presented by

SEJAUH MATA MEMANDANG HADIRKAN “MENOLAK PUNAH” — SUARA UNTUK BUMI DI TENGAH INDUSTRI FASHION

SHARE THIS
86

Published by Sugar & Cream, Monday 04 May 2026

Images courtesy of Sejauh Mata Memandang

Dari Apa Yang Kita Pakai, Ke Apa Yang Kita Sisakan

Dalam momentum Hari Bumi dan Fashion Revolution Week 2026, Sejauh Mata Memandang—jenama yang dikenal dengan pendekatan berkelanjutan—menghadirkan sebuah pendekatan reflektif melalui pemutaran film dokumenter Menolak Punah, yang baru dirilis pada pertengahan April 2026. Berkolaborasi dengan Ekspedisi Indonesia Baru, acara ini berlangsung di Metro Cinema Kemang, menghadirkan pertemuan hangat antara media, tamu undangan, serta para pelaku seni dan kreatif.

Lebih dari sekadar pemutaran, momen ini menjadi ajakan untuk memahami perjalanan sebuah pakaian—bagaimana ia diproduksi, digunakan, hingga akhirnya berakhir, serta apa yang tersisa dari proses tersebut.

Lalu Hilman Afriandi, Aji Yahuti, Chitra Subyakto, Kak Ney, dan Dandhy Laksono  

Disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Aji Yahuti, Menolak Punah menelusuri realitas industri sandang Indonesia dari hulu ke hilir. Film ini menyoroti ketergantungan pada impor kapas, tekanan terhadap penenun lokal, serta persoalan limbah tekstil yang terus meningkat seiring laju konsumsi fast fashion.

Artisan Tenun Katun, Kerek, Tuban, Jawa Timur – Sekar Kawung

“Rantai produksi sandang Indonesia menyimpan banyak persoalan yang saling terhubung—dari ketergantungan impor kapas, tekanan terhadap penenun lokal, hingga limbah tekstil yang sulit terurai. Di ujungnya, ada dampak kesehatan yang nyata,” ujar Dandhy Laksono.

Presented by Interni Cipta Selaras

Lebih jauh, film ini memperlihatkan bahwa dampak lingkungan dari industri fesyen tidak berdiri sendiri. Pencemaran air dan udara, emisi karbon, hingga paparan mikroplastik menjadi bagian dari realitas yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus memperlihatkan keterkaitannya dengan isu kesehatan dan sosial.

Artisan Tenun Rumah Tenun Baku Peduli (Flores)  

Semangat ini sejalan dengan gerakan global yang lahir dari tragedi Rana Plaza Collapse, yang kemudian mendorong lahirnya Fashion Revolution Week. Tahun ini, tema “Conscious Fashion is a Collective Mission” menjadi pengingat bahwa perubahan dalam industri fesyen hanya dapat terjadi melalui kesadaran dan keterlibatan bersama.

Kapas Bronesia, Kerek, Tuban, Jawa Timur – Sekar Kawung

“Film Menolak Punah memetakan persoalan yang nyata dan dekat tentang apa yang terjadi sebelum pakaian sampai ke tangan kita, dan setelah kita membuangnya. Penting untuk menontonnya bersama, berdiskusi, dan merefleksikannya secara kolektif, karena perubahan yang berarti hanya bisa terjadi jika kita bergerak bersama,” ujar Chitra Subyakto.

Pabrik Daur Ulang Limbah Pakaian, EcoTouch (Bandung) | Kebun Ramie, Wonosobo, Jawa Tengah, CV Rabersa | Pabrik Daur Ulang Limbah Tekstil, Bandung, Jawa Barat – EcoTouch  

Diskusi setelah pemutaran turut menghadirkan Dino Augusto, membuka perspektif tentang pentingnya memahami siklus hidup pakaian secara lebih utuh—bahwa setiap pilihan yang kita buat selalu meninggalkan jejak.

Komunitas Bersi Bersi Lemari (Jakarta)

Melalui Menolak Punah, Sejauh Mata Memandang menegaskan posisinya bukan hanya sebagai jenama, tetapi sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas—tentang manusia, lingkungan, dan masa depan yang kita bentuk bersama.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK