MANDIRI ART JOG 9 – Quo Vadis Indonesia Contemporary Art

SHARE THIS
1.77K

Published by Sugar & Cream, Monday 27 June 2016

Text by Mikke Susanto, Photography Courtesy of ART JOG

Baru saja peristiwa seni penting terjadi di bulan Juni tahun ini usai. Gelaran ini diberi tajuk “Mandiri ArtIJog 9: Universal Influence”. Perlu diketahui, Art Jog telah menjadi agenda seni rupa kontemporer yang ditunggu oleh banyak kalangan, baik lokal, nasional, hingga regional Asia Pasifik.
9
Venzha – “Indonesia Space Science Society”

Art Jog kali ini ingin menegaskan sebagai progam untuk menghormati mereka para perupa kontemporer Indonesia. Mereka adalah para perupa yang telah eksis, menjadi bagian di dalam agenda seni rupa internasional, utamanya di kawasan Asia Pasifik, baik yang telah berlangsung pada 1990-an hingga saat ini. Maka wajar, bila Art Jog kali ini tidak melakukan sistem perekrutan peserta secara terbuka. Panitia lebih mengutamakan para perupa yang diseleksi secara tertutup.
5
Takashi Kuribayasi – “We have decided not to die”

Lebih kurang program kali ini adalah perayaan peran para perupa Indonesia yang telah melakukan sosialisasi eksistensi sejak 20an tahun terakhir. Angka 9, diajukan oleh panitia sebagai angka tertinggi. Konon angka 10, secara spiritual, hanya dimiliki oleh Sang Maha Pencipta. Baru angka 9 menjadi milik manusia, mereka para pencipta (p kecil).
8
Rudi Mantofani – “Dunia dan Bumi”

Menariknya, Art Jog kali ini menempati ruang baru. Ruang ini tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Hingga 4 bulan sebelum agenda ini digelar, belum juga diputuskan. Pada program pertama hingga ke-8, mereka menempati Taman Budaya Yogyakarta sebagai ruang pamer, sehingga ruang tersebut menjadi ikon bagi Art Jog. Kini, mereka menempati ruang baru, Jogja National Museum.
4
Faisal Habibi – “This Thing #14”

Sebab musababnya agak kompleks dan tidak mudah diterangkan. Menurut Heri Pemad, CEO Art Jog, ada kesalahpahaman pihak Taman Budaya. Pada sisi lain, Taman Budaya merasa ada ketidaklengkapan prosedur sehingga Art Jog 9 tidak bisa digelar di tempat biasanya.
1
Anusapati – “Family Bowls”

Perpindahan ini mengundang berbagai persepsi. Ada yang mengatakan pihak Taman Budaya tidak sungguh-sungguh mendukung program yang kini telah on the map dalam perkembangan seni rupa kontemporer Asia. Ada pula gosip yang menyatakan bahwa Art Jog diterpa “gangguan” agar tidak terus terlaksana (di Taman Budaya). Intinya agar Art Jog tidak usah terlalu lama berdengung di telinga publik.
7
Djoko Pekik – “Sirkus Adu Badak”

Bukan itu saja, baru saja terjadi protes menerpa Art Jog 9. Hal ini dipicu oleh hadirnya logo PT. Freeport yang masuk dalam barisan sponsor Art Jog. Hal ini menyebabkan sebagian kecil perupa menyatakan kritik terhadap kehadiran dan peran Freeport yang dinilai tidak patut berada di Art Jog. Gelombang protes ini diakhiri dengan demonstrasi Aliansi Boikot Art Jog yang ramai di jalanan (16 Juni 2016), hingga di media sosial.
6
Indieguerillas – “I’m Feeling Lucky”

Isu dan realitas semacam ini rasanya justru meramaikan peran Art Jog. Program yang telah menjadi agenda tahunan ini banyak dirasakan sebagai penanda perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Jika selama 20 tahun terakhir, galeri maupun personal (perupa) menjadi penanda perkembangan, kini pameran semi art fair semacam Art Jog-lah yang memegang kendali.
10
Agus Suwage – “New Old Style”

Dengan bergulirnya gosip dan isu, baik tentang perpindahan venue maupun protes perupa, maka Art Jog menjadi pemegang peran sekaligus korban. Pada tataran eksistensial, Art Jog memiliki nilai sebagai leading sector yang menandai perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, karena ia menjadi penanda, maka sedikit saja melakukan terobosan yang dinilai kurang berkenan di mata publik, maka Art Jog menjadi sasaran kemarahan, korban.
2
Agan Harahap – “The Reminiscence Wall”

Mungkin ada baiknya kita telusuri salah satu karya yang digelar pada ArtJog 9 ini. Karya Venzha Christ (v.u.f.o.c – HONF Foundation) berjudul ISSS (Indonesian Space Science Society) sangat pas menjadi metafora atas eksistensi Art Jog itu sendiri. Karya yang ditandai dengan menara setinggi 32 meter, dilengkapi instrumen penangkap signal dan frekuensi ini seperti merangkul berbagai khasanah, utamanya seni, teknologi, astronomi.
3
Titaruby

Karya ini ingin menjangkau sesuatu yang jauh, sampai ruang angkasa. Menara ini layaknya Art Jog yang menjadi mercusuar, tengah berkibar, dan meninggi. Di satu sisi ingin terus mengapai kemungkinan yang tak berhingga, namun di sisi lain ia butuh penopang: sumber daya manusia, sumber dana maupun kebutuhan teknis lainnya. Artinya semakin tinggi eksistensi Art Jog, semakin besar pula persoalan dan gangguan yang melingkupinya.11
FX Harsono – “Undisclose Identity”

Seni rupa kontemporer memang tidak hanya menggali dan berkutat tentang apa itu seni, tetapi yang harus dipikirkan oleh stakeholder di dalamnya adalah sejauh mana kita mampu merangkul dan merajut isu dan persoalan yang kini dihadapi masyarakat. Venue, dana, karya bahkan politik dan pasar bukan persoalan yang terpisah.

Semua elemen dalam seni rupa kontemporer digerakkan oleh sesuatu yang mungkin tidak pernah kita sangka. Seperti halnya jagat raya kita: luas tak terjangkau dan menawarkan ketakberhinggaan. Semuanya, menumbuhkan rasa penasaran dan keingintahuan manusia terhadap alam semesta. Demikian pula seni kontemporer, melalui Art Jog ini, memang tak bisa diduga-duga. Quo vadis seni rupa kontemporer Indonesia.  (MS)