presented by

JF3 FASHION FESTIVAL 2026 — DAY 1 (PART 2)

SHARE THIS
70

Published by Sugar & Cream, Tuesday 18 August 2026

Images courtesy of JF3 Fashion Festival 2026

L’Entre-Deux: Interwoven Identities Merajut Perspektif Indonesia–Prancis

Selepas presentasi IFC, panggung JF3 Fashion Festival 2026 berlanjut dengan “L’Entre-Deux: Interwoven Identities”, sebuah presentasi yang mempertemukan talenta muda Indonesia dan Prancis melalui kolaborasi Future Fashion Designer (FFD), PINTU Incubees, dan École Duperré Paris.

uture Fashion Designer (FFD)

Tahun ini, JF3 memperkenalkan Future Fashion Designer (FFD) sebagai transformasi dari program yang sebelumnya dikenal sebagai Future Fashion Award. Bukan sekadar perubahan nama, FFD berkembang menjadi platform pengembangan desainer muda yang mencakup proses kreatif, kurasi, hingga eksposur industri. Berangkat dari tema JF3 2026, Recrafted: Shaping the Future, para peserta menjalani rangkaian kurasi intensif untuk mengembangkan koleksi yang relevan dengan dinamika industri fashion saat ini.

FFD – Arron Bryan

Empat finalis FFDArron Bryan Fernaldy Wongso, Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, dan Tashannie Abigail Loekman—menerjemahkan gagasan personal mereka melalui eksplorasi identitas, material, dan konstruksi busana.

FFD – Agatha Lievia

Sebagai pemenang FFD 2026, Arron Bryan Fernaldy Wongso menghadirkan empat look bertajuk “OPPOSITE: The Fallen Virtue”, sebuah eksplorasi mengenai dualitas melalui reinterpretasi simbol black swan. Terinspirasi dari bridal headpiece berbentuk angsa putih karya Rinaldy Yunardi, Arron menghadirkan karakter angsa hitam yang merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan transformasi. Siluet yang bersih dan terstruktur dipadukan dengan tweed, jet black fabric, dan tulle untuk menciptakan tampilan modern yang tetap elegan.

Presented by Magran Living

Agatha Lievia mempersembahkan empat look bertajuk “The Cage Within”, yang mengeksplorasi perjalanan emosional melalui empat manifestasi dalam satu jiwa—The Dreamer, The Warden, The Judge, dan The Liberated. Melalui permainan structured corsetry, lapisan transparan, serta material heavy satin, jacquard, dan tulle, koleksi ini menggambarkan proses transformasi dari rasa takut dan keraguan menuju kebebasan.

FFD – Azzahra Najmanisa

Azzahra Najmanisa menghadirkan empat look bertajuk “OPPOSITE”, menerjemahkan ulang inspirasi sebuah headpiece ikonis karya Rinaldy Yunardi melalui perspektif yang berbeda. Mengolah kebaya dengan siluet meliuk dan teknik drapery, Azzahra mempertemukan kekayaan wastra Indonesia dengan pendekatan desain kontemporer.

FFD – Tashannie Abigail

Sementara itu, Tashannie Abigail Loekman membawa empat look bertajuk “ICARUS”, sebuah koleksi yang terinspirasi dari kisah mitologi tentang keberanian, kejatuhan, dan transformasi. Melalui eksplorasi hand-appliqué embellishment, corsetry, serta material jacquard, tweed, tulle, dan chiffon, koleksi ini menghadirkan interpretasi mengenai keindahan yang lahir dari ketidaksempurnaan.

Ecole Duperré Paris – Aurélien Voegelin

Melengkapi presentasi, para desainer lulusan École Duperré Paris menghadirkan perspektif kreatif yang berakar pada riset personal, sejarah, dan eksperimentasi material. Maurine Willebien mempersembahkan 10 look bertajuk “Beauties”, sebuah eksplorasi mengenai tubuh perempuan dan reinterpretasi pakaian intim melalui pendekatan knitwear, layering, serta penggunaan material dead stock.

Ecole Duperré Paris – Maurine Willebien

Aurélien Voegelin melalui label DAURIAC menghadirkan enam look bertajuk “3088 — the ear tag number of Magali, my cow”. Berangkat dari sejarah keluarganya sebagai petani di Prancis, koleksi ini menerjemahkan memori, lanskap pedesaan, dan hubungan manusia dengan lingkungan melalui siluet genderless, teknik tailoring, serta eksplorasi material alami.

Ecole Duperré Paris – Paul Vidal

Menutup sesi École Duperré Paris, Paul Vidal menghadirkan enam look bertajuk “Emballez-moi (Wrap Me Up)”, yang mempertemukan inspirasi busana bersejarah abad ke-17 hingga ke-18 dengan estetika material pelindung kemasan. Melalui siluet oversized, volume dramatis, dan teknik konstruksi kontemporer, koleksi ini menghadirkan dialog antara warisan sejarah dan ekspresi fashion masa kini.

Lebih dari sekadar presentasi koleksi, “L’Entre-Deux: Interwoven Identities” memperlihatkan bagaimana pertukaran budaya, pendidikan, dan eksplorasi kreatif dapat membentuk masa depan fashion. Melalui FFD, PINTU Incubees, dan École Duperré Paris, JF3 Fashion Festival kembali membuka ruang bagi generasi baru desainer untuk berkembang dalam percakapan global.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK