Yoka Sara’s Grandeur Installation at Art Bali : ‘Bhinneka Tunggal Ika’

SHARE THIS
3.29K

Published by Sugar & Cream, Tuesday 09 October 2018

Text by Pranita Dewi, S&C, images courtesy of Yoka Sara and Rifky Effendi

Art Bali, AB.BC Building Bali Collection, ITDC Nusa Dua Bali : 9 Oct – 9 Nov 2018

Satu lagi wadah atau ruang rupa khususnya ruang rupa kontemporer hadir mewarnai perubahan dinamis seni rupa Bali dalam menghadapi tantangan perubahan seni global. Seiring dengan acara Pertemuan Tahunan IMF Bank Dunia 2018 yang berlokasi di Nusa Dua, Bali (8-14 October 2018), akan diresmikan gedung AC.BC di Bali Collection,, ITDC Nusa Dua, yang didukung penuh oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia)

Peresmian gedung seluas 1000 meter persegi di Bali Collection,ITDC Nusa Dua tersebut ditandai dengan perhelatan perdana seni rupa kontemporer Art Bali 2018 bertajuk ‘Beyond The Myths’.

Pameran berlangsung dari 9 Oct – 9 Nov 2018

Beyond The Myths’ menawakan pencapaian dan penampakan terkini dari seni rupa kontemporer terhadap pengaruh perubahan dalam bidang sosial politik, dan ekonomi di Indonesia maupun global. Perhelatan yang bisa dibilang akbar ini melibatkan kurang lebih 34 seniman dari Indonesia maupun seniman asing.

Diantaranya adalah Yoka Sara, Adi Panutun, Agan Harahap, Agus Suwage, Ashley Bickerton, Arin D. Sunaryo, Agung Mangu Putra, Chusin Setyadikara, Dipo Andy, Eddie Prabandono, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Filippo Sciascia, Galam Zulkifli, Handiwirman, Heri Dono, I Made Djirna, I Made Wianta, I Made Widya Diputra, I Wayan Upadana, Jompet K, Joko Avianto, Made Wiguna Valasara,Mella Jaarsma, Nasirun, Nu Abstract, Nyoman Erawan, Nyoman Nuarta, Pande Ketut Taman, Samsul Arifin, Syagini R dengan Bandhu Dharmawan, Uji Handoko, Yani M Sastranegara, Yudi Sulistyo

Salah satu arsitek Bali terlibat adalah Yoka Sara yang tampil dengan sebuah sebuah instalasi unik berukuran masif bertajuk ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Seperti dijelaskan Yoka bahwa persiapan sudah dilakukan cukup lama dengan mengumpulkan sumpit bamboo bekas (used bamboo chopsticks) dan filter rokok (cigarette butts). Instalasi ini membutuhkan lebih dari 160,000 sumpit bamboo bekas dengan proses cuci, seleksi, pewarnaan dan lem.

Berikut adalah narasi yang berhubungan dengan instalasi ‘Bhinneka Tunggal Ika’ oleh Pranita Dewi.

SEMBURAT BIANGLALA: BUSUR CAHAYA DALAM KEBHINEKAAN
Oleh: Pranita Dewi
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
(Kakawin Sutasoma, Pupuh 139, Bait 5)

Barangkali, sudah semestinya gagasan keragaman dikumandangkan, baik di dalam bentuk kata biasa, seperti keanekaragaman, pluralisme, dan multi-kultur, maupun di dalam bentuk semboyan, seperti Bhinneka Tunggal Ika, dan tidak hanya sebatas itu, gagasan ini dapat pula muncul memenuhi lingkup simbolik sebuah karya di dalam kehidupan manusia dan untuk membuktikannya “ada” terkadang manusia memerlukan patung, ritual dan upacara dalam memandang waktu sebagai sebuah bentuk yang disederhanakan dan diperindah – sebut saja sebuah karya instalasi.

Sebuah instalasi yang menggunakan material sumpit bekas dan puntung rokok melayang dari permukaan, seperti tengah berada di luar angkasa, seperti diterbangkan oleh kosmos itu sendiri. Jika angin mati, ia tetap diam dan tampak seperti seorang yang sedang terbang di ruang kosmos yang gelap – tak kalah dengan patung Rodin yang abadi merenungi yang Ada.

Memang segala sesuatu menjadi lain apabila melayang. Seperti berada di tengah kosmos itu sendiri. Warna dan bentuk tampil bukan sebagai bentuk tunggal, melainkan sebagai bagian-bagian yang tak terpisahkan dari bagian-bagian lain yang membentuk kompisisi keseluruhan. Satu sama lain saling menopang dan merekat tanpa sekat. Yang berwarna dan tidak berwarna mempunyai fungsi yang sama: keutuhan dan kekokohan. Semuanya harus hadir dan tidak boleh tersingkir. Semuanya dapat tempat. Apabila satu tidak merekat, maka semua akan ambruk, akan remuk.

Instalasi yang disebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika ini didasari pemahaman yang sama tentang kosmos, dan kreativitas. Ia tidak semata-mata sebagai sebuah karya instalasi yang diam dalam satu dimensi; tetapi bergerak lebih jauh, menjadi katalisator bagi konseptor, pencipta, pelaku, penggiat, pelihat, dan penikmat untuk mengaktualisasikan potensi-potensi moral dan estetika keberagaman. Ia tidak diam dalam satu dimensi, tetapi ia bergerak melebihi empat dimensi: menjadi multi dimensi sekaligus multi disiplin, dan menyentuh seluruh indera: pendengar, penglihat, peraba, perasa melalui elemen gerak dan suara.

Konsep di balik instalasi yang rapi ini, tak semuanya rapi: ia mempunyai elemen warna yang ragam, yang mampu menjungkit nalar mata kita. Instalasi ini adalah sebuah aksi; bukan sebuah kesimpulan, atau hasil ataupun keadaan. Ia menyiratkan sebuah keyakinan yang ada dalam proses. Tetapi ia justru bermula seakan mematahkan waktu di tengah.

Barangkali, instalasi ini, membuat kita kembali mengingat res-historia – semua yang telah lalu. Seperti para bijak yang mengatakan kepada kita: kita di sini dan saat ini ditentukan oleh sesuatu pada masa lalu. Tapi banyak ingatan terkunci dalam gudang sejarah dan kita sering memilih melarikan diri dengan selalu memandang ke depan.

Tidak ada yang salah dengan semua ini. Semua yang bersifat seni memang menggoda daya cipta kita untuk menafsir. Pun sumpit kayu bekas, dan puntung rokok ini membujuk kita untuk menafsir dengan tafsir yang lain: Jika angin berhembus, apakah sumpit kayu bekas dan puntung rokok ini akan terhuyung-huyung dan seperti terbang di dalam sebuah kosmos yang memang lain?

Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf)

Bukankah semua itu seperti dalam sajak seorang penyair yang kepalanya terbikin dari neraca: sesuatu yang kelak retak. Ya, baragkali memang akan retak – tapi kita akan berusaha untuk membikinnya abadi. Membikinnya selalu utuh, seperti kemenangan-kemenangan dan kekalahan-kekalahan pada diri kita sendiri. Sebab, seperti instalasi ini, Kebhinekaan kita bukanlah yang bersekat-sekat. Ia adalah sebuah proses yang eklektik, bercampur, dan berbaur dengan bebas.

Rug House