A beautiful life deserves a beautiful home
presented by

MINIMALIST RETREAT IN THE CITY

6.29K

Text by Anggita D.S, photography by Davy Linggar.


Thursday 07 February 2019

Apa yang ada di benak Anda ketika membayangkan rumah pensiun? Mungkin saja rumah bergaya ‘klasik’ bergaya Peranakan, atau malah vila superluas dengan segala fasilitas yang dapat menyibukkan Anda di hari tua nanti. Well, rumah pensiun satu ini yang didesain oleh d-associates, alias Gregorius Supie Yolodi & Maria Rosantina, bisa jadi jauh dari bayangan Anda. Sekali lihat dari tampak luarnya, rumah dengan bentuk unik dan warna hitam pekat yang mencuri perhatian ini justru terkesan futuristik sekaligus penuh kenangan–think a modernist house in the 1960s.

Melalui sebuah wawancara eksklusif bersama d-associates, Sugar & Cream berusaha kuak inspirasi di balik pengerjaan rumah ini. Berangkat dari keinginan sang klien yang ingin menjadikan rumah ini sebagai “rumah terakhirnya”, untuk dijadikan rumah peristirahatan serta tempat berkumpul teman dan keluarga, d-associates pun mendesain rumah ini dengan tujuan menjadikannya suaka di tengah kota.

Untuk mewujudkannya, d-associates menawarkan beragam ide desain yang dapat memuaskan keinginan klien, yaitu “a successful hidden viewing space, center courtyard as main light well and main orientation, as well as blending the inside and outside”. Artinya? Selain mengandalkan struktur kokoh concrete post and beam, pemilihan warna kelam juga menjadi salah satu elemen utama yang menghidupkan konsep ini. “Kami ingin agar rumah ini tampak gelap dan bold, karena warna hitam akan terlihat sedikit ‘melebur’ dengan alam dan di dini hari. Selain itu, warna hitam juga menciptakan sebuah volume tersendiri yang membedakannya dengan rumah-rumah lain di sekitar.

Konsep utama dari rumah ini adalah ruang terbuka dengan inner courtyard di bagian tengahnya. Ruang keluarga menjadi titik fokus di sini, di mana segala aktivitas keluarga akan berlangsung di sana, maka jadilah ruang ini terbuka sebagaimana adanya, tanpa kehadiran kolom atau pembatas. “Ada penopang setinggi 16 meter yang terbuka ke taman di depan. Seperti yang disebut sebelumnya, fungsi inner courtyard adalah sebagai orientasi utama dan sumber pencahayaan terbaik untuk semua ruang dan sumber sirkulasi di rumah,” kata Maria. Cherry on top? Area atap sebagai ‘akhir perjalanan’ yang dapat dijadikan suaka terbuka untuk menikmati pemandangan kota dari atas.

Pembangunan rumah ini tentunya bukan tanpa tantangan. Isu awal dan utama adalah lokasi rumah yang terletak di sebuah komplek dan berupa typical compound di Jakarta. Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan saat melihat ke luar karena beberapa bagian rumah ini ada di ujung jalan. Meski demikian, d-associates menyiasatinya dengan menciptakan fasad yang berjajaran: mereka membuat pembukaan dan orientasi ke arah taman dan semua orientasi ke inner courtyard. Dengan demikian, kesan yang tercipta adalah kesan playful di dalam dan luar ruangan, meleburkan eksterior dan interior, serta menciptakan kolaborasi di dalam dan luar.

“Kami mencoba menemukan ide dari awal, menemukan petunjuk dari kebutuhan klien, membuat konsep yang kemudian dituangkan ke desain,” kata d-associates saat ditanya mengenai inspirasi di balik desain rumah ini. “Kami juga mencoba cari tahu tentang cara hidup di daerah tropis, dan memanfaatkan semua situasi sebagai bagian dari desain. Inspirasinya datang dari cara arsitektur vernakular dan orang-orang berhasil bertahan melewati masa-masa dengan alam. Bagaimana pendekatan modern dapat berhubungan dan berbaur dengan konteksnya. Setiap situs memiliki impian dan tujuan mereka sendiri, kita hanya perlu memahaminya dan menjadi bagian darinya.”

“Fungsi inner courtyard adalah sebagai orientasi utama dan sumber pencahayaan terbaik untuk semua ruang dan sumber sirkulasi di rumah. Cherry on top? Area atap sebagai ‘akhir perjalanan’ yang dapat dijadikan suaka terbuka untuk menikmati pemandangan kota dari atas.”

“Inspirasinya datang dari cara arsitektur vernakular dan orang-orang berhasil bertahan melewati masa-masa dengan alam. Bagaimana pendekatan modern dapat berhubungan dan berbaur dengan konteksnya.”

Additional Info :
Architects: d-associates / Gregorius Supie Yolodi & Maria Rosantina
Principal Architect: Gregorius Supie Yolodi
Partner Architect in charge: Maria Rosantina
Project Architect: Prastika Lestari
Project designer: Brenda Mathovani
Duration of project: 2015–2016 (design stage);  2016–2018 (construction stage)
Structure  Consultant: Hadi & Associates
Mechanical Electrical Consultant: Rusman Riyadi
Lighting: Leni Lentera
Landscape: lanskaptika_prima
Site Area: 535 SQM
All Indoor Area: 671.08 SQM
All Terrace/Deck/Balcony/Outdoor Stair/Carport: 311.88 SQM

Finishing Exterior:
Floor: Andesit Stone; Ulin Wood for terrace
Wall: special textured paint SKK
Ceiling: gypsum with wall paint finish
Door wind: aluminium frame and glass, ex. Aluplus

Finishing Interior:
Floor: White Carrara Marble | Engineered Wood White Oak Parquette ex. Homogeneous Tiles for service area
Wall: Wall painted | White Carrara Marble for pantry and bathroom | Plywood with White Oak veneer | White Carrara Marble
Ceiling: Gypsum with wall paint finish