presented by

COMMON SANCTUM — SOLO EXHIBITION BY BUNGA YURIDESPITA

SHARE THIS
1.07K

Published by Sugar & Cream, Monday 10 June 2024

Images courtesy of Bunga Yuridespita

7 March – 3 April 2024 at Salihara Art Center

“Silence is so accurate” —Mark Rothko —

Ruang, bagi Bunga, adalah soal pengalaman dan pengetahuan yang tak kunjung habis. Sebelum kini, Bunga Yuridespita terdidik hingga pernah bekerja sebagai seorang arsitek hingga akhirnya kemudian ia memilih jadi seniman, atau perupa. Menjadi arsitek atau seniman, bagi Bunga, dalam prakteknya adalah soal menggali, menemukan, dan mengkonstruksi pilihan medium ekspresi. Bunga tak hanya tertarik membayangkan ruang dengan logika arsitektural, juga merenungkan pengalaman kehadiran tubuhnya saat ia mengalami ruang hunian secara langsung.

Bunga tertarik pada kompleksitas permasalahan bentuk yang ia cermati melalui detail-detail atau potongan-potongan ruang. Pengalaman dirinya di bidang arsitektur menjadikannya lebih peka dalam menikmati dan memahami keaneka-ragaman sifat dan permukaan berbagai material: batu, semen, kaca, besi, kaleng, atau plastik. Bunga memahami bahwa karakter medium adalah elemen penting bagi caranya mengkonstruksi idiom ekspresinya.

Lukisan-lukisan yang dikerjakan oleh Bunga adalah karya seni rupa abstrak, tak menunjukkan gambaran bentuk yang bercerita, tidak juga menggambarkan simbol-simbol yang umumnya dimanfaatkan untuk ‘menjelaskan’ berbagai kisah milik sang pencipta. Ekspresi pada lukisan-lukisan Bunga memang tak bermaksud menjelaskan (explaining) sesuatu hal (masalah) selain justru merupakan wujud intensitas cara untuk menunjukkan (showing) secara visual. Apa yang Bunga tunjukkan dalam lukisannya adalah imajinasinya tentang ruang meski nampak dalam sifatnya yang ilusif. Bagi Bunga, ruang adalah sebuah tantangan persoalan; tak ada ruang yang bisa dianggap netral atau alamiah karena setiap keberadaan ruang yang diciptakan manusia akan selalu mengandung kepentingan, memiliki ukuran, atau mengungkapkan warna-warna perasaan tertentu —keberadaan tiap ruang bisa dirasakan oleh seseorang sebagai keadaan: tinggi/pendek, luas/ sempit, memenjang/ memendek, tertutup/ terbuka dan lain sebagainya.

Ada beberapa cara yang dikerjakan Bunga untuk menampilkan imajinasi tentang problematika sifat-sifat keadaan ruang tersebut. Beberapa lukisan dikerjakan dengan menekankan imajinasi tentang ide bentuk menyerupai gambar denah ruangan; sebagian lukisan lain justru nampak sebagai gagasan bentuk tentang konstruksi bangunan arsitektural; dan beberapa karya lukisan lainnya menunjukkan detail dari bentuk gambar potongan ruang. Intinya, hampir seluruh komposisi bentuk ruang dalam lukisan-lukisan Bunga dikerjakan untuk menunjukkan karakter yang presisi namun sekaligus juga sunyi.

Presented by Zipblind

Saya pun teringat ungkapan pelukis Abstrask Ekspresionisme Amerika, Mark Rothko; ia pernah mengatakan: ‘Silence is so accurate.’ Tentu saja, lukisan Bunga tak sama dengan karya-karya Rothko, juga tidak dimaksudkan sebagai ekspresi karya lukisan abstrak ekspresionis. Karya lukisan Bunga justru menarik karena mengungkapkan maksud yang dikatakan Rothko dengan cara yang berbeda. Perbedaan yang paling menyolok berkaitan dengan ubsur penggunaan warna. Lukisan lukisan Bunga tersusun dari bidang berwarna-warni; intensitas bidang-bidang warna di situ berfungsi untuk menunjukkan perbedaan bidang yang menciptakan dimensi ruang yang bersifat optis sekaligus imajiner.


ETERNAL FRONTIER | ORGANIC LABYRINTHS | ETERNAL GRIDSCAPE

Berbagai efek optis-warna itu kadang menciptakan kedalaman ruang, atau kadang nampak menonjol menciptakan bangunan ruang. Imajinasi tentang bentuk denah, konstruksi bangunan, atau situasi ruangan yang terdapat dalam lukisan-lukisan Bunga tersebut, tentu, sudah tak lagi berkaitan secara langsung dengan keadaanya yang bersifat konkrit—karena itu lah bentuk keadaan ruang atau ruangan yang terdapat dalam karya-karya itu dianggap bersifat imajiner. Cara Bunga mengkonstruksi bentuk serta efek ruang dilakukan dengan cermat, dengan memanfaatkan kekuatan garis-garis geometris serta ‘logika’ pertemuan antar bentuk yang bersifat presisi, bahkan akurat. Kesan presisi dan akurat ini justru mampu dirasakan sebagai kesunyian atau menjadi senyap karena Bunga mempertimbangkan peran penting keberadaan ‘ruang negatif’ (negative space) berupa bidang-bidang kosong dalam komposisi bidang lukisannya. Cara khas Bunga mengatur pembagian antara bidang kosong dan bidang isi pada kanvasnya menciptakan semacam pengalaman yang menegangkan: antara perasaan ‘menguasai’ atau ‘dikuasi’ oleh sisa bidang kosong.

SPECTRAL SOLITUDE #1 #2 #3 #4

Bunga punya komentar menarik soal bidang kosong atau negative space ini. Ruang atau bidang semacam itu, katanya, tidak berarti sebagai ‘kekosongan’ (void) yang tanpa makna, melainkan adalah suatu potensi ruang yang belum kita kenali. Potensi semacam itu baru bisa dikenali kalau seseorang mampu melihat relasinya dengan konteks, keadaan, atau situasi yang mengitari kondisi ruang yang dimaksud. Kondisi lukisan, sebagaimana dikerjakan Bunga, adalah salah cara untuk mengenali potensi ruang sebagai sebuah multiplisitas, atau kondisi keragamjamakan keadaan ruang. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa bayangkan contoh masalahnya, misalnya. Seseorang memiliki kotak kosong yang terletak dalam lemari di ruang kerjanya, ruang kerja itu sendiri adalah bagian dari susunan ruangan yang terletak dalam satu bangunan kantor, lalu bangunan kantor itu adalah bagian dari komplek perkantoran di sebuah area distrik bisnis di sebuah kota, dan seterusnya. Multiplisitas ruang itu bisa diteruskan hingga merujuk pada susun planet dalam gugus galaksi semesta alam.

STELLAR ILLUSSIONS

Persoalan tentang relasi dan situasi multiplisitas ruang itu lah yang membawa imajinasi ruang Bunga Yuridespita ke lokasi pameran kali ini di Gedung Salihara, Jakarta. Dengan latarbelakang pendidikan di bidang artsitektur, tak sulit bagi Bunga untuk segera mengenali, bahwa Gedung Salihara bukan lah hasil rancangan gagasan arsitektural biasa. Ada banyak dimensi ruang: lorong, tekukan, bidang dan garis batas, tepian ruang, relung, atau bahkan karakter tekstural dinding bangunan yang terasa bernilai istimewa dan tak biasa. Segi arsitektural Gedung Salihara sendiri, bagi Bunga, adalah sebuah ‘ekspresi ruang,’ pun ia tak mau berdiam diri kecuali bertindak untuk menanggapinya secara kreatif.

WHISPER OF DISTANCE | ORGANIC ARCADIA | EMBODIED HORIZONS | NOMADIC EXHOES

Gagasan pameran tunggal Bunga Yuridespita, Common Sanctum, di Salihara adalah sebuah gagasan yang cair: bergerak diantara kapasitas dan pengalaman Bunga sebagai seorang seniman dan juga seorang arsitek. Proyek pameran ini seperti membawa audiens untuk menikmati dan mengalami alur proses penciptaan yang dilakukan Bunga: dari ruang konkrit ke ruang maya atau imajiner, atau sebaliknya. Dalam pameran ini Bunga tidak hanya melukis tapi juga mengerjakan karya ‘lukisan besar’ atau mural yang dikerjakan di atas permukaan lantai dan dinding ruang, kemudian juga menyiapkan aransemen video art sebagai bagian dari sebuah karya instalasi. Penting untuk dikenali, bahwa dalam pameran ini audiens sudah akan menemukan karya-karya Bunga sejak memasuki komplek Gedung Salihara , di sekitar lokasi yang akan mengantar menuju ruang pameran. Bunga beraksi pada keadaan ruang yang telah ada dengan cara menciptakan ruang-ruang tambahan secara ilusif. Karya-karya mural Bunga yang dikerjakan secara langsung pada dinding-dinding ruangan menyuguhkan pengalaman tentang skala kehadiran tubuh manusia terhadap proporsi ruang secara konkrit.

TRANSFIGURED MEMORIES

Dalam prakteknya, karya-karya mural itu menciptakan ‘keadaan ruang dalam ruang,’ antara merasakan keadaan yang bersifat nyata dan maya. Susunan karya-karya yang dipresentasikan ini, berupa: mural, lukisan, dan video art, bisa dipahami sebagai cara Bunga menafsirkan keadaan ruang-ruang konkrit di Salihara yang dirancang oleh para arsiteknya. Proyek pameran: ‘Common Sanctum’ Bunga bisa dipahami sebagai upaya untuk menghidupkan kembali sensasi [pengalaman] ruang. Proyek ini tak bukan saja soal menciptakan ilusi ruang tentang dan dalam proyek arsitektural Galeri Salihara (Jakarta) tetapi juga yang penting adalah soal cara Bunga menciptakan sensasi ruang yang diharapkan mampu menghidupkan pengalaman imajinasi dan kesadaran publik yang menikmatinya. Terutama di lingkungan urban, di kota besar seperti Jakarta, berbagai wujud ruang hanya disiapkan untuk kepentingan orang-orang yang akan berada di dalamnya: untuk bekerja, belanja, atau rekreasi; ruang pun akhirnya menjadi obyek. Bunga sepertinya justru ingin menjadikan ruang kembali berlaku sebagai subyek. Ruang, atau setiap ruang, hendak ia nyatakan dalam sifat-sifatnya yang khusus dan seolah memiliki kepentingannya yang khas.

BLOCKED SHADOW

Ruang lah yang mengubah orang, bukan sebaliknya. Ihwal ‘sanctum,’ dalam proyek ini tidak dimaksud bermakna negatif, sebagai sikap escapism, melainkan justru memiliki karakter positif dan produktif bahkan bersifat menggugah dan mengubah.‘Common Sanctum’ adalah suatu konteks cara penghayatan ruang yang sejatinya bermakna ‘sakral,’ atau istimewa bagi setiap orang dengan cara yang tak perlu sama. Bagi Bunga, perihal ruang kini semakin terdesak oleh masalah percepatan yang diciptakan aliran perkembangan waktu karena pengalaman hidup masyarakat kontemporer seakan terus melaju dalam logika percepatan waktu. Semua hal kini segera berubah dengan semakin cepat bahkan bila perlu berlaku menjadi instan. Ihwal soal pengalaman ruang yang sedianya berfungsi mengikat dimensi makna-makna mengenai identitas dan keberadaan diri seseorang kini seakan ‘lenyap’ ditelan arus perubahan yang dikendalikan logika percepatan waktu. Yang virtual, kini, tak lagi jadi nilai potensialitas yang bisa bermakna khas bagi tiap-tiap seseorang melainkan telah menjadi nilai posibilitas yang dalam prakteknya hanya berlaku sebagai preferensi pilihan yang bahkan bisa bersifat semu.

GALACTIC WALTS | EMBIDIED DIMENSIONS | STELLAR WHISPERS | EL EUCLIDEAN DREAMS

Dalam pameran ini, Bunga tak hendak mempertentangkan persoalan antara ruang aktual dengan ruang virtual selain justru coba melihat realsi positif diantara keduanya. Eskpresi karya-karya Bunga berusaha merebut kembali potensi ruang virtual untuk menjadi bagian penting dalam aktualitas kemungkinan-kemungkinan hidup secara sadar dan bermakna. Bagi Bunga, tiap keberadaan (eksistensi) selalu berarti ada dalam ruang sehingga ruang adalah medium menyatakan kompleksitas sang keberadaan, yang selalu ada dalam perubahan dengan makna-makna yang terus berkembang. Ruang semacam itu tak selayaknya jadi obyek dengan batasan kepentingan yang hanya bersifat fungsional serta praktis. Ihwal soal ruang adalah perkara pengalaman dan pengetahuan yang tak akan pernah akan usai, sebagaimana juga pokok tentang setiap eksistensi semu.

PARALLEL REALMS | STACKS OF WONDERING| UNFOLDING REALITIES | SPACE TIME ODYSSEY

FAST UNKNOWN | SPECTRAL SOLITUDE | CELESTIAL HORIZON | NEBULOUS DREAMSCAP

Rizki A. Zaelani / Kurator

Coulisse | INKZipblind & VF