A beautiful life deserves a beautiful home
presented by

Tropic Twist (“The Upstair”)

7.18K

Text by Hermawan K, Photography by Fernando Gomulya, Video courtesy of Wahana Architects.


Friday 11 May 2018

Keunikan hunian tidak melulu semata-mata didasarkan pada pendekatan estetika “melawan kelaziman”, tetapi juga bertumpu pada aspek kenyamanan. Seperti yang diterapkan oleh arsitek Rudy KelanaWahana Architects untuk rumah The Upstair.

Tidak seperti rumah pada umumnya, ruang komunal atau semi public justru diletakkan di lantai 2, dan ruang privat berada di lantai dasar. Julukan “The Upstair” yang disematkan untuk hunian ini pun menjadi beralasan.

“Desain rumah ini muncul secara spontan, setelah saya meninjau lokasi dan berbincang dengan klien. Pemilik menginginkan rumah yang nyaman untuk berkumpul dengan teman-teman dan keluarga besar pada akhir pekan, sehingga ruang komunal diletakkan di lantai 2,” papar arsitek Rudy Kelana yang merancang rumah ini. “Sebagian volume ditutup dengan taman, sehingga efek visual yang didapat dari ruang komunal terkesan luas dan berada di tengah-tengah lanskap.”

Rancangan hunian ini menonjolkan nuansa tropis modern yang bersinergi dengan ruang hijau terbuka. “Saya dan klien memiliki visi yang sama untuk membuat rumah ini seperti resor di tengah kota,” ujar Rudy yang terinspirasi dari Glass House karya Philip Johnson.

Pendekatan desain yang dilakukan adalah mengatur pola ruang sesederhana mungkin, saling berinteraksi, terutama antara ruang dalam dan ruang luar, dan juga menciptakan koridor penghubung ruang yang terbuka. Sementara untuk lantai 2, dipilih penerapan ruang komunal yang terbuka dengan pendekatan open plan.

Area outdoor seakan menjadi penerus dari area indoor berupa teras-teras dengan pemakaian material lantai yang sejenis. Untuk pembatas antara outdoor dan indoor, digunakan kaca geser.

Material didominasi oleh kaca dan material dari alam, seperti batu dan kayu untuk menciptakan kesan resor yang alami serta menenangkan. Flooring menggunakan batu andesit dan parket kayu. Sebagian dinding menggunakan acian yang diekspos (tanpa dicat) untuk menghadirkan kesan “mentah”.

Beranjak ke interior, Platform Architects menata sofa di living room dan meja makan untuk mengimbangi ruang arsitektur yang terkesan kosong. “Pada awal desain arsitektur, peletakan furnitur pada interior diarahkan untuk membawa karakter yang sederhana namun lugas,” ungkap Rudy.

Sang arsitek menyebut living room dan ruang makan sebagai favoritnya. “Ruang ini yang menjadi awal dari inspirasi desainnya. Dibuat terbuka dan menyatu dengan teras outdoor serta lanskap.”

Additional Information

Luas bangunan : 680 m2
Luas tanah : 560 m2
Lighting : Infiniti Lighting by David Liming
Jumlah kamar tidur : 6
Jumlah kamar mandi : 6
Jumlah dapur : 2 (1 dapur kotor dan 1 pantry)