A beautiful life deserves a beautiful home

Little Palace

4.82K

Text Intan Kalih, Photography by Merwin Adenan.


Tuesday 27 June 2017

Terinspirasi dari bangunan Istana Presiden, sebuah hunian sarat akan nilai historis dieksekusi oleh duo maestro desain dan arsitekur tanah air.

Saat nama besar desainer interior Jaya Ibrahim dipertemukan dengan arsitek Jasin Tedjasukmana, dunia desain tanah air mengetahui bahwa sebuah kolaborasi indah tengah terjalin. Kerja sama mereka pada hotel The Dharmawangsa, Jakarta, mungkin menjadi salah satu bukti. Begitu halnya pada hunian di bilangan Ciumbeleuit, Bandung, ini. Sang pemilik rumah menjelaskan dengan lugas bahwa, “Rumah ini terinspirasi dari bangunan Istana Presiden di Cipanas, hanya saja dalam skala yang lebih kecil.” Jaya dan Jasin pun dipercayakan untuk meramu hunian impian tersebut.

Bangunan bergaya kolonial dengan pilar-pilar kokoh serta aksentuasi berupa ornamen-ornamen pilihan merupakan harmonisasi dalam merepresentasikan karakter rumah. Kejayaan desain rancang masa lampau, terutama Dutch colonial style architecture yang disebut-sebut menjadi salah satu keunggulan arsitek Jasin Tedjasukmana turut ditampilkan di sini. Hal tersebut disambut dengan baik oleh kepiawaian Jaya Ibrahim sebagai “100 Best Designers in The World” versi majalah Architectural Digest dan “Indonesian Design Guru” versi Conde Nast Traveller yang telah menampung banyak daftar properti kelas dunia dalam portofolionya seperti Amanfayun di Hangzhou dan The Chedi Muscat di Oman. Ia dikenal mahir menyelaraskan keindahan bermuatan tradisional dalam bentuk kontemporer yang eksklusif sekaligus memiliki level ketenangan yang tinggi. Maka sang pemilik pun memercayakan penuh pada Jaya Ibrahim atas penempatan interior dan koleksi benda antik dari mancanegara, seperti patung Budha dari Myanmar dan Thailand serta bingkai cermin antik bergaya klasik Eropa dari Prancis yang ada dalam hunian tersebut.

Hasilnya, di atas lahan seluas 5800m² yang terdiri atas empat kamar tidur, sebuah kolam renang, dan ruang hijau yang lapang, bangunan berbentuk palang dengan empat teras menghadap ke empat penjuru arah ini menjelma menjadi bangunan bernilai historis dengan gaya kolonial dan penataan interior sarat akan peninggalan budaya.