presented by

SATYANARA MENYAPA UBUD LEWAT SENI DAN BUDAYA

SHARE THIS
72

Published by Sugar & Cream, Monday 19 October 2026

Images courtesy of Satyanara

Merayakan Kreativitas di Tengah Lanskap Alam Ubud

Some places invite you to slow down, look closer, and discover something new. Ubud is one of them…

Di antara lanskap hijau, denyut budaya, dan kehidupan kreatif yang tumbuh di dalamnya, selalu ada ruang untuk menemukan perspektif baru. Kali ini, Satyanara hadir di Kedewatan, membawa seni dan budaya ke dalam pengalaman yang berpadu dengan alam.

Satyanara akan mulai menyambut pengunjung pada 23 Oktober 2026. Destinasi seni dan budaya ini diperkenalkan dalam konferensi pers di Satoo Garden, Shangri-La Jakarta, pada 14 Oktober lalu. Menghadap lanskap Sungai Ayung, destinasi ini menawarkan lebih dari sekadar ruang untuk menikmati karya seni. Galeri, amfiteater, ruang lokakarya, studio seniman, hingga fasilitas residensi dirancang untuk mempertemukan seniman, komunitas, dan pengunjung dalam suasana yang mendorong eksplorasi serta pertukaran gagasan.

Dikembangkan di bawah naungan Satya Djaya Raya Foundation (YSDR), Satyanara membawa gagasan tentang seni sebagai ruang pertemuan lintas budaya. Program pameran, kegiatan kreatif, dan fasilitas pendukungnya membuka kesempatan bagi pengunjung untuk tidak hanya melihat karya, tetapi juga mengenal cerita, pengetahuan, dan perspektif yang melatarbelakanginya. Sebuah cara lain untuk menikmati Ubud, melalui pengalaman seni yang dekat dengan kehidupan dan lingkungan sekitarnya.

Presented by Interni Cipta Selaras

Warna, Alam, dan Jejak Tradisi
Program pembuka Satyanara menghadirkan tiga pameran dengan perspektif berbeda, mulai dari kekayaan warna dalam seni Indonesia, hubungan manusia dengan lingkungannya, hingga tradisi kaligrafi Tiongkok yang diwariskan lintas generasi.

Ubud Art Ground 2026: Letters to Colour berangkat dari Warna Bali, buku yang menelusuri penggunaan dan perkembangan warna dalam seni rupa Indonesia, dari tradisi hingga praktik modern dan kontemporer. Dikuratori oleh Hendro Wiyanto, pameran ini mempertemukan 32 seniman dari Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Solo untuk mengeksplorasi warna sebagai bahasa visual yang terus berkembang mengikuti konteks budaya dan pendekatan artistik. Pameran berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 24 Januari 2027.

Bagi Yuanita Sawitri, Direktur Ubud Art Ground, eksplorasi ini berangkat dari pemahaman bahwa tradisi bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu, melainkan terus menemukan makna baru seiring perubahan zaman.

“Tradisi dan budaya selalu berkembang seiring zaman. Keduanya bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu, tetapi terus hidup dan menemukan makna baru dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui Ubud Art Ground, kami ingin melihat bagaimana tradisi artistik tetap relevan dan bisa menjadi inspirasi bagi seniman masa kini,” ujarnya.

Tahun ini, eksplorasi tersebut berfokus pada dunia warna, termasuk kosmologi warna Bali yang memiliki makna tersendiri melalui merah, kuning, hitam, dan putih. Yuanita menambahkan, “Dengan mempertemukan seniman dari berbagai daerah dan generasi, kami berharap pengunjung bisa melihat bagaimana warisan budaya terus hidup dan memberi inspirasi bagi perkembangan seni kontemporer.”

Sementara itu, Fluid Kinship yang dikuratori oleh Mella Jaarsma dan Yipei Lee mengangkat hubungan antara manusia, alam, dan lanskap budaya yang membentuk kehidupan sehari-hari. Berangkat dari riset yang dilakukan pada 2024–2025, pameran ini menelusuri bagaimana sejarah, geografi, ekologi, sistem pangan, dan perpindahan manusia saling memengaruhi. Menghadirkan perspektif dari Iran, India, Indonesia, Inggris, Italia, dan Taiwan, Fluid Kinship mengajak pengunjung melihat bagaimana hubungan dengan lingkungan turut membentuk identitas dan kebudayaan. Pameran ini berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 3 Januari 2027.

Pameran ketiga, A Brush Between Worlds, membawa pengunjung lebih dekat pada tradisi kaligrafi Tiongkok. Melalui Four Treasures of the Study—empat perangkat utama dalam praktik kaligrafi tradisional Tiongkok—serta karya lukisan dan ukiran segel dari koleksi mendiang Profesor Chou Chen, pameran ini menelusuri hubungan antara praktik artistik, filosofi, dan warisan budaya. Di balik setiap goresan, tersimpan pengetahuan dan nilai yang terus dijaga serta diwariskan lintas generasi. Pameran ini berlangsung pada 22 Oktober 2026 hingga 30 September 2027.

Ketiganya menawarkan pintu masuk yang berbeda untuk memahami seni dan budaya. Ada warna yang menyimpan ingatan kolektif, lanskap yang membentuk hubungan antarmanusia, serta tradisi yang terus hidup melalui praktik dan pengetahuan. Bersama-sama, ketiga pameran ini mengajak pengunjung melihat karya seni bukan hanya sebagai sesuatu untuk dinikmati, tetapi juga sebagai cerita yang layak ditelusuri.

Lebih dari Sekadar Galeri
Pengalaman di Satyanara tidak berhenti pada ruang pamer. Diskusi, lokakarya, pemutaran film, dan pertunjukan membuka kesempatan bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan seni melalui berbagai cara. Sementara itu, studio dan fasilitas residensi menyediakan ruang bagi seniman untuk mengembangkan gagasan, mengerjakan proyek, serta bertukar pengalaman dengan praktisi lain.

Menariknya, pengalaman ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang sudah akrab dengan dunia seni. Melalui berbagai lokakarya dan kegiatan partisipatif, pengunjung dapat mencoba praktik kreatif seperti melukis, tanpa harus memiliki latar belakang atau pengalaman sebelumnya. Seni pun hadir bukan semata untuk diamati, melainkan juga untuk dicoba, dirasakan, dan dinikmati bersama.

Bagi Albertus Pratomo, Perwakilan Satya Djaya Raya Foundation (YSDR), keterbukaan semacam ini menjadi bagian penting dari visi Satyanara.

“Satyanara dirancang bukan hanya sebagai ruang bagi seniman untuk berkarya dan memamerkan hasil karyanya. Tempat ini juga menjadi ruang pertemuan bagi seniman, komunitas, dan masyarakat luas untuk bertukar gagasan, belajar satu sama lain, dan berkolaborasi. Melalui pertunjukan, lokakarya, dan berbagai kegiatan kreatif, kami berharap seni dapat diakses oleh lebih banyak orang, apa pun latar belakang maupun pengalaman mereka. Kami juga ingin membuka ruang pertukaran budaya, mempertemukan kearifan lokal dan tradisi artistik dengan perspektif dari berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Kehadiran ruang seni di tengah lanskap alami memberi Satyanara karakter tersendiri. Di sini, pengalaman menikmati karya tidak terbatas pada apa yang tersaji di dalam galeri, tetapi juga pada kesempatan untuk mengambil jeda, menyerap suasana, dan melihat bagaimana seni dapat berdialog dengan lingkungan sekitarnya.

Dengan menyatukan pameran, program kreatif, dan ruang kolaborasi, Satyanara ingin menjadikan seni lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus mempertemukan seniman, komunitas, dan masyarakat dari beragam latar budaya.

If you’re heading to Bali, why not add Satyanara to your Ubud itinerary and see a different side of the town through art, culture, and creativity?

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di situs resmi Satyanara.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK