JF3 TALK: RE-CRAFTED: SHAPING THE FUTURE — MENELUSURI STORYTELLING DALAM FASHION
Published by Sugar & Cream, Monday 25 May 2026
Images courtesy of JF3
Ketika Cerita Menjadi Penting
Bagaimana sebuah karya fashion dapat dipahami, dipercaya, dan tetap relevan di tengah perubahan industri? Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak dalam JF3 Talk: Re-CRAFTED: Shaping The Future yang berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, di Summarecon Discovery, La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading.

Ibu Thresia Mareta (Advisor JF3 & Co-Initiator PINTU) Bersama para narasumber, Daniel Ngantung (Editor Wolipop) dan Hilmy Faiq (Kepala Desk. Budaya Kompas)
Mengangkat tema “Karya yang Kuat Tetap Butuh Cerita dan Komunikasi yang Tepat”, sesi yang dipandu oleh Dino Augusto ini menghadirkan Thresia Mareta (Advisor JF3, Co-Founder PINTU, dan Founder LAKON Indonesia), Hilmy Faiq (Kepala Desk. Budaya Kompas), serta Daniel Ngantung (Editor Wolipop) untuk membahas mengapa sebuah karya kini membutuhkan lebih dari sekadar desain atau kualitas produk—melainkan juga komunikasi dan storytelling yang mampu membangun koneksi dengan publik.
Bagi Thresia Mareta, JF3 sejak awal dibangun bukan hanya sebagai panggung presentasi fashion, tetapi juga ruang belajar bersama bagi seluruh ekosistem industri—mulai dari desainer, media, hingga pasar.

Ibu Thresia Mareta
“JF3 bukan hanya platform untuk tampil saja, di sini kami ingin kita benar-benar bisa saling mengisi, saling berbagi ilmu, supaya kita semua bisa tumbuh bersama,” ujar Thresia Mareta.
Menurut Thresia, pertumbuhan industri tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan koneksi yang lebih kuat antara pelaku fashion, media, dan pasar agar perkembangan tidak berhenti sebagai internal bubble, tetapi mampu tumbuh secara lebih luas dan berkelanjutan. Melalui berbagai inisiatif seperti Fashion Village, CODE.STRT, Future Fashion Designer, hingga program PINTU ke Paris Trade Show, JF3 terus mendorong pelaku fashion Indonesia untuk memahami standar global sekaligus memperluas eksposur internasional.

Presented by Magran Living
Dalam diskusi, para pembicara menyoroti pentingnya sebuah karya hadir dengan makna yang lebih kuat agar tetap relevan bagi audiens yang semakin kritis. Hilmy Faiq menilai bahwa konsumen hari ini tidak lagi hanya mempertimbangkan fungsi atau estetika sebuah produk, tetapi juga nilai yang dibawanya—mulai dari keberlanjutan lingkungan, kemanusiaan, hingga dampak sosial.
“Kenyamanan di hati kini lebih penting dari kenyamanan di tubuh. Pembeli ingin merasa menjadi orang yang lebih baik ketika membeli suatu produk,” ujar Hilmy Faiq.

Hilmy Faiq
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas produk dan narasi kini tidak lagi dapat berjalan sendiri. Sebuah karya membutuhkan cerita yang mampu menjelaskan proses, nilai, dan alasan keberadaannya—apakah ia mendukung komunitas, menghadirkan praktik yang lebih bertanggung jawab, atau memiliki dampak yang lebih besar dari sekadar fungsi produk itu sendiri.
Melanjutkan pembahasan, Daniel Ngantung menyoroti pentingnya konsistensi dalam membangun identitas sebuah label. Menurutnya, storytelling tidak dapat berhenti hanya pada satu koleksi atau momentum sesaat, tetapi harus menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang sebuah jenama.

Dino Augusto
“Narasi yang sudah dibangun tidak boleh berhenti di koleksi pertama saja, harus terus ditarik sebagai benang merah di setiap koleksi berikutnya. Kalau tidak, jadinya sekadar jualan, bukan benar-benar punya nilai,” ujar Daniel Ngantung.
Di tengah lanskap media yang semakin padat dan over-saturated, diskusi juga menyoroti hubungan antara media dan jenama fashion yang perlu berkembang secara lebih bermakna. Tidak cukup lagi mengandalkan satu format komunikasi atau press release generik untuk semua media, jenama kini dituntut memahami karakter audiens dan kebutuhan masing-masing platform secara lebih spesifik.

Hartono Gan
Storytelling yang lebih personal, autentik, dan memiliki sudut pandang yang jelas dinilai menjadi pembeda penting di tengah banyaknya narasi yang terasa seragam. Media pun kini semakin tertarik pada cerita di balik proses kreatif—mulai dari material yang digunakan, keterlibatan pengrajin lokal, proses produksi, hingga nilai budaya dan sosial yang melatarbelakangi sebuah karya.
Di saat yang sama, para desainer juga didorong untuk lebih siap membangun komunikasi yang jelas mengenai identitas, visi, dan perjalanan jenamanya, alih-alih hanya mengandalkan visual koleksi semata. Karena pada akhirnya, publik tidak hanya membeli produk, tetapi juga memahami makna di baliknya.
Menutup diskusi, Thresia Mareta kembali menegaskan bahwa karya yang baik tetap membutuhkan komunikasi yang tepat agar dapat terus berkembang dan membangun kepercayaan publik.
“Karya yang kuat tetap membutuhkan cerita yang kuat agar bisa dipahami, dipercaya, lalu berkembang,” tutup Thresia Mareta.
Melalui diskusi lintas perspektif ini, JF3 kembali menegaskan perannya sebagai ruang dialog yang mempertemukan industri, media, dan pelaku kreatif—mendorong fashion Indonesia untuk tidak hanya berkembang melalui kreativitas visual, tetapi juga melalui cerita, nilai, dan relevansi yang lebih kuat di masa depan.
LOUIS VUITTON – OBJETS NOMADES COLLECTION 2026
Discover the beauty of Objets Nomades Collection 2026 by Louis Vuitton rooted in the legacy of Pierre Legrain – where heritage is redefined into...
read moreFAURÉ LE PAGE UNVEILS THE BISTROT COLLECTION FOR SPRING/SUMMER 2026
Bistrot Collection: Fauré Le Page Captures the Spirit of Parisian Bistro Life for Spring/Summer 2026
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read moreXIAOMI INDONESIA UNVEILS THE XIAOMI ELECTRIC SCOOTER 6 SERIES
An effortless approach to urban commuting, the Xiaomi Electric Scooter 6 Series brings together performance, portability, and connected living in one...
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read moreSAL PROJECT: “BERBUNGA-BUNGA” BY ANGKI PURBANDONO
“Berbunga-Bunga” pameran tunggal Angki Purbandono oleh SAL Project mengetengahkan meditasi puitis tentang waktu, kehilangan, cahaya dan relasi manusia...
read more

