presented by

‘FLAG PROJECT”, A Performance by Indonesian Artist Arahmaiani

SHARE THIS
1.14K

Published by Sugar & Cream, Monday 03 June 2019

Text and images courtesy of Kayu-Lucie Fontaine’s Branch in Bali

Kayu, Ubud : May 11- May 31, 2019

I feel strongly that my art must do its part to encourage and empower communities and individual people to evaluate and understand their own situation and problems, particularly issues of cultural, social, political and environment conflict. From there, my art aims to trigger thinking about alternative ways of solving problems with creative solutions. My art is participative and active so involving everyone who sees it and joins it in building a foundation for a more open, democratic, equal and tolerant society.
Arahmaiani

KayuLucie Fontaine’s branch in Bali, Indonesia – is pleased to announce its ninth presentation: “Flag Project,” a performance by Indonesian artist Arahmaiani.

Arahmaiani

Rooted in actions that are community based, “Flag Project” (2006 – ongoing) see the artist engaging with members of various communities in order to manifest their concerns, thoughts and hopes, which she materializes in the form of texts sewn on flags. Initially started by Arahmaiani with Amumarta Pesantren [Islamic boarding school] after a major earthquake hit Yogyakarta in 2006, the project has gone through several implementations in various communities in Indonesia, Australia, Malaysia, Singapore, Thailand, Philippines, Japan, China, Tibet, Germany and Belgium.


Presented by Interni Cipta Selaras

At Kayu Arahmaiani’s performance will involve around thirty people under the leadership of Arahmaiani: Citra, Putu, Dwi, Rudolf, Made, Olen, Sandra, Novi, Simone, Cadiz, Christine, Sinta, Derus, Dek Mas, Yantok, Kating, Apo, Nudika, Manis, Jadul, Kapak, Code, Kijank, Dwerik, Esa, Jojo, Derian, Verdi, Mingso, Krisna, her friends from the artistic community of artists in Bali. Holding thirty flags, the participants will present a parade inside Rumah Topeng dan Wayang [the house of masks and puppets] complex; afterwards, the flags will be displayed at Batu until the end of the project. The performance and the flags are the result of collaborative work. The artist creates an “open art system” based on democratic tools through which the community identifies solutions to the issues that are considered relevant or crucial. During the process, Arahmaiani positions herself as the facilitator, mediating the discussion and allowing the communities to organically express their thoughts in the form of collective, collaborative and individual works. This system creates a sustainable network of communities.

The colorful handmade flags contain the core values of the various faith and cultural communities Arahmaiani has cooperated with over the years. The notions emerged are presented in key words which are sewn in various languages on the flags. The key words included are: Freedom, Love, Heart, Courage, Mind, Culture, Capital, Earth, Water, Air, Food, Resistance, Wisdom, Happiness, Hand in Hand and Solidarity, and also short phrases such as “Don’t be arrogant.” The flags were made by a group of seamstresses in a village near Yogyakarta, on the island of Java, Indonesia.

Arahmaiani’s performance at Kayu is the culmination of a dialogue the artist started with the Balinese community in the Bona village 30 years ago. It is part of a series of initiatives, hosted by Kayu in cooperation with other partners, which aim is to reflect upon social and environmental issues. “Flag Project,” follows “Sustainability Through Differences”, the first Rebirth Forum in Indonesia.

The project marks the opening of a new space called Batu [stone in Indonesian and Balinese languages], which is a space for contemporary art located in a two-story Limasan (traditional Javanese house), with a concrete extension in the back. Complementary to Kayu, Batu is also hosted by Rumah Topeng dan Wayang [the house of masks and puppets].

For further information please contact Lucie Fontaine’s employee in Bali at kayu@luciefontaine.com.

Text and images courtesy of Kayu-Lucie Fontaine’s Branch in Bali

Kayu, Ubud : May 11- May 31, 2019

Saya sungguh merasa seni saya harus ikut mendorong dan memberdayakan masyarakat dan individu untuk mengevaluasi dan memahami situasi dan masalah mereka sendiri, khususnya masalah konflik budaya, sosial, politik dan lingkungan. Dari sana, seni saya bertujuan memicu pemikiran tentang cara-cara alternatif untuk memecahkan masalah dengan solusi kreatif. Seni saya partisipatif dan aktif, melibatkan semua orang yang melihatnya dan bergabung dengannya dalam membangun fondasi untuk masyarakat yang lebih terbuka, demokratis, setara dan toleran.  Arahmaiani

Kayu – cabang Lucie Fontaine di Bali, Indonesia, dengan bangga mempersembahkan sajian kesembilan: “Flag Project” (Proyek Bendera), pertunjukan oleh perupa Indonesia, Arahmaiani.

Arahmaiani

Berakar pada aksi berbasis komunitas, “Flag Project” (2006 – sekarang) mengetengahkan keterlibatan Arahmaiani dengan anggota berbagai komunitas untuk mewujudkan kepedulian, pemikiran dan harapan mereka yang diungkapkan dalam bentuk teks yang dijahit pada bendera. Diawali Arahmaiani dengan Amumarta Pesantren setelah gempa besar yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006, proyek ini telah digelar di berbagai komunitas di Indonesia, Australia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, Cina, Tibet, Jerman dan Belgia.


Presented by Interni Cipta Selaras

Di Kayu, pertunjukan Arahmaiani melibatkan sekitar tiga puluh orang di bawah arahan Arahmaiani: Citra, Putu, Dwi, Rudolf, Made, Olen, Sandra, Novi, Simone, Cadiz, Christine, Sinta, Derus, Dek Mas, Yantok, Kating, Apo, Nudika, Manis, Jadul, Kapak, Code, Kijank, Dwerik, Esa, Jojo, Derian, Verdi, Mingso, Krisna, terdiri dari teman-teman Arahmaiani dari komunitas seniman di Bali. Dengan membawa tiga puluh bendera, para peserta menampilkan parade di kompleks Rumah Topeng dan Wayang. Setelah itu, bendera akan dipajang di Batu sampai proyek berakhir. Pertunjukan dan bendera-bendera tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif. Arahmaiani menciptakan “sistem seni terbuka” berbasis perangkat demokratis yang digunakan untuk mengidentifikasi solusi terhadap masalah yang dipandang relevan atau penting. Selama proses, Arahmaiani memosisikan diri sebagai fasilitator, menjadi perantara diskusi dan mendorong komunitas untuk secara organik mengungkapkan pikiran mereka dalam bentuk karya kolektif, kolaboratif dan individual. Sistem ini menciptakan jaringan komunitas yang berkelanjutan.

Bendera buatan tangan yang berwarna-warni memuat nilai inti dari berbagai komunitas agama dan budaya yang telah bekerja sama dengan Arahmaiani selama bertahun-tahun. Gagasan yang muncul ditampilkan berupa kata kunci dalam berbagai bahasa yang dijahit pada bendera. Kata kunci itu antara lain: Kebebasan, Cinta, Hati, Keberanian, Pikiran, Budaya, Modal, Bumi, Air, Udara, Pangan, Ketahanan, Kebijaksanaan, Kebahagiaan, Bergandengan Tangan dan Solidaritas, dan juga kalimat pendek seperti “Jangan arogan”. Bendera dibuat oleh sekelompok penjahit di sebuah desa di dekat Yogyakarta di Pulau Jawa, Indonesia.

Pertunjukan Arahmaiani di Kayu menjadi puncak dari dialog yang dimulai perupa ini dengan komunitas Bali di Desa Bona, 30 tahun yang lalu. Karya ini adalah bagian dari rangkaian inisiatif yang diselenggarakan oleh Kayu bekerja sama dengan mitra, bertujuan untuk merefleksikan masalah sosial dan lingkungan. “Flag Project” merupakan kelanjutan dari “Sustainability Through Differences”, acara Rebirth Forum yang pertama di Indonesia.

“Flag Project” menandai pembukaan ruang baru bernama Batu, ruang untuk seni rupa kontemporer yang berada di Limasan (rumah tradisional Jawa) bertingkat dua, dengan ekstensi beton di bagian belakang. Melengkapi Kayu, Batu juga bertempat di Rumah Topeng dan Wayang.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi staf Lucie Fontaine di Bali melalui email: kayu@luciefontaine.com.

MOIRE Rugs