A beautiful life deserves a beautiful home

DEEROEMAH

4.98K

Text by Marcel Thee, Photography by Fernando Gomulya.


Tuesday 09 August 2016

Terletak di lokasi yang sederhana di bilangan Jakarta Selatan, DeeRoemah (atau DeeHouse) adalah sebuah projek arsitektur dengan konsep stylish modesty. Dirancang dan dilaksanakan oleh Wahana Architects, rumah berukuran 196m2 diatas lahan 280m2  ini mempresentasikan sebuah simplisitas modis yang berkarakter tanpa berusaha meledak-ledak dengan kemewahan yang biasanya ditemukan dalam arsitektur modern.

Architect's Sketch

DeeHouse atau DeeRoemah, yang mendapatkan namanya dari nama sang pemilik, Dee, dibangun dengan mengembangkan lahan dan bangunan berbentuk L yang sudah lebih dulu ada. Gol utama pengembang adalah untuk memodifikasi ruangan yang ada agar menjadi sebuah kesatuan alami dengan lingkungan sekitarnya; nuansa alam hijau yang masih menghembuskan napas urban ibukota.

Front facade with the existing trees

Bagi Gerard Tambunan dari Wahana Architects, desain DeeRoemah merupakan wujud dari penafsiran akan keadaan yang berada di sekelilingnya.

“Arsitek selalu berusaha peka terhadap lingkungan dan potensi site disetiap desainnya,” jelas Gerard, “Pada rumah ini lingkungan perumahan yang sederhana dan eksisting pohon sekitar bangunan baik diluar maupun didalam site menjadi ketertarikan emosi spontan bagi arsitek. Selain itu pengenalan secara mendalam karakter klien sebagai acuan penuntun emosi desain.”

Ambience at night, front facade

Menurut Gerard, kemudahan juga disediakan oleh sang pemilik, yang menyediakan “kepercayaan total selama proses desain”.

Finishing bertekstur semen merupakan nuansa dasar dari DeeHouse, dengan campuran elemen-elemen kayu di muka bangunan dan logam metalik di beberapa bidang, termasuk tangga luar. Tumbuhan-tumbuhan gantung yang menghiasi beberapa bagian rumah memberikan ilusi ketinggian rumah, sedangkan sebuah kebun berkontur juga dibentuk untuk menambahkan kesan “empuk” bagi bangunan tersebut.

Front perspective view with 'Kampong' neighborhood

“Arsitek selalu berusaha peka terhadap lingkungan dan potensi site disetiap desainnya. Pada rumah ini lingkungan perumahan yang sederhana dan eksisting pohon sekitar bangunan baik diluar maupun didalam site menjadi ketertarikan emosi spontan bagi arsitek. Selain itu pengenalan secara mendalam karakter klien sebagai acuan penuntun emosi desain.”

Gerard Tambunan

Re-used wooden panel as sun shading and merge the building with its surrounding

Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur semua terletak di lantai satu DeeHouse. Dengan pembatas-pembatas ruang yang transparan, ruangan-ruangan tersebut terasa leluasa dan menyatu dengan taman rumah yang dipenuhi dengan tanaman dan pohon-pohon yang selain menghadirkan kesejukan estetika, juga bertugas mengaburkan batas antara ruang luar dan dalam.

Terrace and the courtyard

Sehubungan dengan itu, dua ruang tidur yang terletak di lantai satu juga berhadapan langsung dengan pemandangan nyaman halaman kecil.

Gerard menjelaskan, “Konsep yang ingin di wujudkan adalah desain renovasi rumah eksisting pada site menjadi rumah yang lebih sederhana (low maintenance) dari pengalaman rumah lama owner dan tidak mencolok dari lingkungan sekitar dengan batasan nominal budget dr owner. Memaksimalkan daya tarik ruang luar (eksisting lansekap) menjadi kesatuan dengan ruang dalam merupakan fokus dari konsep yang ingin diciptakan.”

The Glass doors brighten up the house throughout the day

Dengan akses khusus via tangga spiral diluar, ruangan kantor semi-outdoor di lantai dua juga dibangun dengan imagi “terbuka” tersebut, dikelilingi dengan gelas-gelas kaca yang menghadap ke kebun dan teras dibawah. Sebuah bidang kayu tembus pandang, yang merupakan hasil pengolahan ulang, diposisikan secara diagonal untuk menyediakan sisi teduh dan memberikan akses “kampung” sederhana yang ingin ditawarkan. Di sisi lain, bidang kayu tersebut juga menyamarkan kegiatan di dalam ruangan agar terlihat tidak terlalu jelas dari luar.

Glass to blur the boundary between inside and outside area

Kesederhanaan yang diberikan oleh elemen-elemen tumbuhan dan kayu juga memastikan kesinambungan rumah tersebut dengan daerah di sekitarnya.

Bagi Gerard dan tim-nya, kebahagian yang diungkapkan oleh sang pemilik, menunjukan keberhasilan desain mereka.

Glass to blur the boundary between inside and outside area
Master Bedroom

“Rasa bahagia dan kepuasan mendesain rumah yang paling cocok dengan karakter owner sampai pada akhirnya owner mengatakan ‘rumah ini gue banget!’ setelah ditempati. Karena hal tersebut merupakan energi positif bagi arsitek, klien dan seluruh tim yang terlibat didalam proses pelaksanaan pembangunan rumah tersebut. Terutama akan melatih kepekaan arsitek secara utuh dan kesatuan disetiap proses mendesain.”

Re-used wooden panel as sun shading device for the upper floor area

General Info :

Site Area : 280 m2
House : 196 m2
Landscape Area : 104 m2
Principal Architect : Gerard Tambunan
Architect Firm : Wahana Architects
Contractor : Wahana Cipta Selaras
Lighting : by Liam Sak Khian
Floors : Granito
Roof : Re-used Clay roof of The existing house
Façade : Re-used Teak wood from the waste of local furniture factory
Furniture : Ethnicraft, Accupunto and IKEA
Paint : Mowilex Paint
Sanitair : Toto

Office Area and planter box as railing, upper floor
Office Area, upper floor
Before & After
Floor Plan