presented by

POSTCARD FROM ISTANBUL: SEBUAH KISAH YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI

SHARE THIS
76

Published by Sugar & Cream, Tuesday 22 September 2026

Images Courtesy of Buttonscarves

Buttonscarves, Istanbul Series, dan Sebuah Perjalanan

Ada kota-kota yang meninggalkan kesan bahkan setelah perjalanan berakhir. Istanbul adalah salah satunya. Berada di antara dua benua, kota ini menyimpan lapisan sejarah, arsitektur, dan ornamen yang diterjemahkan Buttonscarves ke dalam Istanbul Series.

Ornamen floral Ottoman, siluet arsitektur, dan permainan tekstur menjadi titik awalnya, diolah melalui bahasa desain kontemporer untuk menghasilkan motif yang feminin sekaligus menangkap karakter khas kota tersebut. Di Indonesia, rangkaian ini tersedia dalam 14 pilihan warna, termasuk dua warna eksklusif melalui situs web dan selected stores. Untuk pasar Türkiye, 10 warna eksklusif hadir dalam format voile square dan shawl, yang akan diperkenalkan pada 19 September 2026 setelah peluncuran di Indonesia pada 11 September.

Hubungan dengan Istanbul tidak berhenti pada motif dan warna. Gagasan tentang perjalanan, kenangan, dan pertemuan ikut menjadi bagian dari cara koleksi ini diperkenalkan melalui “Postcard from Istanbul”, drama tujuh episode yang membawa dunia visualnya ke dalam sebuah kisah.

Kisahnya mengikuti Aisha, yang menemukan surat tersegel di antara barang-barang peninggalan mendiang neneknya di Jakarta. Surat tersebut membawanya ke Istanbul, tempat ia bertemu Kaan—seseorang yang terasa asing sekaligus familiar. Ketika keduanya kembali mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa kecil, potongan masa lalu perlahan muncul, termasuk kumpulan kartu pos yang tidak pernah dikirim.

Presented by Coulisse | INK

Perjalanan Aisha membuat kota ini menjadi lebih dari sekadar latar. Dari satu episode ke episode berikutnya, tempat, suasana, dan kenangan menjadi bagian dari pengalaman yang menyertai koleksi, memberi audiens cara lain untuk mengenal kisah di balik Istanbul Series.

“Türkiye menjadi salah satu pasar penting bagi Buttonscarves, terutama dengan perkembangan modest fashion yang begitu kuat di sana. Setelah menghadirkan platform penjualan digital pada awal tahun ini, kami ingin melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan produk,” ujar Mifthahul Jannah, Creative Director Buttonscarves. “Melalui Istanbul Series, kami ingin menghadirkan sesuatu yang terasa lebih dekat dengan para perempuan di Türkiye, dengan mengambil inspirasi dari keindahan kota yang berada di antara Eropa dan Asia. Lewat drama tujuh episode ini, kami juga ingin memperkenalkan Buttonscarves melalui cerita yang dapat membangun kedekatan dengan audiens, bukan hanya melalui scarf.”

Narasi tersebut berjalan beriringan dengan langkah Buttonscarves di Türkiye. Sejak awal 2026, label fashion ini telah menghadirkan digital store dan situs web khusus untuk pasar setempat, membuka akses langsung bagi pelanggan di Türkiye. Kehadiran digital tersebut menjadi pijakan awal untuk mengenal pasar sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiens setempat.

Langkah berikutnya terasa lebih personal: mengambil inspirasi langsung dari kota yang menjadi bagian dari pasar tersebut, lalu menerjemahkannya ke dalam desain sekaligus narasi yang dekat dengan audiens.

“Sebagai fashion house yang menaungi Buttonscarves, Modinity membangun fondasi bisnis yang memungkinkan brand-brand kami memasuki dan bertumbuh di pasar internasional,” ujar Linda Anggrea, CEO Modinity Group. “Türkiye merupakan pasar strategis bagi kami karena memiliki industri modest fashion yang telah berkembang kuat serta posisi yang menghubungkan Eropa dan Asia. Kehadiran secara digital menjadi pijakan awal bagi kami untuk memahami pasar dan menjangkau pelanggan di Türkiye. Dari sana, kami melihat peluang untuk membangun Buttonscarves secara lebih kuat sekaligus memperluas ruang pertumbuhan bagi Modinity dan brand-brand di bawahnya di kawasan ini.”

Lebih dari menerjemahkan sebuah kota ke dalam motif dan warna, Buttonscarves menggunakan Istanbul sebagai titik temu antara desain dan kenangan. Bersama “Postcard from Istanbul”, perjalanan dari Jakarta menuju kota di antara dua benua itu menjadi sebuah kisah tentang pertemuan, ingatan, dan masa lalu yang ternyata belum benar-benar pergi.

Interni Cipta SelarasCoulisse | INK