Run for Manhattan by Made Wianta

SHARE THIS
2.55K

Published by Sugar & Cream, Wednesday 06 December 2017

Text by Auliya Putri, Images Courtesy of Sugar&Cream

The Ciptadana Art Program, 24 November – 8 December 2017

Ciptadana Art Program punya caranya sendiri untuk lebih bisa memberikan arti bagi sebuah karya. Ditahun ketujuhnya ini, Ciptadana menggandeng maestro seni Indonesia, Made Wianta, untuk menyelenggarakan sebuah pameran tunggal di Ciptadana Art Space. Pameran yang diberi judul ‘Run for Manhattan’ ini telah dibuka untuk umum sampai pada tanggal 8 Desember 2017 nanti. Sebagai bentuk cerita mengenai peristiwa pertukaran Pulau Run di Banda dengan Pulau Manhattan di Amerika Utara, pameran ini memberikan pengalaman baru dalam menikmati 42 karya Made Wianta.
5
Buratwangi Wianta

Sugar&Cream mendapat kesempatan untuk berbincang lebih jauh mengenai sang maestro maupun pameran Run for Manhattan ini dengan keluarga Made Wianta sendiri yaitu Buratwangi Wianta dan Intan Kirana Wianta.

Berikut interview eksklusif tersebut :

Q: Pameran Run for Manhattan seolah menyampaikan mantra misterius yang ingin mengolok sejarah pertukaran Pulau Run dengan Kota Manhattan. Apa latar belakang dan alasan utama Made Wianta menampilkan karya yang berhubungan dengan peristiwa ini?

A: Bapak sudah lama memang tertarik dengan sejarah pertukaran Pulau Run dan Manhattan ini. Di sini Ia seakan menceritakan kembali sejarah ini kepada khalayak umum. Melalui beberapa karya yang sudah ada dari era sebelumnya seperti dari era Karangasem, Dot, Triangle dan seterusnya juga 6 karya baru yang khusus dibuat berlatarkan peristiwa ini. Termasuk karya besar ‘Storm’ ini.
4
Calligraphy in Black and White

Q: Berbicara mengenai lukisan Storm, dengan ukuran yang cukup masif dan berwarna gelap, ada cerita apa dibaliknya?

A: Dalam perjalanan ke Banda bukanlah perjalanan yang dekat maupun mudah. Banyak rintangan yang kami jalani untuk sampai ke sana. Melihat pulau Banda memang diselimuti oleh alam, seakan kami mendarat di sebuah negeri antah berantah. Bapak dalam lukisan ini sangat transparan menceritakan apa yang ia rasakan selama perjalanan tersebut. Bagaimana lika-liku yang ia hadapi juga rasa lelah yang dirasa ketika harus pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk menuju kesana.
3
Storm

Q: Kami melihat Made Wianta sering melakukan pameran di alam terbuka. Kapan terakhir kali Made Wianta mengadakan pameran seperti ini? Apakah ada rencana dalam waktu dekat ini untuk menyelenggarakan pameran di alam terbuka?

A: Tahun 2005 Bapak membuat ‘The Sail’ yang berukuran 6x4x2 meter dengan material bambu dan tali plastik yang semuanya berwarna putih. Karya ini juga merupakan imajinasinya tentang layar-layar kapal yang berangkat menuju Pulau Run untuk mencari Pala. Soal rencana kedepan pasti ada, karena memang Bapak sangat menyukai alam dan akan selalu berada di dalamnya. Jadi tunggu saja, ya, pameran outdoor selanjutnya dari Made Wianta.
2

Q: Seiring berubahnya dunia yang semakin cepat, seni juga memiliki perubahannya sendiri, dan keduanya pun tidak bisa dipungkiri telah saling memengaruhi. Melihat hal ini, apa pendapat Made Wianta dan bagaimana Ia meresponnya dalam berkarya?

A: Ya, Bapak cukup tanggap dengan perubahan dunia yang semakin cepat. Oleh karenanya Bapak sering membuat instalasi berupa video maupun performing art. Karya instalasi video yang digabung dengan performing art seperti yang berjudul ‘SHARP’ (2008). Di dalam karya ini Bapak seakan melakukan protes sosial terhadap kekerasan dan pembantaian yang semakin terjadi.
1
City of Destruction

Q: Sebagai perupa ternama di Indonesia maupun dunia, apa arti dari berkarya dan waktu bagi Made Wianta sendiri? Mengingat revolusi digital apalagi media sosial makin marak di jaman ini. Melihat dunia seni pun sudah ikut bergerak ke arah yang lebih digital. Bagaimana menurut Bapak?

A: Bapak sadar akan revolusi digital, untuk itu soal promosi Ia mensosialisasikan karyanya menggunakan media sosial dengan dibantu oleh putrinya buratwangi. Pernah dalam karya ‘Air Polution’ (2013) Ia menggabungkan seni instalasi dan video. Dimana Ia menggunakan limbah knalpot bekas yang dirangkai pada ujung-ujung pipa, kemudian dari pangkal pipa dialirkan dry ice yg menyerupai kepulan asap knalpot dijalanan. Videonya berisi gambar komunitas sepeda motor yg berhenti di lampu merah, momen ini diambil pada waktu hitungan mundur lampu hijau menyala semua sepeda motor mengeluarkan bunyi yg menimbulkan polusi suara sekaligus udara dari asap knalpot. Bapak sebenarnya tidak banyak membuat video instalasi krn Ia merasa kekuatan dan keindahan karya 2 ataupun 3 dimensi masih mendominasi keinginan manusia. Jadi dalam keseharian Ia masih membuat sketsa, menyusun jarum-jarum dalam karya kontemporernya dengan rasa estetis untuk sebuah penampilan yang apik.

Alexander Lamont