Kaum Mata Kancing – Excerpt from The Curator

SHARE THIS
2.89K

Published by Sugar & Cream, Tuesday 15 January 2019

Text by Ary Indra, Images Courtesy of Kaum Mata Kancing

@ Kopi Kalyan, 19 Januari – 9 Februari 2019

Pada satu hari di bulan Desember 2016, mata saya terpaku pada sebuah lukisan yang tergantung (agak miring, saya ingat) di dinding depan ruang pamer Galeri RJ Katamsi di Bantul. Karya berjudul Show Up (2016) itu mencuri imajinasi,; penglihatan tidak hanya merasakan warna dan bentuk, tapi tekstur rambut dan juga permukaan empuk tubuh dari 4 tokoh yang saling tindih  dalam satu bingkai 2 dimensi. ‘Melihat’ jadi terlalu remah untuk menjelaskan pengalaman saya; karena mata seperti ditarik untuk menyelami dunia paralel lain yang undangannya tak terelakkan. Taktilitasnya sungguh menggoda.

Selebihnya tentang pameran tunggal I Putu Suanjaya – Kaum Mata Kancing, bisa Anda simak di sini.

Show Up 150cm x 150cm, AOC, 2016, Yog yakarta

Rasa penasaran membawa saya bertemu dengan pelukisnya. Dan lukisan sekelompok – atau lebih tepatnya – segumpal boneka yang berwujud serupa komposisi guling; tapi dengan perilaku mirip manusia itu kemudian membawa saya menyelami lebih jauh dunia I Putu Adi Suanjaya (akrab dipanggil Kencut). Dunia yang menawarkan  perjalanan cerita tentang kenyataan dan harapan. Pola manusia di dunia fana yang diwujudkan dengan mahluk tanpa jendela hati yang selama ini kita semua percaya tidak pernah membohongi: mata.

Show Up (2016), adalah  satu puncak kecil dari beberapa periode merupa yang sudah dan sedang dijalani oleh Kencut. Seperti sensasi menonton Star Wars, saya harus mengalami prequel dan sequel dari prosesnya berkarya untuk mengerti dengan jelas runtutan roman kehidupan yang diceritakan. Kata ‘lahir’ mungkin jadi terlalu bombastis bagi mahluk yang terlihat dibentuk oleh penjahit bantal guling, tapi bukankah semua ‘hidup’ ada awalnya; sebetapa naifnya adegan itu, seperti dalam Mengeluarkan Benih (2015). Melihat metamorfosanya dari wujud gulungan benang dengan mata kancing yang belum menemukan tempat untuk disematkan (Kepenuhan ,2015), atau bongkahan kapas yang mencari jati diri (Keinginan Keluar, 2015); Kencut ingin bercerita tentang seonggok keseharian yang dalam kaca mata manusia terlewatkan begitu saja, tapi bisa jadi muara penting bagi dunia lain di pinggiran.

”Kepenuhan” Akrilik di Kanvas, 70cm x 100cm, 2015 Yogyakarta

Periode Eksplorasi seperti masa berburu dan meramu bagi Kencut memantapkan gaya melukis, dengan memilih dan mencermati setiap tokoh dalam karanya. Letupan-letupan yang terjadi di masa ini memberi energi dalam beberapa lukisan yang kemudian mendapatkan beberapa penghargaan. Di dalamnya terjadi penggalian emosi yang subtil dan mengena dengan medium boneka. Lukisan Yin Yang (2015) menjadi nominasi di Reddbase Young Artist Award, sementara Kaki Tangan (2016) adalah salah satu finalis UOB painting of The Year di tahun yang sama. Berbeda dengan tokoh boneka yang juga pernah digunakan oleh beberapa seniman dalam karyanya, gubahan Kencut bukan subyek cerita; mereka adalah medium. Meminjamkan tubuh untuk lakon yang dijalani manusia. Polah mereka adalah gerak paralel dunia yang jadi cerminnya. Adegan kehidupan dengan mahluk bermata kancing yang bagi saya sangat efektif menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Seperti paradoks bisu yang ingin berkata bahwa manusia sejatinya lahir tanpa dosa. Kancing yang menolak untuk melihat adalah simbol pengunci jiwa, Bagi saya, boneka Kencut seperti pemain watak kelas satu di panggung sandiwara.

Repetition Series (3) 150cm x 150cm, AOC, 2018 Yogyakarta

Fasihnya Kencut menjadi dalang bagi tokoh bonekanya diimbangi dengan permainan simbol yang sebenarnya sudah dimulai sejak Periode Eksplorasi. Beberapa kali saya berpikir nakal bahwa bukan tanpa alasan beberapa boneka yang berperan dominan, memiliki motif bendera Amerika di tubuhnya. Atau kain kotak-kotak yang tersublim dari alam bawah sadar Kencut tentang Bali. Permainan simbol ini menguat pada Periode Repetisi yang dibuat Kencut untuk bercerita tentang ide bahwa dunia adalah rentetan pengulangan belaka. Hidup adalah perjalanan duplikasi kejadian yang berputar tanpa batas. Pengulangan yang menyangatkan. Pengulangan yang tergambar dalam figur serupa tanaman, binatang atau benda langit yang bergerak bersama tokoh bonekanya. Di mata saya, Kencut memainkan simbol sedemikian rupa, seperti penulis puisi menggenapkan kata sandang dalam kalimatnya: nyaris tanpa korelasi, tapi memiliki peran penting untuk membuka jalan. Untuk mulai bercerita tentang kekuasaan, keserakahan atapun kerendah hatian. Dalam Hero In The Future (2017) dan Repetition Series (2), Kekuatan Alam (2018), tokoh boneka tidak lagi sekedar bergumul dan bergunjing, tapi diberi peran lebih oleh Kencut untuk mulai membuat tatanan pada sekitarnya. Kaum Mata Kancing seperti ingin memulai peradaban. Karena peradaban terbentuk bukan dari realita (yang diwakili oleh mata), tapi kesamaan (ataupun keberbedaan) ide dan mimpi yang diwakili dengan bahasa simbol untuk mengikat dunia yang tidak nyata. Kaum Mata kancing adalah medium yang selalu berjarak dari kehidupan sesungguhnya.

Jump 120cm x 80cm, AOC, 2017 Yogyakarta

Kencut pernah bercerita bahwa dia sangat mengagumi perupa besar seperti Kaws dan Takashi Murakami. Boneka dengan mata kancing juga bukan hal baru yang tidak pernah dieksplorasi sebelumnya. Coraline (2009) sebuah film yang dibuat dari novel berjudul serupa di tahun 2002 pernah dengan menarik mengupas fenomena mata kancing sebagai simbol penguncian jiwa. Bahwa di luar sana ada sebuah dunia paralel dengan kehidupan manusia, berisi mahluk bermata kancing yang hidupnya berada pada sisi ekstrim tokoh yang diwakilinya. Bisa lebih baik, atau lebih jahat. Tadinya saya menduga bahwa Kencut akan setia dengan ekstrim baiknya, sampai kemudian saya melihat evolusi berikut yang sedang dijalaninya. Pada periode Sang Penjaga. (The Guardian), kita akan menyaksikan tokoh boneka bermutasi di luar sifat biasa; mereka punya kebutuhan untuk ‘menjadi’. Guardian of the Galaxy (2017) dan Without The Rest (2018) adalah contohnya. Kaum Mata Kancing yang kuat memilih untuk jadi pelindung dan penjaga sekitarnya. Tanpa segan mengambil jalan menghabisi dan membunuh demi mengamankan dunia. Ini seperti jalan hidup manusia. Bahwa tumbuhnya peradaban selalu punya sisi membahayakan. Ketika hidup yang tadinya sederhana dan indah terkadang perlu dikembalikan lagi dengan cara yang tidak pernah terbayangkan. Kaum Mata Kancing tumbuh nyaris mirip manusia, yang bisa baik tapi penuh emosi. Yang bisa jahat, tapi memiliki rasa kasih. Mahluk yang tidak pernah bisa sendiri; kemanapun akan selalu membawa cerita masa lalunya. Saya seperti melihat sebuah ironi yang akrab sehari hari, kesedihan hidup yang kadang tak terelakkan, tapi tetap harus dijalani dengan, dengan kekuatan atau kepura puraan.

Guardian Series- Without the Rest (tanpa sisa) 170cm x 130cm Acrylic on Canvas 2018 Yogyakarta

Menelusuri karya Kencut seperti memandang cermin berwarna; melihat hidup dengan cara berbeda. Lukisan Kencut selalu membawa saya ke dalam dunia yang punya dosis optimis tinggi. Memang penuh tragedi, tapi dengan imajinasi kita bisa menyeret kesedihan ke dalam tawa. Dan saya pun ingin membagi imajinasi saya dengan membuat lukisan Kencut bisa bergerak sesuai dengan apa yang ada di benak saya. Lukisan-lukisan Kencut dan Kaum Mata Kancing-nya adalah pengingat untuk selalu bisa melayari hidup dengan gembira, berjalan bagai kanak-kanak yang lahir tanpa dosa.

Repetition series – Guardians 160cm x 200cm Acrylic on canvas 2018 Yogyakarta

MOIRE Rugs