presented by

CGARTSPACE – “THE OBJECT CLOSER THE THEY ARE APPEAR” BY RESTU TAUFIK AKBAR

SHARE THIS
1.47K

Published by Sugar & Cream, Wednesday 31 May 2023

Images courtesy of CGartspace & Bambang Asrini Widjanarto(Penulis)

Lukisan Alam Yang Tak Terindera – CGartspace 20 May- 4 June 2023, Curated by Agung Hujatnikajennong

Menikmati lukisan-lukisan Restu Taufik Akbar di CGartspace, Pondok Pinang, Jakarta yang merupakan kerja kolaborasi dua galeri seni rupa, yakni Rumah Miring-CGartspace dan Artsocietes (Bandung), kita sebagai apresian menjadi tetiba menyukai melamun, atau termenung tepatnya, menggunakan nalar pun sekaligus rasa kita.

Lukisan-lukisan abstrak, yang tak membentuk pola-pola presisi obyek-obyek yang kita kenali, misalnya dalam lukisan Taufik seperti daun, pohon, dan air menjadi imej-imej terpiuh.

Restu Taufik Akbar
I’ll know that
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
150 x 112 cm
2023

Mata inderawi kita tak bisa mengenali kepersisan bentuk seperti aselinya, sebab lukisan-lukisan itu abstraktif. Ditambah dengan secara fisik, kanvas lukisanya— baik yang berukuran besar dan kecilnya, yang biasanya menjadi latar lukisan tetiba juga diimbuhi ada kilauan dan bentuk cermin. Secara riil, cermin itu ada dan kita sadari di ruang pamer seperti seolah melihat bayangan kita sendiri sebagi manusia yang melihat alam.

All Around You
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
74 x 112 cm
2023

Kemudian, pameran solo yang diberi judul “The Object Closer The They Are Appear” ini mengantar kita pada sejumlah pemikiran-pemikiran termasuk ungkapan senimannya secara visual di lukisan pun pengantar kuratorial dari Agung Hujatnikajenong yang cukup mengesankan.

Where or When
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
110 x 200 cm
2023

Seni rupa memang adalah produk pemikiran sekaligus rasa; yang estetis sekaligus yang spiritual, tentunya tak semestinya yang kita lihat saja, namun bangunan konsep sebagai latar wacana dan pada akhirnya: pengalaman rasa tertentu yang membimbing kita untuk mengapresiasi.


Presented by Som Santoso

Apa yang disampaikan dengan judul pameran “obyek yang dekat tak seperti apa adanya” seperti sebuah spion kendaraan bermesin—mobil ataupun motor, dalam komentar di katalogus pameran adalah gambaran kita bersiap hati-hati bahwa Taufik melukis tak selayaknya dicerna secara langsung. Tapi, semacam panduan bahwa lukisan tersebut memerlukan aksi refleksi lebih lanjut.

Flattered
Diptych
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
150 x 224 cm
2023

Jika kurator pameran menerangkan tentang konsep Sublim, yakni gambaran/ tafsiran alam pada manusia secara subyektif—dalam hal ini pengalaman si pelukis, Taufik dengan mengutip Immanuel Kant, misalnya dalam konteks topik ini —manusia dan alam, dalam hal ini penulis lebih suka dengan konsep Rudolf Otto. Teolog Rudolf menyampaikan bahwa pemahaman kita pada alam adalah pengalaman yang non-rasional dan tidak terinderakan, atau perasaan yang objek utamanya yang langsung berada di luar diri personal, yakni sebuah pengalaman intim sebagai mysterium tremendum at fascinans, yakni pada eksistensi Tuhan.

Yesterday
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
112 x 150 cm
2023

Rudolf mengandaikan bahwa ini merujuk frasa bahasa Latin, alam sebagai numen (kehendak Tuhan). Yang cara pandang teologis ini, berbeda dengan gagasan Immanuel Kant tentang noumenon, yaitu sebuah istilah bahasa Yunani yang menggambarkan suatu realitas yang tidak dapat diketahui yang ada di balik segala sesuatu.

Moment In The Sun
Diptych
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
220 x 210 cm
2023

Bagi Rodolf, yang numinous, yang tak terkatakan/terdefinisikan/terinderawi itu adalah alam dan Tuhan itu secara sekaligus. Yakni sebuah misteri besar, yang mempesona (fascinans) dan sekaligus juga menakutkan.

Have a Day
Diptych
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
180 x 330 cm
2023

Seperti ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, seni rupa diperkaya dengan paradigma-paradigma spiritualitas, yang memusatkan perhatian pada kebutuhan kesadaran sang pelukisnya—yang spiritual dan yang tak teridera dan kita sebagai apresian yang menelaahnya dengan cara yang mirip.

The Days That End In Why
Triptych
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
180 x 330 cm
2023

Pada saat sama, jika kita menelusuri teolog pun filsuf lain, katakananlah al-Ghazali, bahwa alam semesta ini (universe) merupakan ciptaan Tuhan dengan berkarakter jism, jauhar, dan ‘arad yang ketiga elemen ini selalu terjadi perubahan dari satu bentuk kepada bentuk lainnya atas ijin Tuhan.

Friday Afternoon
Polyurethane, Nitrocellulose, and Vitrail on
Stainless Steel Mirror
112 x 150 cm
2023

Maka manusia, dalam hal ini pengalaman intimasi si pelukis akan memahami pengalaman- pengalaman menggentarkan dalam jiwa tatkala menyaksikan alam, tentang sebuah kesadaran spiritual bahwa semesta ini diciptakan secara azali dari Tuhan yang Haq dari ‘tiada’ kepada ‘ada’.

Ghazali menyingkatnya sebagai alam semesta adalah paradigma teologis yang berseberangan dengan filsuf lain, Ibnu Rusyd dalam kondisi berkarakter Qodim atau tak Qodim? Pendekatan- pendekatan metafisis inilah yang mungkin layak disematkan ketika kita merasakan pengalaman sublim atau perasaan menggentarkan sekaligus takjub menyadari alam semesta yag kita rasakan, atau sebuah gambaran imajinasi tentang hutan dan gunung termasuk air, daun dan pepohonan yang bisa kita wakilkan itu di karya-karya abstraktif pelukis Taufik Restu Akbar. (Bambang Asrini Widjanarko – penulis seni)

Coulisse | INKZipblind & VF