presented by

INDONESIA KAYA HADIRKAN PADEL BERKEBAYA

SHARE THIS
70

Published by Sugar & Cream, Wednesday 11 February 2026

Images courtesy of Indonesia Kaya

Merayakan Kebaya dalam Gaya Hidup Aktif Generasi Muda

Siapa bilang kebaya hanya cocok untuk momen seremoni? Di lapangan padel, siluet tradisional ini justru tampil berani, enerjik, dan mencuri perhatian! Melalui gerakan Kita Berkebaya, Indonesia Kaya terus konsisten mengajak masyarakat, khususnya perempuan generasi muda untuk memandang kebaya tidak sekedar busana tradisional, tetapi juga sebagai ekspresi diri dalam bagian dari identitas yang relevan dengan gaya hidup masa kini.

Ola Harika, Ririn Ekawati, Renitasari Adrian, Anastasia Siantar, dan Noi Aswari

Di tengah tren padel yang kian populer, Indonesia Kaya menggelar Padel Berkebaya di Bounce, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan unik antara kebaya sebagai warisan budaya dengan gaya hidup aktif dan olahraga modern. Di sini, kebaya tidak hanya dikenakan, tetapi dihidupkan dalam gerak, tawa, dan energi kebersamaan.

Titi Kamal

Padel Berkebaya menghadirkan cara baru dalam merayakan warisan budaya, tidak hanya pada acara formal, tetapi juga hadir dalam aktivitas sehari-hari yang dinamis dan penuh ekspresi. Melalui inisiatif ini, kebaya terus dirayakan sebagai warisan budaya yang hidup, tumbuh, dan relevan bagi generasi masa kini.

Anastasia Siantar

“Melalui Padel Berkebaya, kami ingin menunjukkan bahwa kebaya bisa hadir di ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan generasi muda, bukan hanya di acara formal, tetapi juga dalam aktivitas yang aktif dan menyenangkan. Kami berharap semakin banyak anak muda yang merasa akrab dan percaya diri mengenakan kebaya dalam berbagai kegiatan. Ketika kebaya semakin sering digunakan, ekosistemnya pun ikut bergerak: para perajin, desainer, UMKM, hingga pelaku ekonomi kreatif. Pada akhirnya, kebaya tidak hanya hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari roda ekonomi yang terus berputar dan memberi manfaat bagi banyak orang,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya.

Presented by Interni Cipta Selaras

Dikemas dalam ajang kebersamaan yang seru dan menghibur, Padel Berkebaya menjadi wujud pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan. Di lapangan olahraga, kebaya tidak hanya dikenakan, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup perempuan modern yang aktif, percaya diri, dan autentik.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai figur publik dengan gaya hidup aktif yang juga mencintai kebaya, diantaranya Ririn Ekawati, Anastasia Siantar, Ola Harika, Noi Aswari, dan Kushandari Arfanidewi (Kelinci Tertidur), serta pecinta padel lainnya. Bagi peserta yang belum akrab dengan olahraga ini, Padel Berkebaya juga menghadirkan sesi coaching clinic yang memperkenalkan dasar-dasar bermain padel, sehingga pengalaman ini dapat dinikmati secara inklusif oleh seluruh peserta.

Ola Harika

“Jujur, awalnya saya tidak membayangkan kebaya bisa dipakai bermain padel. Tapi hari ini saya merasakannya sendiri dan ternyata kebaya bisa tampil sporty, nyaman, dan tetap cantik. Sebagai pecinta padel, pengalaman ini terasa sangat spesial. Saya merasa kebaya jadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk acara formal. Buat saya, ini pesan yang indah untuk generasi muda: kita bisa mencintai budaya dengan cara kita sendiri, tanpa harus kehilangan gaya dan karakter. Kalau kebaya bisa hadir di lapangan padel, artinya kebaya memang hidup dan siap berjalan bersama zaman,” ujar Ririn Ekawati, figur publik Indonesia yang dikenal dengan berbagai perannya di layar kaca.

Ririn Ekawati

Di acara Padel Berkebaya juga menghadirkan pasar kebaya yang menjual kebaya dan aksesori pendukungnya. Sebagai pelengkap suasana, Padel Berkebaya juga menghadirkan hiburan musik dari DJ Ninda dan DJ Neysa, menciptakan atmosfer yang cair dan merayakan kebersamaan. Perpaduan musik, olahraga, dan kebaya dalam satu ruang menunjukkan bahwa budaya bisa tetap hidup, relevan, dan menarik dalam keseharian.

“Kami berharap Padel Berkebaya dapat menginspirasi lebih banyak perempuan untuk melihat kebaya sebagai bagian dari keseharian mereka. Bukan karena kewajiban budaya, tetapi karena rasa memiliki. Karena kita ketika perempuan bergerak dengan kebaya, di situlah budaya benar-benar hidup,” tutup Renitasari. (DR)

Noi Aswari

Magran LivingInterni Cipta SelarasCoulisse | INK