presented by

JAKARTA DESIGN COLLABS 2026: CLOUD DANCER, WHEN DESIGN BECOMES AN EXPERIENCE

SHARE THIS
94

Published by Sugar & Cream, Monday 21 September 2026

Images Courtesy of JDC & Benda Design Hub

Exploring the Space Between Design, Material, and Human Experience

What if design was not just something to look at, but something to feel, hear, and experience?

Menjelang sore, lantai dua Jakarta Design Center (JDC) mulai dipenuhi bentuk, material, cahaya, dan warna. Para media diajak menjadi saksi pertama Jakarta Design Collabs 2026, menyusuri instalasi demi instalasi dan melihat bagaimana desain dapat terasa berbeda ketika tidak hanya dilihat, tetapi juga dialami, memanjakan semua sensorik di tubuh.

Memasuki edisi keduanya, Jakarta Design Collabs mengusung tema “Cloud Dancer”, sebuah tema yang memberi ruang bagi desain untuk bergerak lebih bebas dan personal. Diselenggarakan oleh JDC bersama Benda Design Hub, program ini berlangsung pada 15 September hingga 15 Oktober 2026, mempertemukan arsitektur, interior, material, fashion, ilustrasi, dan seni dalam rangkaian instalasi yang masing-masing memiliki cara sendiri untuk berbicara.

Dalam press conference yang berlangsung di area lounge lantai dasar JDC, Nurul Syahri F., Direktur Utama Jakarta Design Center, berbicara mengenai langkah JDC untuk membuka ruang yang lebih luas bagi kreativitas dan kolaborasi.

“Jakarta Design Collabs menjadi salah satu langkah JDC untuk terus membuka ruang bagi kreativitas dan kolaborasi. Kami ingin JDC tidak hanya dikenal sebagai pusat desain, tetapi juga sebagai tempat di mana ide-ide baru dapat bertemu, berkembang, dan diwujudkan,” ujarnya.

Di tengah kondisi industri yang masih menghadapi tantangan setelah pandemi, terutama ketika pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ikut melambat, Nurul melihat pentingnya menjaga ruang untuk terus bertemu dan bergerak. Menurutnya, ketika pembangunan melambat, dampaknya juga terasa pada pemasaran produk dan karya di bidang interior dan arsitektur.

Presented by Interni Cipta Selaras

Dari percakapan di lounge lantai dasar, para media kemudian diajak naik ke lantai dua untuk melihat lebih dekat bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam karya. Tur instalasi pun dimulai, membawa kami dari satu ruang ke ruang berikutnya—masing-masing dengan karakter, material, dan pengalaman yang berbeda.

Alih-alih sekadar melihat karya sebagai display, perjalanan ini memberi kesempatan untuk merasakan bagaimana desain bekerja ketika kita benar-benar berada di dalamnya.

FEELING THE MATERIAL
Langkah pertama ke dalam The Materialist karya Mira Prihatini dan Luthfi Hasan langsung disambut permainan warna, tekstur, dan bentuk. Mata berpindah dari satu detail ke detail lainnya—aksen “awan” berwarna natural di dekat pintu masuk, susunan material yang menarik perhatian, hingga sebuah kuda-kudaan yang memberi kejutan kecil di tengah komposisi yang polished dan playful. Sebagai instalasi pertama yang ditemui, ruang ini menjadi perkenalan awal sebelum perjalanan Cloud Dancer berlanjut ke ruang-ruang berikutnya.

Semakin masuk, detail-detailnya hadir semakin jelas. Lemari yang menyatu dengan dinding tersusun dari lembaran papan yang dibentuk menjadi pola dimensional, sementara sebuah meja besar menjadi center point yang menyatukan berbagai elemen di sekitarnya. Potongan-potongan material yang ditata apik membuat ruang ini seperti sebuah komposisi yang bisa dinikmati dari berbagai sisi.

Dari sini, material tidak lagi sekadar sesuatu yang kita lihat. Ada permukaan yang halus, kasar, keras, hingga lembut, sementara warna-warna di antaranya memberi ritme pada ruang. Sekilas, susunannya mengingatkan pada permainan balok warna-warni, tetapi diterjemahkan dalam bentuk yang lebih refined.

Gagasan itulah yang menjadi inti The Materialist: bagaimana material yang awalnya terasa biasa dapat diolah menjadi sesuatu yang membangun emosi dan pengalaman.

“Konsepnya adalah bagaimana kita mengolah material-material yang sebenarnya nggak bermakna menjadi memiliki sebuah emosi atau memberikan experience yang berbeda,” jelas Luthfi.

A MOMENT TO PAUSE
Dari permainan tekstur, langkah berikutnya membawa kita ke Hening Megantara karya Agdith Tan, sebuah lanskap awan yang perlahan mengubah ritme. Gumpalan putih dan biru membentang di lantai sebuah lorong kecil, berpadu dengan material lembut seperti kapas dan cahaya yang membuat ruang terasa ringan dan tenang.

Mengikuti hamparan tersebut, langkah mengarah ke bentuk melingkar di bagian dalam. Rangkaian kain putih membentuk batas yang lembut, sementara gugusan awan di atasnya berganti warna mengikuti permainan cahaya. Di pusat lingkaran, instalasi air menghadirkan rintik yang mengisi ruang dengan ritme sederhana, membuat langkah melambat.

Ritme tersebut menjadi bagian dari gagasan Agdith tentang meditasi. Baginya, meditasi tidak selalu berarti duduk diam; ia bisa hadir ketika seseorang sedang melakukan sesuatu, lalu menemukan inspirasi atau resolusi dari proses tersebut.

“Beberapa tahun terakhir ini saya merasa agak kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Tapi menurut saya, meditasi itu berbeda untuk setiap orang. Buat saya, meditasi bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika kita sedang melakukan sesuatu,” ujar Agdith.

Pemikiran itu juga hadir melalui salah satu ilustrasi yang ia buat. Baginya, proses berkarya menjadi cara untuk kembali terhubung dengan diri sendiri, sekaligus menemukan inspirasi di sepanjang proses.

Keluar dari ruang utama, sebuah persinggahan dengan material kayu dan aksen awan di atasnya menjadi titik untuk berhenti sejenak. Setelah melewati hamparan biru-putih, kain, cahaya, dan ritme air, ruang kecil ini terasa seperti jeda sebelum kembali bergerak.

Seperti yang disampaikan Agdith dalam press conference, pengalaman tersebut membawa pengunjung ke suasana “di atas awan”—tenang dan syahdu.

STAY, SIT, TALK
Setelah jeda yang hening, perjalanan kembali menemukan suasana yang lebih hangat. The Salotto karya Shania Tahir menghadirkan sebuah living room yang akrab, diterjemahkan dalam pendekatan yang lebih modern dengan sentuhan playful yang halus.

Terinspirasi dari salotto, istilah Italia untuk ruang keluarga, karakter tersebut hadir lewat pilihan furnitur dengan sedikit pengaruh Italia, namun tetap mempertahankan rasa homey. Dominasi cokelat memberi dasar yang hangat, sementara aksen warna muncul sebagai kejutan kecil—dari kulkas berwarna oranye, meja konsol berwarna hijau dengan bentuk yang unik, hingga berbagai aksesori yang membuat mata terus menemukan detail baru.

Semakin lama berada di dalamnya, atmosfernya justru semakin familiar. Ada tempat untuk duduk, menikmati makanan, berbincang, atau sekadar menghabiskan waktu. Detail-detailnya membuat kita seperti sedang berada di sebuah rumah dengan karakter yang kuat, bukan sekadar mengunjungi sebuah instalasi.

Bagi Shania, pengalaman memang menjadi bagian penting dari gagasan ini. “Aku juga ingin membuat sesuatu yang benar-benar terasa seperti pengalaman, bukan sesuatu yang terlalu punya banyak aturan atau kriteria.” Dan mungkin justru ketika kita benar-benar menggunakannya, The Salotto menemukan bentuknya—sebuah living room modern yang hangat, personal, dan mudah dinikmati.

ROOM TO PLAY
Dari ruang yang terasa intimate, NaNaNa karya Iron Rabani membawa kita masuk ke sebuah perjalanan kecil menuju rumah impian. Alih-alih hadir sebagai ruang yang serba serius, instalasi ini terasa seperti potongan dunia masa kanak-kanak—ringan, penuh warna, dan sedikit jenaka.

Kesan itu perlahan terbentuk sejak langkah pertama. Sebuah pagar atau divider berbahan metal dibentuk menjadi tulisan “NaNaNa”, seperti gerbang kecil menuju ruang di dalamnya. Setelah melewatinya, hamparan pasir mengambil alih lantai, dengan tempat duduk yang melingkar mengikuti bentuk instalasi, seolah menyediakan sebuah titik untuk berhenti sejenak di tengah perjalanan. Di dinding, deretan lukisan penuh warna hadir sebagai aksen yang memperkaya ruang tanpa membuatnya terasa terlalu penuh.

Detail-detail sederhana tersebut membuat perjalanan di dalam NaNaNa terasa seperti mengikuti ritme seorang anak: berjalan, berhenti, melihat sekeliling, lalu kembali bermain. Nama “NaNaNa” sendiri terdengar seperti bunyi yang mengiringi perjalanan pulang—spontan dan ringan, seperti seseorang yang berjalan sambil bersenandung.

Berada di dalamnya, kita bisa saja menemukan kembali sedikit ruang untuk inner child—berjalan di atas pasir, duduk tanpa terburu-buru, atau sekadar menikmati warna-warna di sekitar. Tidak ada yang perlu dilakukan secara khusus; NaNaNa justru membiarkan kesenangan kecil itu hadir dengan sendirinya, sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan ke instalasi berikutnya.

BEYOND THE DISPLAY
Dari pengalaman yang playful, The Third Skin karya Ren Katili membawa kita pada pertemuan berbagai bahasa kreatif dalam satu ruang. Gagasannya berangkat dari hubungan yang dekat antara tubuh dan ruang, lalu berkembang menjadi pengalaman yang terasa lebih luas ketika berbagai elemen di dalamnya saling bertemu.

Fashion, ilustrasi, lukisan, material, dan tekstur hadir berdampingan, menciptakan sebuah lanskap visual yang membuat batas antara apa yang dikenakan, apa yang dilihat, dan ruang yang ditempati terasa semakin tipis.

Berada di dalamnya, pengunjung seperti diajak melihat ruang dari sudut pandang yang berbeda—menyadari bagaimana sesuatu yang biasanya melekat pada tubuh dapat diterjemahkan kembali menjadi bagian dari lingkungan di sekelilingnya.

Bagi Ren, cara pandang ini juga membuka pengertian yang lebih luas tentang kolaborasi. “Design collaboration itu bukan hanya antara arsitek dan interior designer, tetapi bisa melibatkan semua creative designer.”

Dan kolaborasi itu kemudian menemukan bentuk lain yang lebih personal. Sekitar 200 kanvas yang digunakan dalam instalasi nantinya akan menjadi media bagi anak-anak penyandang disabilitas ganda dari Yayasan Sayap Ibu untuk melukis. Kanvas-kanvas tersebut akan dijual dalam bentuk amal, dengan hasilnya disumbangkan kepada yayasan tersebut.

Dari ruang, tubuh, hingga tangan-tangan yang nantinya akan mengisinya dengan warna, The Third Skin menunjukkan bahwa sebuah karya dapat terus bergerak melampaui bentuknya—menjadi ruang untuk berekspresi, berbagi, dan memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk ikut terlibat.

FINDING YOUR WAY BACK
Setelah pengalaman yang begitu kaya akan lapisan, material, dan pertemuan berbagai disiplin, perjalanan beralih ke suasana yang lebih tenang melalui Renungan karya Riri Yakub.

Renungan mengajak pengunjung berhenti sejenak melalui permainan cahaya, bayangan, arah, dan keheningan. Dua jalur menghadirkan pengalaman berbeda—satu menuju ruang yang lebih tenang, sementara lainnya membuka ruang untuk bertemu, berbincang, dan berbagi. Dominasi material kayu dan sentuhan penghijauan semakin memperkuat suasana yang menenangkan, membuat setiap elemen terasa seperti mengarahkan kita untuk memperlambat langkah dan kembali memberi ruang bagi diri sendiri. Di sinilah nama Renungan terasa begitu tepat: sebuah ruang yang tidak hanya mengajak kita berhenti, tetapi juga melihat ke dalam.

Bagi Riri, ruang sebesar Jakarta Design Center bisa terasa overwhelming atau justru membuat sesuatu tidak terlihat. Karena itu, Renungan hadir sebagai jeda di tengah perjalanan—ruang untuk sejenak meninggalkan kebisingan di luar dan kembali pada diri sendiri.

Pengalaman tersebut juga berkembang melalui sejumlah kegiatan selama Jakarta Design Collabs, termasuk podcast yang memanfaatkan area ruang keluarga di salah satu bagian instalasi. Dengan begitu, Renungan tidak hanya menjadi ruang untuk merenung, tetapi juga tempat untuk bertemu dan berbagi cerita.

BEYOND THE INSTALLATIONS
Selama periode 15 September hingga 15 Oktober, pengalaman di Jakarta Design Collabs 2026 tidak berhenti pada instalasi yang hadir di awal. Berbagai kegiatan seperti talk show, podcast, workshop, cooking class, gathering, hingga diskusi akan berlangsung sepanjang program, mempertemukan desainer, arsitek, seniman, instruktur, dan berbagai pelaku industri kreatif.

Satu instalasi dari Ary Indra juga akan menyusul di pertengahan periode, menjadi kejutan kecil yang sengaja disimpan di tengah perjalanan Cloud Dancer—dan mungkin, alasan untuk datang kembali dan melihat apa yang baru.

Di tengah berbagai interpretasi tersebut, “Cloud Dancer” terasa bukan sekadar sebuah tema, melainkan sebuah cara untuk membuka kemungkinan. Desain bisa dimulai dari material, bergerak menjadi ruang, lalu berubah menjadi percakapan, kenangan, bahkan sebuah pengalaman yang dibawa pulang oleh setiap orang dengan cara yang berbeda.

Because sometimes, the most memorable part of a space is not what we see, but what it makes us feel…

JAKARTA DESIGN COLLABS 2026 — “CLOUD DANCER”
 15 September–15 October 2026
Jakarta Design Center
Jl. Gatot Subroto Kav. 53, Jakarta

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK