presented by

ADITH MEMPERSEMBAHKAN CHRONICLE, MERAYAKAN KEINDAHAN YANG DITINGGALKAN WAKTU

SHARE THIS
82

Published by Sugar & Cream, Friday 04 September 2026

Images courtesy of ADITH

Koleksi Resort 2027 di IFW 2026

A chronicle is a story shaped by time, and for ADITH, it becomes a fashion narrative where memories, textures, and heritage are reinterpreted through a contemporary lens.

Berangkat dari gagasan tersebut, ADITH mempersembahkan Chronicle, koleksi Resort 2027 yang dipresentasikan dalam Indonesia Fashion Week 2026. Alih-alih mengejar kesempurnaan dan kebaruan, koleksi ini menemukan pesonanya dalam lapisan pengalaman, perubahan, dan usia yang perlahan memberi karakter.

Dalam dunia mode yang terus bergerak mengejar kebaruan, ADITH memilih melihat sesuatu yang lebih subtil yaitu pesona dari hal-hal yang telah melewati waktu. Memori, alam, dan warisan tekstil kemudian menjadi bagian dari bahasa visual Chronicle, diterjemahkan kembali dalam pendekatan yang terasa modern namun tetap memiliki kedalaman.

Narasi tersebut terasa sejak awal pertunjukan ketika Artika Sari Devi, Puteri Indonesia 2004, membuka runway dalam balutan setelan beskap dan celana pendek. Look tersebut dilengkapi antique brooch dari Kasunanan Surakarta bertatahkan berlian dengan sepuhan emas, serta tenun Ulos dari Bagas Situmorang. Sepatu kulit Garut karya PATRIS dalam warna senada melengkapi penampilannya.

Kehadiran Artika pun terasa pas sebagai pembuka Chronicle. Sebagai Puteri Indonesia 2004 yang berhasil menembus first cut Miss Universe, ia juga meraih penghargaan Best Actress di Nantes Three Continents Festival, Prancis, melalui film Opera Jawa. Perjalanan tersebut membuat pembukaan Chronicle terasa semakin personal.

Presented by Coulisse | INK

Semangat tersebut juga menemukan titik temu dengan tema besar Indonesia Fashion Week 2026, “Ulos Simetria”. Warisan tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan sebagai sesuatu yang dapat terus berkembang dan menemukan bentuk baru.

Untuk Chronicle, ADITH menelusuri inspirasi dari lanskap yang tertutup, tapestry vintage, forest colour, hingga interpretasi modern atas kain Ulos. Referensi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam palet warna yang tenang namun kaya nuansa.

Hijau lumut dan hijau hutan bertemu dengan celadon pucat, biru Prusia, ecru, serta berbagai gradasi Cloudy Dancer. Warna-warna ini membangun atmosfer yang dekat dengan alam, sekaligus membawa sedikit rasa nostalgik. Bukan sekadar menjadi dekorasi, warna ikut menghidupkan cerita tentang lanskap dan waktu.

Namun, daya tarik koleksi ini tidak berhenti pada warna. Tekstur menjadi bagian penting dalam membangun karakternya. ADITH mengeksplorasi kembali kompleksitas tekstil antik melalui transparansi, kilau, dan permukaan yang terasa tactile.

Sheer, katun, dan linen dipadukan dengan chiffon transparan serta organza ringan, sementara sentuhan lamé dan embellishment menghadirkan kilau yang lembut. Layering memberi dimensi pada setiap tampilan, membuat material terasa seperti membawa cerita masing-masing.

Ada kesan familiar sekaligus baru di sana—seperti membuka kembali halaman lama dan membacanya dari sudut pandang yang berbeda. Masa lalu tidak direplikasi begitu saja, tetapi diterjemahkan agar tetap terasa dekat dengan kehidupan hari ini.

Permainan material tersebut juga menciptakan dialog antara kekuatan dan kelembutan. Struktur yang tegas tidak terasa kaku, sementara elemen feminin hadir tanpa kehilangan karakter. Dirancang untuk perempuan dan laki-laki, siluetnya bergerak dengan keseimbangan yang terasa sophisticated namun tetap effortless.

ADITH menerjemahkan Chronicle dengan membawa memori, tekstil, warna, dan karakter dari masa lalu ke dalam bentuk yang lebih modern. Sebuah pengingat bahwa keindahan tidak selalu tentang sesuatu yang baru—terkadang, justru jejak perjalanan yang membuatnya lebih berarti.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK