CITA TENUN INDONESIA PRESENTS “LIMINAL” AT JFW 2026
Published by Sugar & Cream, Tuesday 16 December 2025
Images courtesy of Jakarta Fashion Week
Cita Tenun Indonesia bersama empat lebel mode kontemporer The Rizkianto, Moral, Danny Satriadi, dan Wilsen Willim menghadirkan “LIMINAL” di JFW 2026.
Di tengah hiruk pikuk panggung mode Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, Cita Tenun Indonesia (CTI) kembali menegaskan posisinya sebagai penjaga warisan agung bangsa. Melalui presentasi mode bertajuk “LIMINAL” pada 29 Oktober 2025 di Pondok Indah Mall 3, CTI tidak sekadar memamerkan busana, melainkan membuka sebuah dialog filosofis. Koleksi “LIMINAL” hadir menjadi ruang ambang di mana kearifan wastra bertemu dengan napas mode masa kini.

Tema Liminal sendiri merujuk pada sebuah ambang atau keadaan sementara antara dua posisi. Sebuah zona yang cair dan ambigu, namun justru sangat subur untuk penciptaan makna baru. Di ruang antara inilah CTI mengundang empat label mode Indonesia yaitu The Rizkianto, Moral, Danny Satriadi, dan Wilsen Willim untuk menafsir tenun melalui bahasa bentuk, siluet, dan konstruksi yang berbeda-beda.

Presented by Coulisse | INK
Label The Rizkianto membuka ruang LIMINAL dengan menafsir ulang Tenun Garut dari Jawa Barat. Liminalitas berlanjut melalui karya label mode Moral melalui eksplorasi atas Tenun Lombok. Desainer Danny Satriadi memasuki LIMINAL dengan menghadirkan interpretasi ulang Tenun Songket Sambas asal Kalimantan Barat. Sebagai penutup, Wilsen Willim menafsirkan Tenun Putussibau khas Suku Iban, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

The Rizkianto: Keanggunan Milan Bertemu Motif Polkadot Tenun Garut
Label yang identik dengan estetika monokrom ala Milan ini, melalui Direktur Kreatif Dery Rizkianto, menghadirkan koleksi yang sangat personal: “Casa” (Rumah). Koleksi 12 looks ini adalah kisah homecoming yang ambisius, menyatukan keindahan Tenun Garut dengan teknik adibusana Eropa yang mewah. “Casa” membawa satu misi tunggal, yakni menghadirkan Tenun ke kancah Internasional dengan tujuan untuk membuktikan bahwa wastra tradisional Indonesia relevan, serbaguna, dan layak bersanding di panggung mode global.

Dery melakukan inovasi revolusioner, menyulap tenun tradisional dengan motif polkadot kontemporer yang glamor ala era 1950-an. Puncaknya adalah penggunaan benang metalik champagne gold yang inovatif, disulam secara hand-craft oleh perajin Garut. Sebuah momen emas, menurut Dery, yang membuktikan bahwa tenun Indonesia mampu bersanding anggun di panggung haute couture global, melampaui batas geografis dan visual. “Meskipun sangat menantang, prosesnya sangat menyenangkan. Ini membuktikan bahwa perajin kita luar biasa dan tenun kita siap untuk panggung dunia,” kata Dery penuh semangat.

Moral: Manifesto Pemberontakan Wastra dalam “MORAL / tempo”
Moral, di bawah arahan Andandika Surasetja, memilih jalur yang lebih radikal dan jujur lewat koleksi berjudul “MORAL / tempo”. Mereka menolak melihat wastra sebagai benda yang harus disakralkan, melainkan sebagai medium hidup yang terus berevolusi, layaknya ritme dalam musik independen. Karena warisan bukan beban, melainkan bahan bakar untuk bergerak maju. Koleksi yang mengeksplorasi Tenun Lombok ini adalah sebuah manifestasi tubuh dalam 13 tampilan serta sebuah ajakan untuk memakai perlawanan.

Koleksi “MORAL / tempo” berakar pada tenun yang diolah layaknya “distorsi gitar yang menggema di ruang kosong,” dipotong asimetris, dan ditabrakkan dengan material keras seperti Raw Denim Selvedge, logam, dan kulit. Moral menyuarakan kejujuran lokal, mengemasnya dalam bahasa visual universal melalui siluet oversized dan organic layering. Inilah eksperimen berani yang membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama diberi kesempatan untuk bernapas dalam bentuk yang berbeda.

Danny Satriadi: Harmoni Kosmik “Heavenly Creatures”
Danny Satriadi membawa Tenun Songket Sambas asal Kalimantan Barat ke dalam narasi yang elegan dan spiritual melalui koleksi “Heavenly Creatures”. Koleksi 12 looks ini terinspirasi dari dua belas shio dalam budaya Tionghoa, melambangkan siklus kosmik kehidupan dan hubungan manusia dengan alam semesta. Danny Satriadi memaknai wastra tenun songket sebagai media spiritual dan simbol status budaya, yang setiap helai benangnya menenun cerita dan identitas bangsa.

Koleksi ini menawarkan variasi busana mulai dari outerwear, dress, blazer, celana, hingga rok. Untuk menghormati keutuhan kain, ia menggunakan teknik draping yang meminimalisir pemotongan, diperkaya dengan embroidery dan beading yang rumit. Kolaborasi bersama maestro aksesori Rinaldy Yunardi dengan sentuhan shio semakin memperkuat kesan kosmik nan megah, menjadikan emas sebagai benang merah yang melambangkan kemegahan dan nuansa surgawi.

Wilsen Willim: Hati Borneo yang Berdetak dalam Tenun Putussibau
Sebagai penutup presentasi Liminal, Wilsen Willim memilih untuk mengangkat kisah pilu sekaligus harapan akan Tenun Putussibau khas Suku Iban dari Kapuas Hulu. Koleksi bertema ‘The Heart of Borneo’ adalah respons terhadap kegelisahan budaya, di mana praktik menenun terancam oleh arus modernisasi.Tenun Putussibau tidak hanya memuat struktur tekstil, tetapi juga simbolisme spiritual yang berakar pada animisme Dayak Iban.“Jiwa-jiwa penenun seolah ada di wastra yang mereka buat”, ujar Willsen.

Melalui kolaborasi dengan CTI dan Yayasan Kawan Lama, Wilsen menghidupkan kembali Tenun Ikat dan Tenun Sidan Putussibau. Ia memadukan wastra bernilai spiritual tinggi ini dengan elemen modern yang kontras namun harmonis, seperti payet bernuansa tribal yang kental dan permainan teknik cording ala military regal. Fokus pada rok, celana, dan jacket menghasilkan look formal yang dramatis, menegaskan bahwa ia tidak mengikuti tren, melainkan menciptakan tren baru dengan akar otentisitas lokal yang kuat.

MONSIEUR DIOR BY ANNE-SOPHIE PIC: HAUTE CUISINE IN BEIJING
Monsieur Dior by Anne-Sophie Pic: new gastronomy address in Beijing where fashion and cuisine converge with quiet elegance.
read moreSOULTAN ISLAND BY SUMMARECON BEKASI — A PLACE TO COME HOME
Crafted by Summarecon Bekasi, Soultan Island embodies quiet luxury—where nature, comfort, and modern living come together with effortless grace.
read moreCIERRE1972 PRESENTS BELT AND MAC: TWO ARMCHAIRS DEFINED BY CONTEMPORARY ELEGANCE
Cierre1972’s Dynamic Duo, Defined by Contemporary Elegance
read moreZANELLATO/BORTOTTO (ZB) X DEL SAVIO 1910 - ORIZZONTI AND MARBLE MARBLING
Zanellato/Bortotto (ZB) x Del Savio 1910 unveils Orizzonti and Marble Marbling - a dialogue between artisanal heritage and contemporary design
read moreW RESIDENCE IN SOUTH JAKARTA BY MICHAEL CHANDRA
Michael Chandra, founder of MNCO Studio Design has created the W Residence with an aesthetically pleasing, practical, and pleasant home from all...
read morePELUNCURAN PERDANA LEGANO HOME MENGGANDENG AGAM RIADI DI ST REGIS RESIDENCE JAKARTA
Peluncuran perdana LEGANO HOME menggandeng Agam Riadi di St. Regis Residence Jakarta: menyatukan kemewahan dan jiwa dalam sebuah ruang.
read more

