A beautiful life deserves a beautiful home

Past Beauty

3.48K

Text by Hermawan Kurnianto, Photography by Timur Angin.


Wednesday 28 June 2017

Alam mencurahkan kecantikan kepada Nepal. Dan alam pula yang merenggutnya. Sebuah memoar visual oleh fotografer Timur Angin yang mengabadikan Nepal sebelum diluluhlantakkan oleh gempa dahsyat pada April 2015.

Untuk Nepal, beraneka varian kata sifat yang bermuara pada makna dasar ‘indah’ sulit untuk tidak terucap. Negara kecil yang terletak di kawasan pegunungan Himalaya, berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara dan India di sebelah barat, timur, dan selatan ini, memang menghidangkan pesona bentang alam dan kultural yang membius panca indera. Sebuah magnet bagi para pemburu estetika visual seperti fotografer untuk menginjakkan kaki di Nepal.

Timur Angin, seorang fotografer kenamaan yang karya-karyanya kerap mendokumentasikan perjalanannya ke berbagai belahan bumi yang memantik hasrat untuk bertualang (wanderlust), memiliki kenangan tersendiri terhadap Nepal. Ia telah mengunjungi negara itu sebanyak tiga kali; tahun 2007, 2010, dan 2012. “Waktu pertama kali ke Nepal, kebetulan sedang ada pekerjaan memotret di India. Selesai dengan pekerjaan, saya traveling sendiri dengan menaiki bis ke Nepal,” ujar Timur. Saat berada di Nepal, Timur bisa menghabiskan waktu antara dua minggu hingga satu bulan.

Kamera tentu menjadi perangkat yang setia mendampingi Timur ke mana saja untuk menangkap dan mengabadikan momen-momen tak ternilai. “Di Nepal, yang saya lakukan tidak lain adalah memotret dan terus memotret. Saya ikut tur lokal untuk melihat-lihat berbagai tempat wisata yang ditawarkan untuk turis. Saya juga memotret keseharian masyarakat di sana,” ungkap Timur yang menyambangi kota Kathmandu, Pokhara, dan Nagarkot.

Penduduk Nepal memiliki tingkat keramahan yang tinggi. “Sama persis kalau kita sedang berada di Jogja. Mereka akan berusaha untuk berbahasa Inggris. Kebudayaan setempat juga masih dijunjung tinggi seperti halnya di Jogja dan Bali,” tutur Timur. Meski demikian, kondisi lingkungan di negara dunia ke-tiga ini bisa dikatakan masih jauh dari predikat bersih. Sampah terlihat teronggok di sudut-sudut jalan.

Dari sudut pandang seorang fotografer, Timur melihat Nepal sebagai negara yang fotogenik. “Memotret dengan mata dalam keadaan terpejam pun hasilnya akan bagus,” katanya. Para penduduk yang beragam (ada yang terlihat seperti orang India, Cina, bahkan Indonesia), pakaian tradisional yang berwarna-warni, aktivitas kebudayaan yang senantiasa semarak, arsitektur dan interior yang kental dengan nuansa kelokalan, ditunjang dengan letak matahari yang selalu miring dan tidak pernah dalam posisi top light, tidak ayal menjadikan Nepal sebagai objek foto dengan hamburan keindahan tak berbatas.

Pada sekitar penghujung April 2015, Nepal diguncang oleh gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter. Setidaknya hampir 9.000 orang menjadi korban jiwa dan sejumlah bangunan berusia ratusan tahun yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO di Lembah Kathmandu hancur. “Saya belum berkunjung lagi ke Nepal pasca kejadian gempa. Tidak tega rasanya,” ucap Timur. Pariwisata merupakan industri dan sumber pendapatan terbesar bagi Nepal. Dengan porak-porandanya negara tersebut akibat gempa, tentunya semua tidak sama lagi.

“Yang pasti berubah adalah bangunan. Arsitektur di Nepal banyak menggunakan batu bata. Bisa dibayangkan pada saat terjadi gempa, konstruksi batu bata itu kolaps semua. Begitu pula dengan tempat-tempat bersejarah yang menjadi tourist attraction,” kata Timur. Bisa jadi Nepal tengah berada pada titik dimana segala keindahan yang menyelimuti kini seolah bersembunyi dalam lubang masa lampau. Namun, entah bagaimana, keindahan tidak pernah sepenuhnya pudar. Ia senantiasa memiliki energi untuk menemukan jalan kembali ke singgasananya.

Swayambhunath salah satu struktur religius tertua di Nepal

Swayambhunath juga dikenal sebagai Candi Monyet dimana terdapat banyak monyet yang dianggap sebagai mahluk suci oleh masyarakat setempat dalam kawasan cand

Di dalam Hanuman Dhoka, Durbar Square, ada 43 objek yang bisa dinikmati, mulai dari candi, patung, lonceng, bangunan kuno dan antik hingga museum

Hanuman Dhoka, Durbar Square di Lembah Kathmandu merupakan salah satu situs warisan budaya dunia UNESCO

Hanuman Dhoka Durbar Square adalah kompleks candi dan tempat pemujaan yang dibangun pada abad ke-12 hingga ke-18

Hanuman Dhoka Durbar Square adalah kompleks candi dan tempat pemujaan yang dibangun pada abad ke-12 hingga ke-18

Boudhanath adalah stupa terbesar di Asia Selatan dan juga tercatat sebagai salah satu stupa terbesar di dunia

Menyalakan lilin di Boudhanath yang terletak di pinggiran kota atau tujuh kilometer dari arah selatan Kathmandu

Boudhanath, pusat dari Buddhisme Tibet di Nepal dan para pengungsi asal Tibet yang telah menetap di wilayah ini sejak beberapa dekade terakhir

Wajah-wajah wanita Nepal di Pokhara

Puncak Annapurna bisa dilihat dari kota Pokhara

Sebuah bangunan di sekitar Hanuman Dhoka

Di dalam Hanuman Dhoka, Durbar Square, ada 43 obyek yang bisa dinikmati, mulai dari candi, patung, lonceng, bangunan kuno dan antik, hingga museum