presented by

ART JAKARTA GARDENS 2026 RETURNS AS JAKARTA’S OPEN-AIR ART ESCAPE

SHARE THIS
72

Published by Sugar & Cream, Friday 15 May 2026

Images courtesy of Art Jakarta and S&C

Where Art Meets the City

Jakarta terasa sedikit lebih hidup minggu ini ketika Art Jakarta Gardens 2026 kembali hadir di Hutan Kota by Plataran dengan perpaduan seni rupa kontemporer, instalasi ruang terbuka, pertunjukan musik, hingga program publik yang membuat pengalaman menikmati art fair terasa lebih santai dan dekat dengan keseharian kota.

Memasuki edisi kelimanya, ajang open-air art fair yang berlangsung pada 5–10 Mei 2026 ini kembali mengubah ruang hijau urban menjadi titik temu bagi seniman, galeri, kolektor, hingga para city wanderers yang ingin menikmati suasana berbeda di tengah Jakarta.

“Kami ingin menghadirkan ruang di mana seni dan alam dapat dinikmati secara berdampingan di tengah dinamika kota,” ujar Paramitha Soedarjo, Director of MRA Media, mengenai perkembangan Art Jakarta Gardens yang kini semakin menjadi bagian penting dalam lanskap seni kontemporer Indonesia. Ia juga menyoroti bagaimana program publik dan partisipasi galeri yang semakin luas membuat Art Jakarta Gardens berkembang menjadi platform seni yang lebih hidup, terbuka, dan relevan dengan perkembangan seni regional saat ini.

Pada seremoni pembukaan, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menyoroti bagaimana Art Jakarta Gardens membuka peluang yang semakin luas bagi seniman Indonesia untuk berkembang dan menjangkau audiens internasional. “Ajang seperti ini menunjukkan bahwa seni Indonesia memiliki energi, identitas, dan potensi besar untuk terus tumbuh sebagai bagian dari ekosistem budaya dan kreatif yang semakin dinamis,” ujarnya.

Presented by Magran Living

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar turut melihat Art Jakarta Gardens sebagai ruang di mana seni, budaya, dan kreativitas dapat bertemu lebih dekat dengan publik. “Budaya selalu menjadi akar penting dalam membangun kreativitas dan storytelling. Ketika seni hadir di ruang terbuka seperti ini, pengalaman yang tercipta terasa lebih dekat, lebih inklusif, dan lebih hidup bagi masyarakat urban,” ungkapnya.

Sebanyak 26 galeri dari Indonesia dan kawasan Asia hadir tahun ini dengan karya yang tersebar di berbagai sudut area pameran. Dua exhibition tent menghadirkan beragam karya seni dari seniman lokal maupun internasional — mulai dari lukisan, mixed media, hingga instalasi kontemporer yang membuat area indoor terasa intimate namun tetap dinamis. Di saat yang sama, area outdoor Hutan Kota berubah menjadi ruang seni terbuka yang terasa hidup dan multisensory.

Pengunjung berjalan perlahan dari satu instalasi ke instalasi lain, berhenti menikmati detail karya, duduk di area taman saat matahari mulai turun, lalu kembali menyusuri area Sculpture Garden dengan atmosfer yang terasa hangat dan approachable. Dengan lebih dari 30 karya patung yang tersebar di area hijau Hutan Kota, pengalaman menikmati seni terasa jauh lebih hidup dibanding pengalaman melihat pameran di ruang tertutup.

Di antara yang paling mencuri perhatian adalah patung balon T-Rex karya Indra Lesmana yang menghadirkan nuansa playful sekaligus nostalgik di tengah area taman. Instalasi tersebut tampil mencolok dengan bentuk dinosaurus menyerupai balloon sculpture raksasa, menciptakan suasana whimsical yang kontras dengan latar pepohonan Hutan Kota sekaligus menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto. Selain itu, karya dari Naufal Abshar, Yunizar, Tisna Sanjaya, Sunaryo, hingga Eko Nugroho turut menjadi daya tarik tersendiri lewat karakter karya yang kuat dan immersive di berbagai sudut area pameran.

Tidak jauh dari area tersebut, karya rajut gurita raksasa “Tentacles of Wealth” dari Mulyana bersama Bibit menghadirkan karakter gurita ikonis dengan nuansa jenaka sekaligus reflektif di tengah ruang terbuka. Sementara itu, instalasi “Solagua” karya Sigit D. Pratama menghadirkan permainan visual berbasis energi surya dan elemen air yang bergerak ritmis di area outdoor, menciptakan pengalaman yang terasa semakin hidup menjelang malam hari.

Ketika langit mulai gelap, atmosfer Art Jakarta Gardens berubah semakin sinematik lewat instalasi cahaya “The Atrium of Flux” yang menyatu dengan lanskap Hutan Kota. Cahaya yang bergerak di antara pepohonan, sculpture, dan jalur pedestrian membuat seluruh area terasa seperti taman cahaya di tengah kota. Kolaborasi bersama Bank Central Asia, iForte, TACO, Bibit, dan berbagai creative partners lainnya turut menghadirkan eksplorasi material, instalasi interaktif, serta pengalaman ruang yang memperkaya perjalanan pengunjung sepanjang acara berlangsung.

Menjelang malam, atmosfer berubah menjadi semakin hidup lewat rangkaian performance art & live performances yang menjadi bagian dari public programme. Dari pertunjukan Sarita Ibnoe dan Agus Nur Amal PM Toh hingga penampilan musik dari The Cottons, Ali, dan Batavia Collective, Art Jakarta Gardens terasa seperti pertemuan antara art fair, cultural gathering, dan urban lifestyle experience yang terasa menyatu secara natural dalam satu ruang.

Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, Art Jakarta Gardens 2026 terasa seperti ruang jeda — tempat di mana seni, alam, musik, dan manusia bertemu dalam suasana yang lebih cair, hangat, dan menyenangkan.

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK