IDEAFEST 2026: RE:HUMANIZE, MENEMUKAN KEMBALI MAKNA MANUSIA DI ERA AI
Published by Sugar & Cream, Friday 18 September 2026
Images courtesy of IdeaFest
Di Persimpangan Teknologi dan Kreativitas
Di tengah AI yang semakin mampu mengambil alih berbagai proses kreatif, pertanyaan tentang peran manusia menjadi semakin relevan. Teknologi dapat bekerja lebih cepat, tetapi pengalaman, intuisi, perspektif, dan cara manusia memberi makna tetap menjadi bagian penting dari proses kreatif. Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat IdeaFest 2026, yang digelar untuk ke-15 kalinya pada 4–6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Selatan, dengan mengusung tema “Re:Humanize”.

Lebih dari 160 sesi dengan 500+ pembicara, experiential activations, creative marketplace, serta kolaborasi lintas industri hadir untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara manusia, teknologi, dan kreativitas. Relevansinya terasa semakin nyata: 69% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka selama setahun terakhir, sementara ekonomi kreatif menyumbang lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja. Seiring AI hadir di berbagai lini—dari desain, animasi, gim, aplikasi hingga digital marketing—IdeaFest membuka percakapan tentang cara manusia bekerja, mencipta, dan tetap memberi makna di tengah perubahan tersebut.

Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest
“Selama 15 tahun, IdeaFest telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara nasional dan internasional melalui lebih dari 1.000 sesi, dan menjadi bagian dari perjalanan lebih dari 200.000 pengunjung. Tahun ini, melalui “Re:Humanize”, kami ingin mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI dan bagaimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest.

Presented by Coulisse | INK
500+ Pembicara, Satu Percakapan tentang Masa Depan
Beragam perspektif hadir melalui nama-nama dari berbagai bidang, seperti Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga.

[Ki-Ka] Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest, Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Galih Sulistyaningra, CEO and Co-Founder of Smartick Indonesia
Menurut Firdza Radiany, Content Lead & BrainTrust IdeaFest, kurasi tahun ini berangkat dari satu pertanyaan: bagaimana manusia tetap menjadi pusat ketika teknologi terus berkembang? Dalam konteks ini, AI ditempatkan bukan sebagai pengganti, melainkan alat yang dapat memperluas kemampuan manusia.

[Ki-Ka] Firdza Radiany – Content Lead and Braintrust of IdeaFest, Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest, Patricia Davina, Collect Con Partner Representative, Verren Ornela, ESCAPE Repres
AI sebagai Enabler, Manusia sebagai Pengarah
Dalam ekosistem dengan sekitar 185 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial di Indonesia, AI membuka ruang baru bagi industri kreatif. Indosat Ooredoo Hutchison melalui filosofi “Heartware Inside Hardware” melihat teknologi sebagai enabler yang seharusnya memperluas potensi manusia, bukan menggantikannya.

“AI memberi kita kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya. Kami percaya, ketika kemampuan teknologi berpadu dengan potensi manusia, lebih banyak kemungkinan dapat diwujudkan. Di situlah Indosat mengambil peran, membuka akses dan kesempatan agar teknologi dapat memberdayakan lebih banyak orang. Inilah semangat #LebihBaikIndosat,” ujar Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison.

Hal serupa disampaikan Galih Sulistyaningra, CEO and Co-Founder Smartick Indonesia. Menurutnya, AI dapat mempercepat proses kreatif dan membuka kemungkinan baru, tetapi perspektif, pengalaman, emosi, intuisi, serta kemampuan memahami konteks tetap menjadi elemen yang membentuk identitas dan makna sebuah karya.
Ketika Ide Menjadi Pengalaman
Gagasan tersebut hadir melalui pengalaman yang lebih langsung. Bersama JKTGo, IdeaFest menghadirkan IdeaFest Picks yang mempertemukan pengunjung dengan jenama lokal, UMKM, dan pelaku kreatif melalui produk serta cerita di balik prosesnya. Sementara itu, Collect Con mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif, sedangkan IdeaFest X bersama ESCAPE menghadirkan instalasi dan aktivitas interaktif yang mengajak pengunjung tidak hanya melihat, tetapi turut mengalami dan berinteraksi dengan ide secara langsung.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, IdeaFest menempatkan pengunjung sebagai bagian aktif dari proses kreatif, bukan sekadar penerima atau penonton.
“Kami ingin IdeaFest menjadi ruang yang tidak hanya memberikan inspirasi lewat diskusi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan sesuatu secara langsung. Karena sering kali, ide baru muncul dari pertemuan dan pengalaman yang tidak kita rencanakan,” ujar Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest.
“Bagi kami, pengalaman terbaik lahir ketika seseorang tidak hanya melihat atau mendengar sebuah ide, tetapi juga merasakannya secara langsung. Itulah yang ingin kami bawa ke IdeaFest tahun ini,” ujar Verren Ornela, ESCAPE Representative.
Menjaga Suara Manusia
Di tengah perubahan tersebut, AI juga semakin menjadi bagian dari keseharian para pekerja, termasuk di industri media dan kreatif. Kemampuannya membantu mencari informasi, mengembangkan ide, hingga mempercepat proses produksi menawarkan efisiensi yang sulit diabaikan. Namun, semakin mudah sebuah pekerjaan diselesaikan oleh teknologi, semakin penting pula peran manusia untuk membaca konteks, mempertanyakan informasi, menyaring ide, dan memberikan perspektifnya sendiri. Bagi pekerja kreatif, termasuk jurnalis, AI idealnya bukan pengganti proses berpikir, melainkan alat yang membantu mempercepat pekerjaan tanpa menghilangkan suara, penilaian, dan tanggung jawab manusia. Di sinilah “Re:Humanize” terasa relevan—bukan untuk menjauhkan manusia dari teknologi, tetapi memastikan teknologi tetap digunakan dengan tujuan yang manusiawi.
“Re:Humanize” tidak semata berbicara tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan AI, tetapi tentang apa yang ingin tetap dipertahankan ketika teknologi semakin mampu meniru, mempercepat, dan menghasilkan. Kreativitas, empati, perspektif, koneksi, serta kemampuan menentukan arah dan makna menjadi pengingat bahwa teknologi mungkin dapat memperluas kemungkinan, tetapi manusialah yang memberi alasan di baliknya.
SEHELAI, BANYAK CERITA
Sehelai hijab tak lagi sekadar pelengkap, tetapi cara lain untuk bermain dengan gaya, warna, dan ekspresi diri bersama UNIQLO Hijab Fall/Winter 2026.
read moreIDEAFEST 2026: RE:HUMANIZE, MENEMUKAN KEMBALI MAKNA MANUSIA DI ERA AI
IdeaFest 2026 melalui “Re:Humanize” mengajak kita melihat kembali apa yang membuat manusia tetap berarti di tengah perkembangan AI.
read moreVENINI X PETER MARINO: CILINDRO CON PIATTO INCALMATO
A contemporary dialogue between VENINI and Peter Marino unfolds through Cilindro con Piatto Incalmato, a sculptural limited-edition collection celebrating...
read moreLOUIS VUITTON X SINGER TAKES TO THE ROAD: WHEN THE ART OF TRAVEL BECOMES A PORSCHE 911
Louis Vuitton and Singer Vehicle Design turn two Porsche 911s into moving expressions of craftsmanship, travel and contemporary luxury.
read moreTOTO X YUNI JIE: "TOTO in Color"
TOTO x Yuni Jie launches 'TOTO in Color', featuring an outdoor art installation and a sculpture garden inspired by Indonesia's heritage.
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read more
