BERLUTI LAUNCHES Winter 2021 Collection
Published by Sugar & Cream, Friday 23 July 2021
Text by Dinda Bestari, Image courtesy of Berluti
Living Apart Together
Label fesyen pria asal Prancis, Berluti, telah mengumumkan bahwa mereka ‘berpisah’ dengan sang Creative Director, Kris Van Assche. Perancang asal Belgia ini, yang telah merancang koleksi ready-to-wear serta produk kulit signature dari jenama ini, memutuskan untuk mengundurkan diri dari Berluti. Winter 2021 Collection dari Kris Van Assche yang dikeluarkan baru-baru ini dengan tajuk Living Apart Together akan menjadi koleksi ‘perpisahan’ untuk jenama tersebut.
Tepatnya 8 April 2021, Berluti bersama Kris Van Assche mempersembahkan Winter 2021 Collection-nya dalam sebuah instalasi seni pertunjukan yang dipentaskan secara digital di Paris dan di Shanghai yang dihadiri para tamu. Didorong untuk menentang batasan waktu, Kris Van Assche berkolaborasi dengan sutradara video Antoine Asseraf, dan konsultan kreatif Yoann Lemoine (alias Woodkid) dalam menyajikan pengalaman pertunjukan virtual yang didedikasikan untuk tindakan figuratif melintasi batas.

Skenografinya menggunakan papan petunjuk jarak sosial – grafik yang sekarang sudah tidak asing lagi bagi kita semua – sebagai ilustrasi keterbatasan waktu. Melalui koreografi, ia mengungkapkan rasa kebebasan yang ditemukan dalam batas-batas kendala, perhatian daripada fisik. Koleksi ini mengadaptasi karya pelukis Lev Khesin, yang warna dan bentuk teksturnya menginterpretasikan teknik dan fabrikasi. Seniman kontemporer Rusia yang berbasis di Berlin, Lev Khesin, mengekspresikan dirinya dalam pola abstrak dan taktil yang dibuat melalui berbagai lapisan dan warna cat silikon. Praktiknya menggemakan metode patina artisanal Berluti, yang menggambarkan hubungan alami antara domain visual dan praktis Lev Khesin dan Kris Van Assche.

Simbiosis antara format presentasi digital dan sifat ekspresi artistik Lev Khesin yang sangat taktil menciptakan dialog antara yang gamblang dan virtual: pencarian ide tentang hubungan manusia dan material di ranah digital. Kebutuhan akan realitas yang nyata dan taktil tercermin dalam motif, warna, dan tekstur yang diinformasikan oleh karya Lev Khesin. Ditafsirkan dalam pakaian dan aksesori, mereka menciptakan fondasi untuk koleksi yang diwujudkan oleh fluiditas, kemampuan beradaptasi, dan tangan manusia. Garis-garis halus yang tidak terstruktur memotong siluet jahitan yang lembut dan santai. Ini adalah perasaan nyaman yang diekspresikan dalam setelan neo-setelan yang memadukan kode pakaian formal tradisional dengan pakaian kerja dan pakaian olahraga, yang sering dilakukan dengan kasmir dua muka.

Presented by Interni Cipta Selaras
Winter 2021 Collection hadir dalam balutan setelan yang dieksekusi dalam warna blok yang diambil dari palet sang seniman yang berciri dekonstruksi dalam gaya, komponennya dicampur untuk ekspresi penjahitan multi-warna. Inspirasi dari warna khas sepatu klasik Berluti, patina berkembang dalam jackets dyed dan dipudarkan dengan handmade. Dalam mantel yang fully hand-stitched mengelevasi salah satu karya seni, yaitu teknik jahitan menjadi pola itu sendiri. Hooded jacket dan jumper dari hand-woven leather menafsirkan alam semesta visual khas Lev Khesin dalam pola geometris. Untuk setelan jas yang dibuat dengan prints yang tepat dari karya seni, motifnya dengan susah payah diselaraskan antara jaket dan celana panjang.

Mengintensifkan nilai artisanal, titik norvégien diterapkan pada outer dan setelan jas. White stitch embroidery tradisional yang digunakan dalam pembuatan sepatu – dan yang hanya dapat dibuat dengan tangan – diterjemahkan ke dalam quilted leather jackets, trim pada setelan kulit, serta padding yang empuk. Mengamati nada serupa dari hand-spun and folky, jaket puffer reversibel diwujudkan sepenuhnya dalam shearling off-white.

Koleksi tasnya menggemakan fluiditas dalam manifestasi yang lembut dan supple. Dilengkapi deretan sepatu yang memesona termasuk signature shoe tree Berluti dan liontin multi-warna oleh seniman Spanyol, Jorge Penadés, yang praktiknya berkisar pada upcycled overstock kulit menjadi benda padat terkompresi. Sepatu diwujudan seperti menggunakan teknik menjahit pakaian, dari sol platform tiga lapis yang di-upcycled dari derby hingga sol busa platform bertekstur yang diubah dengan sepatu kulit klasik. Brogue berujung persegi dihiasi dengan titik norvégien, sementara sneakers terbaru terbuat dari kulit patina memadukan ‘kode’ pakaian olahraga dan pakaian formal.
JF3 FASHION FESTIVAL 2026 — DAY 4
Dari wastra Nusantara hingga kisah personal dan isu kesehatan, JF3 Fashion Festival 2026 Day 4 memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi ruang untuk...
read moreADIDAS HYPERBOOST, MENEMUKAN RITME BARU DALAM LARI SEHARI-HARI
adidas Hyperboost Edge dan Hyperboost Run membawa cara baru dalam lari sehari-hari, mempertemukan performance, comfort, dan personal style dalam dua...
read moreRALPH LAUREN’S PREPPY BEAR WATCH CELEBRATES COLLEGIATE STYLE
Ralph Lauren reimagines its beloved Polo Bear through the new Preppy Bear watch, blending playful charm and preppy sophistication in a versatile accessory...
read moreVENINI MEETS PETER MARINO: CILINDRO CON PIATTO INCALMATO
A contemporary dialogue between VENINI and Peter Marino unfolds through Cilindro con Piatto Incalmato, a sculptural limited-edition collection celebrating...
read moreTOTO X YUNI JIE: "TOTO in Color"
TOTO x Yuni Jie launches 'TOTO in Color', featuring an outdoor art installation and a sculpture garden inspired by Indonesia's heritage.
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read more
