanyak 20 looks ditampilkan menggunakan material seperti wool, denim, dan linen yang diolah melalui konstruksi minimalis dengan sentuhan eksperimental. Seluruh koleksi dibuat secara made-to-order sebagai bentuk komitmen XANDER.G terhadap proses produksi yang lebih personal dan berkelanjutan, menghadirkan interpretasi baru tentang keanggunan modern yang tenang, progresif, sekaligus inklusif.

Midnight Garden — Rengganis
Menutup presentasi, Rengganis mempersembahkan Midnight Garden, koleksi yang memaknai nurturing sebagai bentuk quiet defiance. Terinspirasi dari kehidupan yang tetap bertumbuh di tengah kegelapan, koleksi ini merefleksikan harapan, pemulihan, dan keberlanjutan melalui pendekatan yang puitis.

Motif bunga yang bermekaran maupun mulai layu menjadi metafora perjalanan manusia, diterjemahkan melalui bordir tangan pada material serat alam yang dipadukan dengan batik, lurik, dan endek. Siluet kasual berlapis dengan palet warna bumi menghadirkan nuansa yang hangat dan reflektif, sementara penampilan Rahma Savitri semakin memperkuat narasi emosional yang melengkapi keseluruhan presentasi.

Menyatukan tiga pendekatan kreatif dalam satu panggung, Quiet Defiance memperlihatkan bagaimana tradisi, inovasi, dan craftsmanship dapat saling melengkapi tanpa kehilangan identitas masing-masing. Menjadi pembuka JF3 Fashion Festival 2026, presentasi ini sekaligus menegaskan peran IFC dalam menghadirkan ruang bagi keberagaman perspektif di industri mode Indonesia.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK