presented by

LAKON INDONESIA — SEWINDU MERAWAT CERITA DAN WARISAN

SHARE THIS
86

Published by Sugar & Cream, Wednesday 17 June 2026

Images courtesy of LAKON Indonesia

Merayakan Sebuah Perjalanan

Delapan tahun bukan sekadar penanda waktu bagi LAKON Indonesia, melainkan perjalanan panjang tentang proses kreatif, hubungan, dan orang-orang yang tumbuh bersama di dalamnya. Pada Sabtu, 6 Juni 2026, LAKON merayakan anniversary ke-8 melalui sebuah intimate gathering bersama rekan-rekan media dan tamu undangan di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading 5, Jakarta—sebuah momen hangat untuk merefleksikan delapan tahun cerita yang terus bertumbuh sejak 2018, dalam menjaga nilai budaya, mendukung para perajin, dan bertumbuh bersama industri fashion Indonesia.

Thresia Mareta

Bagi Thresia Mareta, Founder & Creative Director LAKON Indonesia, delapan tahun LAKON juga menjadi pengingat bahwa budaya selalu memiliki ruang untuk terus hidup dan berkembang bersama generasi masa kini. “Kami selalu percaya bahwa wastra bukan sesuatu yang diam di masa lalu. Ia bisa terus bergerak, dikenakan, dimaknai ulang, dan hadir dekat dengan keseharian. Semoga LAKON bisa terus bertumbuh, tetap relevan, dan berjalan bersama semakin banyak orang yang percaya pada nilai craft, budaya, dan cerita di balik setiap karya,” tuturnya.

Seiring perjalanannya, LAKON juga terus membangun bahasa visual yang semakin khas—termasuk melalui eksplorasi motif dan batik yang dikembangkan sendiri. Pendekatan inilah yang perlahan membentuk identitas visual LAKON—terasa personal, dekat dengan keseharian, dan semakin mudah dikenali.

Salah satu sorotan dalam perayaan ini adalah Mini Installation of 8 Story Collections, sebuah perjalanan waktu yang mengajak para tamu menelusuri fase-fase penting dalam evolusi kreatif LAKON Indonesia selama delapan tahun terakhir.

Perjalanan dimulai dari Pakaiankoe, koleksi perdana LAKON yang menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali kekayaan tekstil Jawa melalui pendekatan modern dan personal—sebuah pengingat bahwa pakaian selalu menyimpan identitas dan cerita tentang siapa kita. Dari sana, hadir Gantari, koleksi yang dipresentasikan di Candi Prambanan sebagai penghormatan terhadap wastra Nusantara melalui perpaduan batik, jumputan, dan tenun lurik, sekaligus membawa semangat tentang perjalanan, ketahanan, dan harapan.

Narasi perjalanan berlanjut lewat Aradhana, sebuah refleksi atas proses panjang, dedikasi para perajin, dan kerja-kerja yang sering kali tak terlihat di balik sebuah karya. Sementara Lorong Waktu, hasil kolaborasi dengan maestro batik Pekalongan, Cahyo, menjadi interpretasi tentang perjalanan budaya dan waktu—mempertemukan akar budaya dengan siluet modern melalui eksplorasi motif flora dan fauna khasnya.

Presented by Coulisse | INK

Eksplorasi LAKON terus berkembang melalui RIK 062324 L bersama desainer Irsan, koleksi yang membawa tenun lurik ke dalam bahasa urban yang lebih berani dan kontemporer. Pendekatan yang lebih personal kemudian hadir melalui The Tailor Made 01, first privé collection karya Irsan yang merayakan seni menjahit tangan dan craftsmanship melalui pendekatan made-to-order yang eksklusif.

Kemudian hadir Pasar Malam, koleksi hasil kolaborasi bersama maestro batik Pekalongan, Dudung Alisyahbana, yang menangkap energi urban, nostalgia, dan dinamika kehidupan kota melalui interpretasi streetwear kontemporer berbasis batik. Sementara Urub, koleksi yang dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2025, terinspirasi dari filosofi Jawa urip iku urub—hidup yang memberi terang—sebagai refleksi tentang empati, pengorbanan, dan semangat untuk terus memberi makna bagi sesama.

Menjadi salah satu sorotan dalam perayaan ini, LAKON turut menghadirkan koleksi anniversary spesial yang lahir dari potongan-potongan kain sisa produksi berbagai koleksi selama delapan tahun terakhir. Alih-alih dibiarkan menjadi arsip semata, fragmen-fragmen wastra tersebut dihidupkan kembali menjadi busana wearable dengan karakter patchwork yang khas—membawa cerita masa lalu ke dalam bentuk baru yang terasa personal, modern, dan tetap relevan dikenakan hari ini.

Interactive Scrapbook Activity 

Lebih dari sekadar pendekatan upcycling, koleksi ini menjadi refleksi tentang keberlanjutan dan memori: bagaimana sesuatu yang tersisa dapat menemukan makna baru. Setiap potongan kain menyimpan jejak dari koleksi-koleksi sebelumnya, kemudian disusun ulang menjadi siluet unik yang tidak mungkin direplikasi dengan cara yang sama—seolah menjahit kembali perjalanan LAKON ke dalam babak baru.

Perayaan ini juga menghadirkan “UP-CYCLE by LAKON Indonesia” Repair Service, sebuah layanan perbaikan yang menjadi bagian dari komitmen LAKON terhadap keberlanjutan dan umur panjang sebuah karya. Sementara itu, Interactive Scrapbook Activity menghadirkan ruang yang lebih personal, mengajak para tamu untuk meninggalkan pesan, cerita, maupun kenangan sebagai bagian dari perjalanan LAKON Indonesia.

“Tidak terasa sudah delapan tahun. Banyak hal yang berubah, tetapi beberapa hal tetap sama. LAKON masih dipenuhi dengan cerita, ada diskusi, dan tangan-tangan yang terus bekerja. Pelan-pelan LAKON tumbuh, semuanya adalah proses. Ada banyak pengalaman di balik setiap koleksi, dan hari ini kami melihat semuanya kembali, untuk semua yang pernah tumbuh bersama LAKON. Terima kasih atas delapan tahun perjalanan ini, dan kami masih terus berjalan,” ungkap Thresia.

Lebih dari sekadar perayaan anniversary, sewindu LAKON Indonesia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana fashion dapat hidup melalui cerita, hubungan, dan nilai-nilai yang terus hidup melalui banyak tangan yang menjaganya. Sebab pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang karya, melainkan tentang orang-orang, hubungan, dan cerita yang terus menemukan bentuk barunya.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK