presented by

Plaza Indonesia Fashion Week 2019: Curated Show

SHARE THIS
2.13K

Published by Sugar & Cream, Friday 12 April 2019

Text by Dinda Bestari, image courtesy of Magnifique

Diversity through fashion

Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) Spring/Summer 2019 akhirnya telah selesai. Menuju akhir perhelatan acara ini, PIFW 2019 menyuguhkan enam koleksi desainer terbaik dalam satu tema besar: ‘The Future is Female’. Tidak hanya membawa pesan kalau sosok wanita harus tampil unjuk gigi di bidang apa pun, persembahan koleksi ‘The Future is Female’ juga menampilkan keberagaman pada perempuan.

Enam desainer yang turut andil diantaranya adalah Rama Dauhan, KRATON dan Tangan serta di hari penutupan, dimana  pagelaran busana dari Major Minor, Sean Sheila, dan TOTON yang selalu dinantikan.

Day 1

RAMA DAUHAN
Rama Dauhan tergerak untuk mengangkat kisah perjuangan pelukis wanita asal Jerman, Paula Modersohn Becker yang menunda kehamilannya untuk berkarya. Hadir dengan membawakan tema koleksi Intuisi dimana tema tersebut menjadi benang merah dari koleksi ini. Menghadirkan ragam motif bordir yang terinspirasi dari Rajasthan, Jaipur yang menarik dengan motif merak, sapi, permainan warna dan garis putih.

Menyuguhkan warna-warna yang murni, suci, dan juga kuat seperti putih, ivory, lavender, dan abu-abu muda. Tidak lupa yang menjadi ciri khas Rama Dauhan, mengolaborasi segala jenis bahan seperti katun ramie, katun voal, katun doby, linen, organdi, lace, dan tulle menjadi satu-kesatuan bentuk cantik dan unik yang akan menambah spirit tren mode 2020. Pada koleksi kali ini Rama Dauhan menghadirkan berbagai macam kemeja dengan volum berbeda-beda, dress, celana, rok berdetail unik dan manis, jaket dengan berbagai ukuran, serta jas yang bisa dijadikan outer wear dan dibuat lebih kasual. Juga untuk detail yang mampu menjadi daya tarik sendiri seperti pita, ruffle, renda, patch embroidery, pleats matahari, pleats ombak, dan pleats lipit kecil dari bahan organdi, chiffon, dan tulle. Sentuhan detail kecil pada tiap koleksi siap pakai ini membuat kesan muda yang dikemas dengan sangat cantik.


Presented by Som Santoso

TANGAN
Tangan hadir untuk pertama kalinya di PIFW. Koleksi yang selalu segar, inovasi yang berfokus pada detail raw menjadikan pagelaran Tangan yang paling penuh diantara yang lainnya. Koleksi yang berjudul ‘Shift‘ ini mengeksplorasi berbagai elemen ringan seperti tali dan ragam tekstur sederhana yang keren saat dikenakan. Feminin sekaligus berkarakter kuat. Kami juga bekerja dengan elemen-elemen ringan seperti tali dan beragam tekstur serta mengeksplorasi nuansa warna baru untuk mencapai serangkaian koleksi yang lengkap. Keseluruhan koleksi mencakup 25 tampilan yang terdiri dari 42 buah pakaian. Selain menampilkan koleksi utama, Tangan bekerja sama dengan Lianggono Susanto, seorang seniman dan art director yang menetap di Jakarta, dalam membuat sebuah instalasi yang dapat dinikmati selama sepekan (21 Maret 2019 – 28 Maret 2019). Instalasi tersebut ialah interpretasi dari upaya mengingat hal-hal yang biasa dialami sehari-hari dan perspektif yang kerap berubah dalam cara setiap individu berkaca dan merefleksikan diri.


KRATON
Auguste Soesastro melakukan eksplorasi pada karya terbarunya. Hal tersebut dapat Anda lihat melalui suguhan yang berbeda dari busana-busana yang biasa ia rancang dengan tujuan memberi banyak pilihan kepada klien. Fashion designer yang dibesarkan di Belanda, Amerika, dan Australia ini juga mengungkapkan di balik salah satu koleksi busana Psychedelic Daydreams.  Terinspirasi dari sebuah perjalanan imajiner ke couture Paris tahun 1960-an melalui kilau glamor Studio 54 New York di tahun 1980-an, tanpa menghilangkan napas KRATON itu sendiri.

Koleksi dari KRATON Auguste Soesastro menampilkan susunan eklektik dari pola geometris dan fantasi, warna-warna cerah dan netral, siluet yang berani, dan garis ramping. Dengan tema Psychedelic daydreams yang merupakan eksplorasi eksperimental dalam volume dan pakaian, memungkinkan kebebasan pemakainya untuk acara-acara yang relevan dengan gaya hidup profesional dan sosial abad ke-21. Koleksinya sendiri terdiri dari ready to wear, cocktail dress, dan evening gown yang cocok untuk iklim yang hangat maupun dingin sesuai permintaan pasar internasional KRATON.


Day 2

MAJOR MINOR
Berjudul ‘Equilibrium‘, koleksi Major Minor Fall/Winter 2019 ini menyatukan gaya musim dingin Eropa dengan sisi fungsional yang masuk akal untuk negara tropis Indonesia. Karenanya, koleksi Major Minor Fall/Winter 2019 yang mewakili kombinasi dari era Kolonial Belanda memiliki detail potongan pakaian, struktur pakaian, pola, hingga detail. Dengan itu, melalui struktur dan pola yang ditentukan, Major Minor juga hadir untuk merayakan pemberdayaan perempuan. Inspirasi koleksi Fall/Winter 2019 ini, juga merayakan mode dengan fungsi dilihat dari siluet pakaian yang memiliki aspek maskulin untuk menghadirkan kenyamanan, selain itu koleksi ini juga memiliki detail feminin. Setiap tampilan dalam koleksi, sebanyak 31 pakaian, cocok untuk dipadu padankan dapat dikombinasikan satu sama lain sesuai dengan gaya pribadi Anda. Koleksi Major Minor tidak hanya mewakili pakaian sehari-hari, tetapi pakaiannya juga sesuai dengan waktu kapan pun, dengan setiap kesempatan. Tujuan Major Minor tahun ini untuk mewakili keseimbangan, tetapi juga untuk mewakili kekuatan.

SEAN SHEILA
Menghadirkan koleksi Fall/Winter 2019 yang bertema Apocalypse in Slow Motion. Sebuah koleksi yang terinspirasi dari polusi dan sampah yang mencemari laut. Sean Sheila telah lama dikenal dengan komitmen dalam merancang mengusung konsep sustainable fashion. Dari awal, Sean Loh dan Sheila Agatha sebagai pendiri dan desainer dari Sean Sheila ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan melalui fashion. Alih-alih mengandalkan bordir, yang telah menjadi signature label ini, Sean Sheila memilih untuk fokus pada menjahit dan mendekonstruksi. Kolaborasi unsur futuristis dengan berbagai material termasuk plastik, label ini menghadirkan pakaian siap pakai serta sportswear dengan potongan asimetris-dekonstruksi. Tetap mengedepankan unsur desain siap pakai, rancangan pasangan suami istri ini memiliki ciri khas kontras namun tetap menampilkan kesan anggun. Sean Sheila juga merancang pakaian edgy yet sophisticated, namun terlihat romantis dan juga memperlihatkan identitas perempuan modern dalam konsep keseluruhan “The Future is Female”.

TOTON
Menjadi penutup dari rangkaian PIFW SS19, koleksi Toton selalu ditunggu-tunngu kehadirannya. Toton membawa tema “Sensualitas”. Hal ini sebagai bentuk protes Toton terhadap apa yang terjadi atau anggapan terhadap perempuan saat ini, khususnya cara berpakaian. Yang sering kali cara berpakaian perempuan dianggap sebagai “biang” terjadinya hal-hal buruk yang menimpa perempuan. Koleksi ini mengeksplorasi otonomi keinginan dan pengalaman perempuan.

Toton Januar tidak pernah berhenti membuat takjub dengan menjadikan warisan Indonesia kontemporer. Musim ini, desainer kelahiran Makassar menawarkan visi kekuatan luhur lainnya melalui tatapan perempuan, yang dipinjam dari pakaian tradisional.

Dengan warna-warna lembut seperti krim, blush on, koral, mint, dan biru cangkang — banyak warna datang bersama-sama untuk menciptakan penampilan yang halus. Ada sentuhan neon, terutama pleats pada rok, tas dan sepatu berbulu, dan anting-anting dan kalung PVC bermanik-manik. Januar juga merancang sarung tangan yang cocok dan hiasan kepala unik dalam berbentuk kerudung dan balaclava. Sedangkan untuk detail siluet, Toton menekankan pada area bahu dengan bahan tulle, organsa, wol, dan denim yang diolah kembali.

MOIRE Rugs